Jumat, 29 Januari 2010

17. " KEBETULAN " YANG MEMBERIKAN INSPIRASI " Mencari Ibu yang hilang

Alhamdulillah, perjalanan malam yang ditempuh dari Mekah ke Medinah sejauh 470 km selesai sudah. Walau badan terasa penat dan pegal namun kami diingatkan bahwa setelah kopor ditempatkan dikamar masing-masing dilantai 8 Hotel Al Dallah. kami semua akan langsung berangkat ke Mesjid Nabawi. Jadi tidak ada waktu untuk istirahat bersantai, komo bari gogoleran heula mah apalagi untuk berbaring dulu.

Semua kumpul di lobby hotel, sedikit morning assembly informasi singkat dari pimpinan rombongan, bahwa di Medinah harus berhati-hati banyak sekali godaan-godaan. Perhatikan areal yang dilewati agar tidak tersesat kembali ke hotel. Di mesjid, kaum hawa mendapat tempat tersendiri untuk sholat. Jadi akan berpisah dengan bapak-bapak.

Brrr, cuaca dingin sekali anginpun bertiup kencang, suhu udara sekitar 27 derajat celcius. Kami berjalan bersama ngaleut ngeungkeuy ngabandaleut, ber-iring-iringan melalui jalan kecil disela-sela pertokoan. Lalu tiba dijalan yang kiri kanannya sedang dalam taraf pembangunan, truk-truk besar, buldozer nampak disana. Tempat ini 4 tahun berselang sudah menjadi tempat wudhu Mesjid Nabawi.

Tiba diareal luar mesjid, ibu-ibu berpisah masuk ke pintu gerbang tempat yang disediakan khusus untuk sholat kaum wanita. Istri saya seperti biasa menggandeng Ibu Hj Iros masuk kedalam mesjid. Saya beserta teman-teman menuju gerbang yang lainnya, memilih tempat agak kedalam.

Tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah SWT, kini kami sudah berada didalam mesjid yang begitu megah dengan luas 98.000 m2. Dimusim haji ini dapat menampung 1 juta jama'ah. Didalam mesjid, banyak lampu kristal pilihan yang tidak membiaskan panas sangat cantik. Dalam "Buku Pintar Haji HM Iwan Gayo" ada 674 lampu kristal, terdiri dari 3 macam ukuran, diameternya 1,20-1,40 dan 3,42 meter. Beratnya 125 kg, 145 kg, dan 485 kg.
Euleuh-euleuh kumaha mun murag?. Aduh bagaimana kalau jatuh? lampu sebegitu beratnya tergantung dilangit-langit mesjid. Hati berdecak kagum dan ingin lebih banyak tahu tentang mesjid ini. Masih ada 7 hari lagi disini, cukuplah nanti untuk menjelajah keseluruhan areal.

Shalat subuh terasa khusyuk, suara imam mesjid begitu nikmat terdengar. Do'a dan dzikir menimbulkan gelombang suara laksana ribuan lebah berdengung. Ingin berlama-lama disini namun saya diingatkan teman agar segera keluar mesjid untuk bersama kembali ke hotel.

Diluar sana kami berkumpul, menunggu teman lain yang belum datang. Lebih seperempat jam menunggu, ada seorang yang belum nampak hadir, ialah Ibu Hj Iros.
Istri saya terlihat paling gelisah, terus menengok kepintu keluar mesjid menanti kedatangannya. Tunggu ditunggu tak hadir juga, pimpinan rombongan memutuskan untuk kembali ke hotel. Bagaimana dengan Ibu Iros? haruskah dia ditinggalkan sendiri di mesjid atau dimana?
Istri saya berbisik " Tadi waktu keluar mesjid bersama-sama ada disebelah kiri, kamana atuh nya si Ema teh? " . Ibu Hj Mis Rachmiati, menjelaskan Ibu Iros balik kembali kedalam mesjid karena sandalnya tertinggal. Siapakah Ibu Hj Iros ini?.

Ibu Hj Iros Roswati dari Kujang Sari Buah Batu, berangkat menunaikan ibadah haji tanpa didamping sanak saudara. Berawal dari permintaan idzin istri kepada saya ketika tiba di Mekkah, bahwa ingin mendampinginya selama di tanah suci. Saya setuju atas keinginan istri sehingga diatur agar beliau tidur sekamar dengan istri saya.

Mula pertama terasa gerak langkah kami terhalang dengan hadirnya Ibu Iros. Namun selanjutnya menjadi terbiasa, malah kami mendapat hikmah selama mengikuti ibadah haji tidak tergesa-gesa, tumaninah.

Saya dan istri punya latar belakang yang hampir sama, ayah meninggal saat kami duduk dibangku SD, kami dibesarkan oleh ibu dengan penuh kasih sayang. Perjuangan ibu dalam membesarkan putra-putri menghantar semua anak-anaknya mencapai pendidikan tinggi, bekerja dan berumah tangga. Dengan demikian baru dapat melaksanakan ibadah haji pada usia lanjut, seusia Ibu H Iros.

Selama menjalankan ibadah haji, kami saja yang masih muda merasakan betapa ibadah ini memerlukan konsentrasi dan fisik yang sehat. Bagaimana dulu ibu kami menjalankannya tanpa pendamping?
Subhanallaah, mereka telah dilindungi Allah SWT tentunya. Usai berhaji, ibu saya, ibu mertua dipanggil sang Khalik.
Sosok Ibu H Iros, menjadi inspirasi bagi kami berdua untuk mengenang kembali orang tua yang telah membesarkan kami dan kini telah tiada. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosanya.Amiin.

Tiba dilantai 8 hotel tempat kami menginap, semua berkumpul didepan koridor, tidak ada yang masuk kedalam kamar, recok pating kumaha , semua membicarakan Ibu Iros yang kini hilang. Semua tampak tegang sementara wajah memancarkan kelelahan...

Terbersit dalam hati, sekilas timbullah kekuatan didalam bathinku. " Ada yang hilang! apa yang harus dilakukan? ya harus dicari! " Saya merasa harus mencarinya, walau kota Medinah ini masih asing dimata saya, namun kalau seputar areal mesjid mungkin, insyaallah saya ingin mencarinya!

Saya mohon idzin kepada Bapak H Djaja Zakaria untuk mencarinya. Tampak sekilas raut wajahnya meragukan keinginan saya untuk mencari ibu Iros. Namun beliau memberikan idzin kepada saya dengan pesan agar berhati-hati. Teman yang lain memandang cemas kepada saya, termasuk istri yang tampak pasrah mendengar keinginan saya menjadi "Team SAR". Eh tidak ada team disini, saya sendiri saja anggota Search And Rescue .

Turun ke lobby menggunakan lift, mendapatkan banyak jemaah yang baru datang dari Mekah. Disini saya mulai mencari Ibu Iros disela orang-orang. Dari depan lift menuju front desk, ke restaurant sampai ke toilet. Disini saya agak lama menunggu yang keluar dari toilet wanita, barangkali saja kalau Ibu Iros ada didalamnya. Ada seorang ibu terheran-heran melihat saya, "nangkring" didekat pintu toilet, dikira mau masuk ke toilet wanita.

Akhirnya saya menuju ke pintu keluar, tiba saatnya pergi ke mesjid Nabawi! Terasa ada yang menepuk bahu dari belakang.

Karena dari tadi konsentrasi kepada Ibu Iros, saya mengira dia yang menepuk bahu. Ternyata bukan, dia Bapak H Mamat urang Majalaya.
" Abdi ngiring milarian "
Alhamdulillah dia menemani saya sekarang.

Sambil berjalan ke mesjid, kami berbagi tugas, saya mengawasi arah sebelah kanan, Kang H Mamat sebelah kiri dari semua jamaah yang berpapasan berlawanan arah.
Pusing juga terus menerus memperhatikan orang-orang.

Di areal mesjid Nabawi kami menuju gerbang masuk untuk kaum wanita, namun dihalangi askar, tidak boleh mendekat pintu masuk, walau saya berusaha menjelaskan dengan bahasa isyarat, tetap ditolak. " No! " katanya keukeuh.

Kami berbagi areal pencaharian, saya kekiri Kang H Mamat kekanan mengitari mesjid yang sangat luas ini, nanti pasti bakal paamprok deui, siiplah. Berjalan terus sambil memperhatikan sosok ibu yang kira-kira sami lintuhna sama gemuknya dengan " target yang dicari ".
Sekian waktu berlalu dan kami berdua berkumpul lagi tidak berhasil menemukan Ibu Iros.

Sejenak saya berdo'a kepada Allah SWT mohon dapat menemukannya dalam keadaan selamat. Ditanah suci ini berulang kejadian hilangnya jama'ah, baik tua maupun yang masih muda. Sering dijumpai selebaran orang hilang ditempel didinding diluar mesjid.

Allaahumma laa sahla illaa maa ja'altahu sahlaan wa anta taj'alul hazana idzaa syita sahla. Ya Allah, tiada yang mudah selain yang Kau mudahkan dan Engkau jadikan kesusahan itu mudah jika Engkau menghendakinya jadi mudah. HR Ibnu Hibban.

Allaahumma yassir wa laa tu'assir. Ya Allah mudahkanlah dan jangan Kau sulitkan.

Nun jauh disebelah selatan dibawah tiang listrik, terpekur seorang ibu sendiri ditengah hilir mudik jama'ah yang melewatinya.
" Maa !!! " saya berteriak kepadanya. Dia menoleh kearah saya. Benar dia Ibu Iros. Saya berjalan cepat menghampirinya dengan tangan terbuka lebar-lebar. Ibu Iros berdiri perlahan-lahan berjalan kearah saya. Laksana " slow motion " di film Indihe, berpelukan. Ibu Iros menangis sayapun terbawa emosi menangis pula. Kang H Mamat mengingatkan untuk segera pulang.

Perlahan-lahan kami berjalan pulang menuju hotel Al Dallah, Ibu Iros memegang tangan saya berkali-kali menyeka air mata dengan handuk kecilnya. Tiba di hotel kami disambut gembira, teman-teman keluar dari kamarnya masing-masing , sadayana galecok , semua bergenbira, alhamdulillah.

Namun tidak demikian dengan pimpinan kami Bapak H Djaja Zakaria, beliau marah kepada Ibu Hj Iros, bahwa dari awal sudah dikatakan harus hati-hati! harus hati-hati!
Astaghfirullahaladziim, semua terpana mendengar beliau marah. Sejak kami mengikuti bimbingan haji, beliau senantiasa berbicara lemah lembut, sering melontarkan humor. Namun sekarang?

Ustadz juga manusia!, walau saya kecewa atas sikap beliau, namun saya melihat dari sisi lain, sosok tua yang membimbing kami ditanah suci tentu lelah dengan tanggung jawabnya yang besar, kami akui perjalanan haji ini mendapat kelancaran, dari hal transportasi dan akomodasi yang lainnya, Saya pribadi memakluminya.
Ibu Hj Iros menangis lagi terisak-isak, dibimbing istri ke kamar untuk istirahat....

" Hasbunal-laahu wa ni'mal wakiil " cukuplah Allah sebagai Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

Kamis, 28 Januari 2010

16. " KEBETULAN " YANG MENIMBULKAN FLUKTUASI EMOSI Good bye holly mosque

Tibalah saatnya meninggalkan kota Mekkah, saya yang tergabung dari kloter66 KBIH El Najah Bandung, esok hari akan pergi menuju kota Medinah. Sabtu malam ada briefing dari pimpinan rombongan, agar semua menghemat tenaga. Dianjurkan ibu-ibu nanti subuh tidak pergi ke Masjidil Haram. Namun bagi bapak-bapak silahkan saja kalau mau thawah dihari terakhir.

Ingat betul saat itu istri berkata : " Pa bisi panasaran, sok we papa ka mesjid, sugan ari teu jeung mamah tiasa dugi ka Hajar Aswad " . Saya merasa diberi semangat agar melaksanakan thawah, barangkali bisa mencapai Hajar Aswad.

Hajar Aswad, batu hitam terletak disudut sebelah tenggara Ka'bah, yaitu sudut dari mana thawaf dimulai. Sejenis batu rugby ini, menjadi tujuan bagi sebagian jama'ah yang tengah melaksanakan thawaf, rela berdesak-desakkan untuk menyentuh dan menciumnya. Kami diingatkan oleh pimpinan rombongan sejak masih di Indonesia, bahwa mencium Hazar Aswad hukumnya sunnah. Jangan memaksakan diri untuk mencapainya. Namun jujur saja saya ingin tahu dan mencapainya.

Jam 02.00 saya langsung pergi ke mesjid tanpa mampir dulu ke kamar istri. Angin dingin menerpa wajah saat keluar dari penginapan, tidak mengurungkan niat untuk pergi ke mesjid.
Di Masjidil Haram dini hari seperti ini, sudah banyak jama'ah yang melaksanakan thawaf. Bismillaahi wallaahu akbaar, saya mulai melaksanakan putaran yang pertama, lalu dilanjutkan putaran kedua.

Dalam hati saya memohon kepada Allah SWT, isin-isin oge nyuhunkeun tiasa dugi ka Hajar Aswad. Saya merasa malu mengungkapkannya, namun ini barangkali kesempatan yang terakhir.

Pada putaran ketiga sekitar rukun Yamani saya "ditegur" seseorang, budak ngora kulitna bodas jangkung kasep anak muda berkulit putih tinggi : " Do you want Hajar Aswad ? ". Saya menganggukan kepala kepadanya.
Lengan atas saya tiba-tiba dicengkram kuat, membuat saya meringis kesakitan. Dengan cepat dia mendorong saya kearah Hajar Aswad.

Subhanallaah, jemaah yang begitu padat memberi jalan seraya memandang saya. Ini membuat timbul rasa malu pada diri saya.
Singkat sekali rasanya saya sudah berada persis didepan Hajar Aswad. "Please" telapak tangan kanannya mempersilahkan saya untuk menyentuh batu hitam yang punya nilai history tinggi bagi umat Islam. Saat itu saya tidak mencium batu, cukup menyentuhnya. Anak muda itu tersenyum dan menarik kembali saya kebelakang. Hajar Aswad segera diserbu lagi oleh jama'ah yang lain.

Setelah ditarik mundur, sekarang ngadengkek ku kelekna . Aduuh dia melingkarkan tangannya ke leher saya, persis diketiaknya, tapi da teu bau kelek saya tidak merasakan bau keringat, harum yang terasa. Jauh dari Hajar Aswad, saya "dilepaskan" dan dia memberi senyuman yang sangat "dalam".
Saya ingin menyalami dan memberikan ucapan terima kasih, anak muda sudah menghilang larut dalam pusaran jama'ah.

Saya terus mengikuti arus sambil menepi. Sampailah dibagian terluar pusaran, mengambil tempat untuk sholat sunnah ba'da thawaf. Allahu Akbar
Saat inilah saya dilingkari 3 orang asykar yang tinggi besar. Seorang berdiri dikiri dan kanan saya, seorang lagi didepan saya.

Berdegup jantung hati saya dan segera beristighfar, mata dipejamkan sejenak untuk mendapatkan ke-khusyuk-an dalam sholat. Alhamdulillah hati terasa tenang, bacaan iftitah dalam hati selesai, berlanjut ke Al Fatihah dan Al Insyroh, membaca 2 surah ini digerendengkeun diucapkan tidak terlalu keras namun jelas. Pada raka'at ke dua surahnya Al Takaatsur.

Saat mengucapkan salam, menengok kekiri dan kekanan, saya terkejut karena dikiri dan kanan tidak ada lagi jama'ah sholat, karena yang melaksanakan thawaf sudah semakin melebar. Saya tahu diri, siap-siap bangkit berdiri, namun pundak saya disentuh asykar yang sebelah kanan dan
dia mengisyaratkan agar saya tetap duduk.

Subhanallah, saya diberi kesempatan untuk membaca do'a setelah sholat sunnah thawaf. Sementara 3 asykar berdiri sambil "ngobrol" seakan-akan menjaga saya dari libasan jama'ah yang sedang melaksanakan thawah, Jama'ah ada yang berlari dibelakang saya.

Selesai berdo'a segera saya berdiri, merekapun pergi. Seorang asykar menengok dulu kearah saya dan tersenyum. Sungguh saya merasa mendapat keni'matan luar biasa sekaligus merasa selama ini begitu banyak karunia, kenikmatan yang diterima namun saya tak mensyukurinya.

Dalam surah Ar Rahman :" Fabi-ay-yi-aalaa-i-rab-bikumaa tukadzdzibaan ". Lalu karunia Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kamu dustakan? berulang-ulang sampai 31 X.

Setelah sholat subuh, berat hati meninggalkan Ka'bah. Entah kapan saya dan istri dapat kembali kesini? air mata tak dapat ditahan saat meninggalkan Masjidil Haram.

Hati berbunga-bunga saat memasuki penginapan. bagaikan anak kecil yang mendapatkan mainan yang diinginkan, saya bergegas menaiki tangga menuju lantai 1, belok kanan menelusuri koridor, sampailah didepan pintu kamar istri saya.

Tok-tok-tok!. " Mah. mamah " , sejenak diam tak ada jawaban.
Tok-tok-tok! sekali lagi saya panggil istri saya lebih keras.
Pintu terbuka, Istri berdiri didepan pintu dengan sorot mata penuh amarah dan berteriak lantang : " Papap egois, hanya ngurus kesenangan sendiri! ".

Enyaan reuwas kacida! sungguh saya sangat terkejut luar biasa mendapat sergahan seperti ini.
Aya naon mah bet ngambek kitu ka papah? Saya bertanya perlahan kepadanya mengapa marah-marah ?.
" Kunaon teu ngajak thawaf? " mengapa tak mengajak thawaf?
Haar itu geura, kemarin begitu jelas dia yang mempersilahkan saya agar berangkat sendiri ke Masjidil Haram tanpa dia, agar saya dapat mencapai Hajar Aswad. Jelas kan seidzin mamah?

Tapi keadaan berubah, teman sekamarnya semua pergi bersama suami-suaminya . Ibu Iros selama ini kami jaga, pergi pula bersama ibu yang lainnya. Apakah ibu Iros tidak mengajak istri saya thawaf? atau sebenarnya istri saya diajak, namun tidak mau?
Saya yakin istri saya diajak, namun mungkin karena tidak ada saya sebagai suaminya, dia tidak bisa pergi. Selama kalau hendak bepergian selalu minta idzin dulu.

" Janganlah seorang wanita bepergian sejauh perjalanan dalam dua hari, jika tidak bersama suami atau muhrimnya ". ( HR Bukhari )

" Tah panto dihalangan ku ranjang, mamah teh sieun! ". Benar yang dikatakan, pintu kamar tadi diberi penghalang, sebuah tempat tidur!.

Saya " mengeluh " dalam-dalam. Ya Allah hari ini rasanya hati saya dibolak-balik, tadi kesulitan saat berjuang mencapai Hajar Aswad, lalu datang sang penolong hingga akhirnya tercapai batu hitam itu, sungguh hati merasa gembira.

Hati gembira terhenti karena terkejut dilingkari 3 orang asykar, sampai jantung berdegup keras, ada kesalahan apa saya ini ditunggu asykar?. Setelah terkejut ternyata saya " mendapat karunia " melaksanakan sholat sunnah thawah dalam keadaan aman dijaga askar.
Setelah "mendapat karunia" di maktab disambut amarah.
Kalau The last experience in hollytown Mecca ini dibuat grafik.... , akan tampak "fluktuasi" emosi saya.

Saya menarik nafas dalam-dalam, apakah fluktuasi emosi ini menggambarkan bahwa dalam kehidupan : ada suka dan duka, ada bahagia dan kesedihan, ada senyum dan marah.

Rabu, 27 Januari 2010

15. " KEBETULAN " YANG MENGINGATKAN JANGAN MENILAI KEKURANGAN ORANG LAIN " Kaki berkoreng

Selama tinggal di Mina, saya melaksanakan lagi sholat maghrib di mesjid Al Khaif pada hari berikutnya. Mengherankan pada hari yang kedua, hal negatif terulang lagi, tapi beda versi. Kalau hari kemarin mendapat tissu berdahak, hari ini lain lagi. Saya tulis disini ya..

Saat menunggu iqomah, saya bersyukur kepada Allah SWT, dapat melaksanakan ibadah haji dalam keadaan sehat, pada umur belum udzur. Di tanah suci ini banyak jemaa'ah berusia lanjut, datang dari berbagai negara, mengikuti pelaksanaan ibadah dengan susah payah. Namun wajahnya tampak sabar.
Disebelah kiri duduk bapak tua yang rambutnya sudah memutih. Tasbeh ditangan keriput satu demi satu bergeser pertanda sedang dzikir. Kaki lurus berselonjor diatas sajadah yang lusuh.

Teringat lagu Bimbo yang dinyanyikan Acil, lyriknya mempunyai mak'na yang luar biasa :

" Ada sajadah panjang terbentang, dari kaki buaian
sampai ketepi kuburan hamba, kuburan hamba bila mati
Ada sajadah panjang terbentang, hamba ruku dan sujud
hamba ruku tak lepas kening hamba, mengingat Dikau sepenuhnya....

Benar seperti syair diatas, ibaratnya bapak tua disebelah saya ini, mungkin tak terhitung (sebenarnya tak harus dihitung) sudah berapa ratus ribu kali melaksanakan kewajiban sholat diatas sajadahnya? , sejak muda belia sampai setua ini, sampai ajal menjelang menjemput. Sudah berapa banyak sajadah dipakai sholat?

Sajadah lusuh menjadi perhatian saya pada awalnya, tenunannya tidak begitu padat, tampak jelas jejak tangan saat sujud diatas sajadahnya. Jejak kepala tidak terlihat, terhalang kakinya yang berselonjor.

Kakinya..., euleuh-euleuh kulitnya kering, kuku jari kaki sudah waktunya dipotong dan ada koreng hampir mengering , ada bekas obat berwarna kuning.
Astaghfirullahal'adziim, saya mengalihkan pandangan!

Qomat terdengar, semua segera bangkit berdiri siap melaksanakan sholat. Bapak tua berdiri perlahan." Allahu Akbar " .
Saat membaca do'a iftitah, Bapak tua yang terlambat takbiraturihram menggelarkan sajadahnya
berbagi sajadahnya dengan saya.

Tadi saya ingin melihat bekas jejak kepala diatas sajadah namun terhalang kakinya. Kini setelah sajadah digelar , terlihat jejak bekas sujud kening kepala, sekarang saya akan sujud diatas sajadahnya, ditempat tadi kakinya yang korengan berselonjor.

" Gustiii, hapunten abdi " Ya Allah ampuni saya, saya tidak bermaksud mengejek kakinya, tapi da katingali nampeu pisan. Tidak bermaksud mengejeknya, tapi kan terlihat jelas.
Saat sujud apa yang saya lakukan? me-na-han na-fas!.

Rasulullah SAW pernah bersabda :
" Bertafakurlah kalian tentang ciptaan Allah dan janganlah sekali-kali bertafakur tentang Dzat Allah, sebab kalian akan celaka ".

Setelah berdo'a dan melaksanakan sholat sunnah ba'da maghrib, saya tidak segera keluar mesjid
namun berandai-andai..., andaikan saya setua bapak ini, sanggupkah melaksanakan ibadah haji?
Saya salami bapak tua ini, dia merespon dengan genggaman yang kuat, matanya yang teduh menatap saya , senyuman tersungging dibibirnya. Wassalamu'alaikum wr wb.



Selasa, 26 Januari 2010

14. " KEBETULAN " YANG MEMBUAT NIK'MAT 2 Bungkus fried chicken

Di kota Medinah kami tinggal di Hotel Al Dallah, jaraknya dekat ke Mesjid Nabawi .
Berjalan kaki 10 menit dari hotel sampai di mesjid. Disana tempat sholat " cowok n cewek " terpisah. Saya dan istri selama di Mekkah hampir selalu bersama, di Medinah bisa jalan sendiri-sendiri. Cuma saat berangkatnya bersama, pulang masing-masing.

Hari ke 3 disana, selesai sholat subuh saya tidak segera pulang, tapi berkeliling sekitar areal mesjid yang sangat luas, melihat pedagang kaki 5. pertokoan dan kembali ke mesjid untuk melaksanakan sholat dhuha. Waktu jalan pulang, tak seperti biasa saya berkeinginan membeli fried chicken 2 bungkus di KFC.

Tiba di hotel , saya mengetuk pintu kamar istri. Pintu dibuka oleh Hj Junarsih, adik kandungnya. " Mah, ini fried chicken haneut keneh pisan ". Saya merasa enjoy menawarkannya. Tapi tak disangka mendapat jawaban bahwa dia sudah makan, bawa saja untuk papap!. Saya tawarkan ke adiknya, " Nuhun, abdi ge nembe pisan neda " baru saja selesai makan. Beu beu beu 2 bungkus fried chicken jadi mubazir.

Baru saja melangkah masuk kekamar saya, dikagetkan oleh teriakan seseorang, dia teman satu kamar, Bpk H Prof Dr Azis, direktur Museum Geology Bandung. orangnya sederhana namun sering melanglang buana memenuhi undangan seminar di negara-negara. Tulisannya tentang ilmu ke-purbakala-an banyak tersebar di jurnal-jurnal luar negeri. Ketika ditanya bagaimana cara menentukan umur fosil, beliau menjelaskan singkat kepada saya. Dulu keluar masuk hutan-hutan di Indonesia mencari batu-batuan untuk diteliti. Kini keluar masuk pertokoan di Medinah mencari...., es cream! kegemarannya. Masa kecilnya kurang bahagia neh!.

" Pak Achmad! Pak Achmad.. teu kabagean nasi siah!..., kiriman nasi box kekamar kita kurang 1 " bicaranya heboh nyeroscos, sambil mondar mandir didalam kamar.
" Ga apa-apa, saya punya iniii.. " dengan tenang saya angkat tinggi-tinggi 2 bungkus fried chicken ."
Pak Azis mau? sok tah hiji " . Beliau menolak, saya kan sudah makan, katanya.

Bismillaah..., goreng ayam digigit pelan, dikunyah perlahan, dirasakan ni'matnya, disusul sesuap nasi kedalam mulut..., kriiing! telpon berdering.
" Pah, sakali teu kabagean makan mah atuh ulah ribuuut! ".
Glek. saya tersedak karena kaget.
" Haar, saha nu ribut? papah mah da teu nanaon, kan punya fried chicken "
" Semua nelpon mamah , papah teu kabagean nasi "

Subhanallaah..., seakan-akan karena saya membeli fried chicken dari KFC, jumlah nasi box untuk rombongan KBIH El Najah dikurangi 1 ?
Atau karena bakal kurang 1 box, saya sepertinya sudah bersiap-siap membeli nasi ?
Namun " Kebetulan " ini membuat saya bersyukur kepada Allah SWT karena makan terasa lebih ni'mat , walau tadi sempat kabuhulan, tersedak.i

Senin, 25 Januari 2010

12. " KEBETULAN " YANG MENGINGATKAN JANGANLAH MENGEJEK ORANG Tissu berdahak.

Shalat maghrib di mesjid Al Khaif Mina pada tgl 9 Zulhijah memberi kesan tersendiri bagi saya. Pertama karpetnya begitu tebal, " ngadelewo " meninggalkan jejak telapak kaki, sehingga rasanya sayang untuk diinjak. Kesan kedua begini ceritanya :

Saat iqomah dikumandangkan, orang-orang bergegas mengisi tempat yang masih kosong, orang didepan maju, yang dibelakang maju. Saya berdiam diri berdiri, karena jajaran didepan saya sudah full.

Saat itu pada posisi 3 orang disebelah kiri saya, didepannya masih " lowong ". Lalu ada orang yang lewat sembari berdahak pakai tissu. Entah disengaja atau tidak gumpalan tissu tersebut jatuh. Sementara imam sudah mengucapkan : " Allahu Akbaar ".

Saya sempat bergumam dalam hati : " Euleuh itu tissu murag, kumahanya? ", sudahlah mengapa harus difikirkan, milikna ieuh, meunang tissu...

Saat rukuk, tiba-tiba tissu bergulir dan berhenti tepat didepan tempat sujud saya..., Astaghfirullahal'adziim, padahal kipas angin diatas tidak dinyalakan secara tiba-tiba, dari tadi juga sudah muter.

Saya tahu persis tissu ini berdahak, geuleuh ih nyampeurkeun ka kuring. Yaa Allah, tentu ini peringatan untuk saya karena tadi berkata dalam hati, " milikna ieuh! " yang berarti memberikan komentar negative kepada orang lain.

Saat sujud, tissu diciwit digeser kasisi "sedikit" (bertambah dosa atuh kalau ditaruh ditempat orang yang juga mau sujud...}.

Suatu kerugian yang sangat besar bagi saya, kehilangan khusyuk saat melaksanakan sholat maghrib di mesjid Al Khaif Mina.

Peringatan Rasulullah : " Akan datang satu masa atas manusia, mereka melakukan shalat namun pada hakikatnya mereka tidak shalat ".
Hati saya merasa sedih dan mohon maaf kepada Allah SWT.

13. " KEBETULAN " YANG MENGHERANKAN Semut ber-iring

30 Desember 2005 perlengkapan untuk ibadah haji beres tertata rapih didalam koper berwarna abu-abu muda. Menjelang subuh tgl 31, seluruh jama'ah ditunggu di Mesjid Antasallam Antapani Bandung.

2 koper yang tadinya " polos dan lugu " di make-up atas permintaan istri saya, berdasarkan informasi dari seseorang yang dapat dipercaya. 2 tube cat semprot Pilox warna hitam dan kuning tersedia. Saya tidak setuju, karena koper akan diberi sticker identitas dari Depag dan Maskapai Penerbangan, berdasarkan informasi yang dapat dipercaya juga. Namun keputusan terakhir tetep kudu dipilox!.

Sepanjang pinggir koper, disemprot warna kuning terang, body koper disemprot warna hitam motif totol totol, anak saya bilang : " Ini mah Dalmatians product Walts Disney atuh Pa! ".
" Heueuh nya kumaha atuh siga gogog? lain titatadi ngabejaanna! " Saya baru eungeuh ini motif gog-gog, mangkaning rek ka tanah suci, kumaha atuh nya?..., bae ah!! .

Jam 8 malam kopor siap didekat pintu diruang tengah rumah. Lucu juga ada sepasang Dalmatian...., namun saya terkejut aya sireum ateul ngabring asup ka jero koper!, ada semut merah banyak sekali masuk ber-iring kedalam satu koper, koper yang lain selamat. Koper yang dikerubuti semut ternyata koper istri saya. Mengapa yang dipilih koper istri? padahal isi koper sama ada makanan-nya : abooon, sambal bajaaak, dendeeeng, kere lauuuk atau ikan yang dikeringkan. Tos ah moal dibeja-beja isin atuh.

Koper dibuka, isinya dikeluarkan semua jangan sampai ada semut yang tertinggal. Lumayan cape atuh menghalau semut begitu banyak. Bagaimana kalau ada semut yang terbawa ke Saudi Arabia? ditahan dibandara? pajarkeun nyelundupkeun hewan dijero koper! didakwa menyelundupkan hewan ditempat tertutup, tidak manusiawi!. Bekerja sama berdua istri disaksikan Alma, anak ke 2, saya berbisik kepada istri. Apa yang saya bisikkan kepadanya?

Saya membisikkan, apakah ini ada hubungan dengan kebiasaannya membasmi semut? Sejak lahir Alma tahun 1983, istri alergi terhadap semut. Melihat semut banyak, merinding dan langsung " merasa gatal ". Semut-semut langsung dibasmi memakai minyak tanah, dioles-oles pakai kuas. Lubang-lubang kecil dipinggir tembok tak luput dari sweeping n investigation.
Ada semut satu atau dua ekor ( semut berekor gitu?) ditindesan ditekan dengan kuku ibu jari.

Pada tahun 1983 , keluar " fatwa " lisan : " Dilarang membawa makanan apapun jenisnya kedalam kamar tidur! ". Padahal saya- paling suka- makan sukro- sambil baca- ditempat tiduuur!
Alma kecil ya mengikuti ibunya belajar membunuh semut pakai kuku. Kebiasaan ini berjalan terus sampai sekarang. Anak dan ibu yang wajahnya hampir sama ini, sama-sama suka menindas semut.

" Gajah dipelupuk mata tidak terlihat, semut diseberang lautan terlihat ". Rasanya cocok pada diri saya yang hanya melihat kekurangan pada istri saya. Padahal 3 hari yang lalu sebelum menulis artikel ini, saya mengurung puluhan simeut hejo belalang hijau yang kecil-kecil didalam stopples, stopless, topless ( kumaha sih nulisna nu bener? ) . Ditutup dibiarkan diterik matahari sampai mati semuanya. Masyaallah, sadiis ya! .

Ba'da isya sebelum memulai mengetik ini, saya membaca sebuah hadits :

Dari Annas ra mengatakan : " Rasulullah SAW melarang mengurung untuk membunuh binatang " ( HR Bukhari - Muslim ).





11. " KEBETULAN " YANG MEMBUAT HATI TENANG " The first and the last

Arabian Air Lines membawa kami, rombongan KBIH El Najah Bandung, tinggal landas selepas maghrib dari Bandara Soekarno Hatta, tgl 31 Desember 2005 menuju Saudi Arabia.
Kami mendapat seat di kabin kelas 1, duduk tenang dan berdo'a agar perjalanan menuju tanah suci dilindungi Allah SWT. Saya merenung, pesawat terbang berbobot sekian ton berada di ketinggian ribuan kaki dari bumi dengan kecepatan sekian km/jam, rasanya seperti diam, " maju henteu ieu teh? asa cicing wae " . Happy new year! tahun berganti, sekarang tahun 2006. Kami mendarat di bandara King Abdul Azis, di kota Jeddah, pantai timur Laut Merah, alhamdulillah.

Di bandara kami harus bersabar, karena berdasarkan informasi dari bagian transportasi, rombongan El Najah akan berangkat ke kota Mekkah, mendapat urutan bus nomor 10. Namun ternyata urutannya menjadi nomor 1, langsung berangkat menuju Haffair letaknya tidak begitu jauh dari Masjidil Haram. Di Penginapan kami mendapat kamar-kamar dilantai 1.
Pimpinan KBIH El Najah, Bapak KH Drs Djaja Zakaria mengatakan : " Seat di kabin nomor 1, tiba di Arab Saudi tanggal 1 Januari 2006, dari Jeddah naik bus urutan nomor 1, di Haffair tinggal dilantai 1, jarak maktab ke Masjidil Haram +/- 1 km ", Mudah-mudahan ini pertanda baik, kami diberi kelancaran selama menjalankan ibadah haji

Siang hari sepulang dari Masjidil Haram, Ibu Hj Nining Ruchaeningsih sakit. tenaga medis menyatakan harus dibawa segera ke klinik. Namun saat itu tidak ada ambulans dan tidak ada tandu. " Kumaha atuh nya? " semua kebingungan.
Saya berinisiatif untuk menggendongnya ke klinik terdekat. Bismillahirrokhmanirrokhiim dari lantai 1, setapak demi setapak menuruni tangga, laksana pembawa bendera pusaka menuruni tangga istana saat upacara hari kemerdekaan RI.
Sepanjang trotoar semakin lama semakin terasa berat, saya mulai berkeringat. Bapak H Radi suaminya yang sudah sepuh berjalan disebelah saya. Alhamdulillah ada yang bersedia untuk menggantikan menggendong Ibu Hj Nining, sukarelawan itu ialah Bapak H Hadi Suparyo. Setelah tiba di klinik, diperiksa dokter, Ibu H Nining harus dirawat karena hypertensi.

Ibadah haji di Mekkah dan Medinah usai sudah, waktu terasa cepat berlalu sampai tiba saatnya take-off dari Medinah menuju Jakarta. Kali ini pesawatnya Garuda Indonesia Airways. Sayang, saya dan istri berbeda seat. saya dibarisan kanan depan, istri dibarisan kiri tengah. Karena kelelahan saya tertidur lelap, terjaga saat pramugari menghantarkan hidangan. Teringat istri tercinta, saya beranjak ke belakang untuk menengoknya.
Astaghfirullah, dia sedang menyandarkan kepalanya kekursi depan. tengkuknya dipijit-pijit sesorang yang duduk disebelah istri saya.
" Aduh Pa, mamah vertigo lagi " Istri saya sudah lama menderita sakit ini. Vertigo adalah keadaan seolah-olah disekitarnya bergoyang-goyang dan berputar-putar, sehingga menjadi pusing, kadang-kadang disertai mual dan muntah-muntah . Vertigo dapat disebabkan oleh kelainan dalam telinga atau dalam otak.
Alhamdulillah selama menunaikan ibadah haji tidak kambuh dan kini diperjalanan pulang, kambuh lagi.
" Wios Cep tong hariwang, aya Ema " suara yang saya kenal. siapa dia?
Beliau Ibu Hj Nining, yang pada hari pertama di tanah suci jatuh sakit dan saya tolong membawanya ke klinik. Kini dihari terakhir meninggalkan tanah suci, beliau menolong istri saya yang jatuh sakit.
" Hiji-hiji Cep, kapungkur Ema ditulungan, keun ayeuna tong hariwang Si Eneng dijagi ku Ema ".

Sampai sekarang kami tetap bersilaturahmi, dihari tuanya masih beraktifitas dalam kondisi kesehatannya yang terjaga baik, Salah satu putranya seorang dokter di Bandung.

Minggu, 24 Januari 2010

10. " Love in Nabawi Mosque "

" Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya (QS Al Mu'minun 23 : 1-2)

Untuk mendapatkan khusyu' dalam sholat, bisa dengan meresapi surah yang diucapkan imam, atau memejamkan mata sejenak. Tapi jujur saja, sering hadir didalam pikiran kita hal-hal yang menggangu kekhusyu'an sholat, seperti saat saya sholat di Mesjid Nabawi.

Awalnya meresapi surat yang diucapkan imam, terasa begitu indah, intonasinya menghantar kepada kekhusyu'an. Rakaat pertama saya dapat bertahan pada konsentrasi yang tinggi membacakan bacaan sholat.

Namun saat selesai imam membacakan Al Fatihah, mata saya melihat pada rak kayu berwarna cream, didepan sebelah kiri, tempat menyimpan sandal sebuah tulisan:L O V E.
Jadilah hati bertanya-tanya apa maksudnya LOVE? tulisannya dirancang rapi berwarna hitam, jadi bukan ditulis secara iseng.

Usai sholat saat menuju ke pintu luar masjid ternyata semua rak ada tulisannya, yang maksudnya memberi nomor rak dari mulai nomor 1 sampai no ke sekian.

L O V E yang terbaca adalah nomor rak 1 5 7 4 yang ditulis dalam bahasa Arab.

Jumat, 22 Januari 2010

9. " KEBETULAN " ASYKAR MENDENGAR BISIK HATI Kisah 3 butir kurma

Selama melaksanakan ibadah didalam Masjidil Haram, saya dan istri tidak pernah membawa makanan dan minuman. Kalau haus minum air zam-zam yang tersedia, hilang rasa haus sekaligus perut terasa kenyang. Jadi Alhamdulillah sejak sholat dhuhur sampai selesai sholat isya, tinggal didalam mesjid tidak merasa lapar.

Suatu sore selepas ashar, nun jauh didepan , tampak seorang asykar membawa kantung besar dan membagikan sesuatu kepada jama’ah yang dilaluinya. Jama’ah yang mendapat pemberiannya bersuka cita. Saya bertanya kepada sesorang disebelah saya, apa yang dibagikan askar itu ? Dia menjawab itu kurma.

Kurma? terbayang bentuk, warna dan rasa buah kurma yang manis legit. Terkenang masa kecil dulu, kurma sangat istimewa, hadir dirumah hanya pada waktu-waktu tertentu, pada bulan Ramadhan menjelang Lebaran saja. Kalau mendapat buah kurma dari kakek, rasanya sayang kalau dihabiskan sekaligus, sehingga berlama-lama dimakannya, digigit sedikit-sedikit.

Hoyong pisan kenging korma haratis, ingin sekali mendapat kurma gratis. Namun sayang disayang, asykar selesai membagikan kurma, mungkin sudah habis, Dia jalan bergegas kearah kanan semakin menjauh. Saya ikuti dengan pandangan mata seiring timbulnya rasa kecewa didalam hati, karena tidak mendapat kurma.

“Ah, sanes milik..“ saya bergumam didalam hati. Tiba-tiba asykar menghentikan langkahnya, berbalik dan dikejauhan memandang kearah saya, lalu bergegas berjalan disela-sela jama’ah yang begitu padat, terus.., terus mendekat sampai tiba persis didepan saya. Asykar tersenyum kepada saya dan memperlihatkan tiga butir kurma ditelapak tangan kanannya.

Sejenak saya terpana dan diam. Askar mengisyaratkan agar saya menerima kurma pemberiannya,
“Alhamdulillah, syukron syukron syukron” . Saya terima dengan kedua telapak tangan menengadah. “ Tersenyum dianya padaku “, seperti syair lagu lawas Koes Plus, asykar berlalu cepat sembari tersenyum. Sepanjang langkahnya, jama’ah lain mengangkat tangan meminta kurma. Namun 3 butir terakhir kurma yang ada padanya kini menjadi milik saya.
Saya berbagi rezeki dengan “tetangga”, yang disebelah kiri dan kanan mendapat masing-masing 1 butir kurma.
1 butir terakhir, saya kunyah perlahan-lahan, sungguh terasa lezat dan perut terasa kenyang,

Kamis, 21 Januari 2010

7. " KEBETULAN " YANG MENGINGATKAN Mengapa harus bertengkar ?

Memang benar hidup di dunia ini hanya sebentar. Orang orang mengibaratkan hanya mampir minum dan istirahat sebentar saja. Selanjutnya akan meneruskan perjalanan yang panjang dan jauh ke depan tanpa batas akhir waktu. Untuk itu janganlah sampai fatamorgana dunia memperdaya kita semua dari ketaatan kepada Allah swt.
Aral melintang dalam menjalani kehidupan di dunia bukanlah hal yang mudah. Ada kesulitan dan kemudahan. Ada kebaikan ada keburukan, juga ada kesabaran dan kemarahan.

Tgl 24 Januari 2006, di Masjidil Haram, menjelang adzan subuh, istri ingin segera melaksanakan thawaf. Namun saya memutuskan nanti saja setelah sholat subuh, karena beberapa hari yang lalu, saat adzan berkumandang, serentak semua jama'ah mencari lahan untuk sholat, sarerea pahibut! sibuk! loba nu teu kabagean! loba, banyak yang tidak kebagian tempat untuk menggelar sajadahnya. Ada ibu-ibu tos ngaraos tumaninah calikna sudah mendapat tempat dan menggelar sajadahnya, tiba-tiba diusir jema'ah yang didekatnya, agar pindah kekelompok wanita, yang posisinya entah disebelah mana? Sementara iqomah sudah dimulai!

Na da eta mah keukeuh, istri saya bersikeras ingin thawaf dulu, sumanget pisan, semangatnya luar biasa, menarik-narik tangan saya. Akhirnya saya bentak! agar mengikuti keputusan saya.
Langsung ngajanggilek baeud! beu! beu! beu! dia mendelik diam "1000 bahasa!" Namun diam-diam mengikuti saya melangkah menaiki tangga ke lantai 2, karena di lantai 1 sudah penuh sesak.

Usai sholat subuh, kami turun lagi ke lantai 1 melalui beberapa turunan sampai dipelataran Ka’bah. Kami masuk kedalam pusaran jama’ah dengan posisi paling depan Ibu Iros, " kasepuhan " yang selalu kami dampingi karena beliau pergi sendiri tanpa suami. Istri saya memegang lengannya, saya mengawasi mereka berdua diposisi paling belakang. 7 keliling dicapai tanpa kesulitan karena mengikuti arus jama’ah apa adanya, tidak memaksakan untuk mencapai Hajar Aswad.
Setelah melaksanakan shalat sunah thawah, dilanjutkan melaksanakan sholat sunah yang lainnya dan membaca Al Qur’an sampai jam 8 pagi, baru beranjak keluar dari Masjidil Haram. Saya bertanya kepada istri apakah mau ke Pasar Seng?, tak dijawab.

Ya sudah , akhirnya kami pulang ke maktab, untuk makan dan istirahat sebentar sampai menjelang dhuhur nanti. Rebahan di tempat tidur sambil menunggu waktu. Lama ditunggu-tunggu mengapa tiada khabar berita?. Biasanya istri nongol dipintu kamar memberikan " penawaran ", apakah saya mau makan bersamanya? atau makan sendiri dikamar?.

Saya menuju kamarnya, ternyata dia baru selesai makan! tara-tara ti sasari teu ngajak-ngajak! tidak seperti biasanya, dia tidak mengajak saya makan. Bae lah, biarlah sekarang saya makan sendirian saja, teu nanaon tidak apa apa. Alhamdulillah tetap lahap, sekejap licin tandas tak bersisa. Sejak berumah tangga soal makan soal bercinta, saya tergolong yang teu hararese, ga susah. Apa yang tersedia dimeja makan hasil masak istri, selalu disikat habis!. Itu soal makan, soal bercinta? moal ah ararisin teuing bari na ge malu ah kalau diceritakan.

Beres makan, langsung cuci piring kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengambil baju-baju yang sudah dicuci siap jemur. Ternyata bajunya belum dicuci!, beu beu beu kumaha yeuh bagaimana ini, biasanya istri yang mencuci dan saya bagian menjemur cucian. Ini peraturan lisan yang dibuat saat mulai tinggal di maktab.
Ikhlas, hari ini saya mencuci pakaian dan menjemur, beres kan? lalu mandi siap-siap pergi ke mesjid.

Ada pesan singkat, tidak melalui SMS melainkan lisan dari Ibu Iros : Da eneng mah moal ka masjid " istri saya tidak akan pergi ke mesjid. Beu ngambekna kateterusan yeuh! marahnya berkelanjutan nih!.
Ya sudah, saya segera berangkat mengejar waktu shalat dhuhur, malah merasa lebih leluasa pergi tanpa istri, serasa bebas, he he h .., pilih tempat untuk shalat mengikuti kesukaan hati tanpa harus berdiskusi dengan istri yang kadang-kadang berbeda pendapat uing hayang didieu, manehna hayang diditu, menurut saya disini, istri malah ingin disana.

Perbedaan memang ada, tetapi saya yang sering mengalah kepadanya. Memang sebelumnya dia minta pendapat dan idzin kepada saya, namun ujung-ujungnya tetap harus mengikuti keinginannya, jika pendapatnya berbeda dengan saya.

Diawal pemberangkatan haji, istri sering bicara, agar kita harus bisa menjaga emosi, jangan marah. " Pa, seueur kacarioskeun, salaki pamajikan parasea ditanah suci " banyak cerita suami istri bertengkar karena hal-hal yang sepele saja. Bahkan menjelang mendarat di bandara King Abdul Azis, begitu pramugari mengingatkan penumpang, agar memasang safety belt, istri saya juga mengingatkan bari noel sagala, menjawil tangan dan berkata : " Kade nya pa, urang ulah pasea " Jangan ada pertengkaran diantara kita! duh...

Dari Abu Hurairah bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi : “ Berilah wasiat kepadaku ” . Sabda Nabi : “ Janganlah engkau mudah marah ”.
Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau : “Janganlah engkau mudah marah” (HR<>
Sehari berlalu, belum ada tanda-tanda membuka jalur komunikasi. Hari kedua sejak berangkat dari maktab menjelang subuh sampai thawah mau dimulai, tetap berdiam “ 1001 bahasa “. Seperti biasa urutan berbaris paling depan Ibu Iros, lalu istri saya dibelakangnya sambil memegang lengan atas Ibu Iros. Saya yang paling belakang tentu harus memegang lengan atau bahu istri saya.
Waktu saya memegang lengannya, da dikepeskeun!. Tangan saya ditepiskan, nggak usah pegang-pegang, bisa sendiri katanya. beu itu geura!.

Hari ketiga sejak konfrontasi dimulai, saat keluar dari penginapan, selama perjalanan ke Masidil Haram, saya bersenandung kecil begini : “ Perdamaian, perdamaian…. “ lagu Nasyidah Ria yang di "re-take", dinyanyikan oleh KD Kris Dayanti nu geulis tea.
Eh ada reaksi : " Batur mah dzikir!!! " katanya. Saya bersenandung lagi, “ Perdamaian, perdamaian ".

Saat thawaf , alhamdulillah istri tidak menolak dipegang saat dilindungi, kami pun mulai mengelilingi Ka’bah, " Bismillaahi wallaahu Akbar ".
Saya tidak ingat, pada putaran yang keberapa, tiba-tiba saya merasakan tangan istri saya menyentuh “ milikku” yang ada dibawah perut, mungkin tak sengaja dan tak mungkinlah kalau sengaja. Namun akibatnya saya menjadi " horny ". Aah, bagaimana mungkin sedang melaksanakan thawaf saya terangsang?, tapi kenyataannya membuat istri teu daek cicing, rada gutak gitek saeutikt, menjadi gelisah karena ada yang geli akh.., keras menggesek-gesek tubuhnya, heuheuy deuh!.

Astaghfirullaahal-'azhiim, sekuat mungkin saya menahan dan mengalihkan rangsangan , konsentrasi lagi pada do’a yang diucapkan. Entah apakah orang lain juga ada yang mengalami seperti ini, saat berdesak-desakan, kegesek-gesek menjadi horny? ( kalau ada kasih komentar di blog ini ya. red ).
Manusiawi kalau hal itu selintas muncul, bukankah telah sekian lama tidak" ber-aktifitas rutin ", karena tengah melaksanakan ibadah haji. Mungkin istri juga perasaannya sama, tadi saya menangkap kegelisahannya.
Selesai thawaf, saya membiarkan dia yang menentukan tempat untuk melaksanakan sholat sunah. Kini sorot matanya menjadi teduh.

Hari ketiga, dikamar mandi saya mendapatkan baju-baju sudah dicuci siap di jemur. Tuh kan sudah mau menjalankan tugasnya. Sayapun siap menjemurnya kelantai paling atas, namun didepan lift, lupa membawa gantungan dan jepitan baju, padahal dua benda ini sangat penting agar jemuran tidak terbang disapu angin, apalagi dilantai paling atas angin bertiup sangat kencang!.

" Pa, gantungan jeung panyapitna kakantun ", suara yang kurindu kini terdengar lagi, matanya teduh seiring senyum tersungging dibibirnya. Pintu lift terbuka, kami berdua, " si nu ngagantung jeung si panyapit " segera masuk. Didalam lift cukup berpegangan tangan, melepas rindu. Hanya sebatas itu, teu ngabohong! , beneeer?

Sambil bersandar berpegangan tangan , terbaca tulisan diatas sehelai kertas folio, yang ditempel didinding lift .

" MANAJEMEN KONFLIK "

Mengapa harus bertengkar ?
Aku benar, engkau yang salah!

Kedua belah pihak berfikir sama

Solusi :
1. Aku merasa benar, tapi boleh jadi dia juga benar.
2. Dia salah, tapi boleh jadi aku juga salah.

Fikirkan :
1. Akankah kita nodai Haji kita dengan pertengkaran & permusuhan?
2. Kita tak menyukai tamu yang bertengkar dirumah kita. Allahpun takkan suka tamunya bertengkar.
3. Apa untungnya kita rusak suasana dengan bertengkar?.
4. Tak ada seorangpun yang ideal dan sempurna, sebagaimana diri kita sendiri. Maafkanlah dan lupakanlah kesalahannya.
5. Barang siapa ingin dima'afkan oleh Allah, jadilah pema'af.
6. Manusia yang paling bahagia, adalah pemaaf yang tulus.

Kami berdua terperangah membaca tulisan ini, penulisnya ialah Aa Gymnastiar dari pesantren Daruut Tauhid Bandung. Kebetulan jama’ah Daruut Tauhid sebagian ada yang tinggal dihotel tempat kami menginap.

Tulisan Manajemen Konflik, ditujukan tentu kepada jama’ah Aa Gym, namun saya merasa Allah SWT yang mengaturnya, sehingga tepat waktu dan sasaran kepada saya dan istri yang sudah memasuki hari ke tiga “ perang dingin ”
Air mata menggenang dipelupuk mata istri, dia berkata perlahan : " Hapunten mamah Pa "
Saya maafkan mah, hadena papah tiasa sabar menghadapi mamah .

Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda :
“Barang siapa menahan amarahnya padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, maka kelak Allah akan memanggilnya pada hari kiamat dihadapan segala makhluk, sehingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya”

Ah, " bidadari ieu ge tos cekap, sanaos sok baeud ge "

Hadis yang lain : “Marah itu dari setan” (HR Abu Dawud)
“Sesungguhnya mengucapkan " a'udzubillahii minasysyaithaanirrjiim " dapat menghilangkan rasa amarah” (HR Tarmidzi).

Alhamdulillah, saya mendapat " KEBETULAN YANG MENGINGATKAN ' Mengapa harus bertengkar? menjadikan saya dan istri lebih introspeksi diri.

Rabu, 20 Januari 2010

8. " KEBETULAN " YANG MEMBUKAKAN MATA Jangan menilai dari penampilan

Ada seorang anak muda sedang duduk bersimpuh diatas sajadah. Dia terpekur tunduk, rambutnya gondrong hitam legam berjuntai ke bawah. Tak lama tangannya terentang lebar, tentunya sedang memanjatkan do'a terlihat dari mulutnya yang komat-kamit.

Sungguh dia menjadi perhatian disekeliling termasuk saya sendiri, pakaian gamisnya terlihat high quality, putih bersih licin mengkilat. Saya menaksir derajat putih bahan gamisnya ini bernilai 5. Dalam ilmu tekstil ada skala untuk menilai hasil proses bleaching atau pemutihan. Dimulai nilai 1, secara visual putih agak kekuning-kuningan, nilai 2 akan terlihat sedikit lebih putih dari nilai 1. Demikian sampai nilai 5 yang terputih. Dari segi lain, bahan gamis ini, tentu melalui proses finishing (penyempurnaan), pegangannya lembut. Ini didapat dari obat finish kimia. Lalu proses finishing secara mekanik, kain menjadi stabil dimensinya, tidak akan mengkeret walau dicuci berkali-kali. Ada juga proses Calander, berefek kain terlihat mengkilat.
Eh mengapa jadi membahasa tekstil? abong kena pagawe pabrik tekstil baheulana.

Tatapan mata saya kembali ke anak muda tadi,sekarang sudah selesai berdo'a dan apa yang dilakukannya? tangan kirinya memegang gelas plastik berisi penuh kurma gemuk warnanya coklat ke hitam-hitaman.Sungguh saat itu jadi ingin sekali memakan kurma.
Merasa diperhatikan, dia menengok kearah saya, tersenyum tapi terus saja mengunyah kurma penuh kenikmatan.

" Cik atuh hiji kadieukeun ,kuring hayang ngasaan ", dalam hati saya berkata dengan harapan, dia mau membagi kurmanya. Eh dia menengok lagi, tersenyum bari jeung manggut sagala, tapi mannaaa atuh kurmanya?!

" Enyaan tega maneh ka urang ". Herannya mengapa saya menggerutu, bukankah dia sudah dua kali memberikan senyuman, berarti dua kali memberikan shodaqoh.


Tiba-tiba ada yang menepuk lutut saya, seseorang disebelah kiri menawarkan kurma 3 butir, segar terlihat dari bentuknya yang kuning gemuk kecoklatan. Saya ragu menerimanya dan bermaksud menolaknya. Saya ingat betul, waktu thawaf dia bersama rombongannya mepet-mepet terus kepada saya, dan waktu itu saya mencium aroma keringatnya yang menyengat hidung. Didalam mesjid saat mencari lahan untuk sholat, memilih tidak dekat dengan mereka orang yang berkulit lebih hitam dari saya, saya memilih mencari tempat lain.

Saya tercenung dan membaca istighfar dalam hati, kenapa ikut-ikutan sugesti bahwa orang-orang berkulit hitam kasar-kasar, bau, pokona tong dideukeutan. Terbukti sekarang tidak demikian, secara fisik memang nampak kotor , tapi hatinya baik mau memberi kurma kepada saya walau hanya tiga butir.

Ada pelajaran pada moment ini. Jangan menilai seseorang dari penampilan, yang putih bersih mewangi " pedit " tidak mau berbagi kurma. Yang hitam legam baju lusuh. mau berbagi kurma kepada saya.:

Saya tersenyum kepadanya dan menerima kurmanya seraya berkata : " Syukroon "

Selasa, 19 Januari 2010

6. " KEBETULAN " YANG MEMBERIKAN PENERANGAN Siapa yang mendengar suara hati?

Dikeheningan malam sunyi, dikesunyian malam didalam kamar hotel Al Dallah dikota Madinah, tepat jam 01.00 Waktu Saudi Arabia, saya terjaga dari lelap tidur. Sejenak berdiam diri, kepala tidak diangkat, telinga masih menempel di bantal, merasakan suara detak jantung sendiri, sementara kawan-kawan yang lain terlihat lelap dalam tidurnya masing-masing didalam selimut yang tebal.


Dalam surat Al Muzammit 1-5, “ Wahai orang yang berselimut, bangunlah (untuk sembahyang) dimalam hari kecuali sedikit (dari padanya),( yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau tambahkanlah dari seperdua itu, dan bacalah Al Qur’an dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami (Tuhan) akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat )”.


Ah, tidur adalah suatu masa yang rutin muncul, dimana tubuh dalam keadaan kesadaran yang sangat menurun , dibarengi aktifitas yang sangat rendah dan segala macam proses fisiologi, yang berwujud pengendoran urat, penurunan metabolisme. Konon, pada manusia waktu yang dipergunakan untuk tidur mencapai sepertiga dari bentang umurnya.


Banyak orang-orang yang bertaqwa, orang-orang yang berbuat baik, mereka sedikit sekali tidur dimalam hari dan pada waktu sepertiga terakhir malam, mereka memohon ampun kepada Tuhan.

Turun dari tempat tidur, bismillahirrohmanirrohiim segera mengambil wudhu dan melaksanakan qiyam al-lail atau sholat malam. Ibadah pada malam hari terasa lebih kokoh dan khusyuk, dilanjutkan dengan berdo’a, mohon ampunan atas segala dosa-dosa yang pernah dibuat, mohon anak-anak dan istri saya diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan, ditambah rezekinya untuk ibadah dan menjadi wanita-wanita yang sholehah. ( alhamdulillah saya dikarunia 4 anak, semua wanita ).


Usai berdo’a, saya memanaskan segelas air di wastafel kamar mandi menggunakan stick heater, untuk membuat segelas kopi susu.

Sambil menunggu air mendidih, saya duduk di atas tempat tidur, memegang buku Asmaul Husna, rencana akan berdzikir mengagungkan nama-nama Allah SWT.


“Pak Achmad sudah shalat tahajud ?” Pak H Emilius urang Arcamanik Bandung teman sekamar, yang tempat tidurnya di sebelah kiri saya, bertanya sembari bangun dan menuju kamar mandi.

“ Alhamdulillah sudah, Pak Emil mau sholat tahajud juga ya ?”

Dia mengangguk sambil berjalan menuju kamar mandi. Tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi, tangannya melambai kearah saya dan berkata : “Pak Achmad bikin air panas di kamar mandi,,, tuh sudah mendidih! “.


Saya bergegas turun dari tempat tidur dan menyenggol badannya, “Sakalian atuh pangnyabutkeun, teu pira naon hesena !“ , saya menggerutu kepadanya kenapa tidak dicabut, apa susahnya sih!

Dia tidak menjawab, tidak berkomentar, matanya menatap saya sejenak. Tatapannya yang innocent tak bersalah, membuat saya menyesali diri mengapa saya “memarahi dia”, bukankah Pak Emil sudah berbaik hati memberi tahu bahwa air sudah mendidih di kamar mandi. Seandainya dia tidak memberitahu, mungkin air terus mendidih sampai kering habis, bagaimana kalau heater meledak? Bagaimana kalau terjadi kebakaran? Duh, seharusnya saya berterima kasih kepada dia...


Setelah membuat segelas kopi susu, saya kembali ke tempat tidur, akan memulai dzikir Asma’ul Husna. Namun, saat membuka buku Asma’ul Husna, tulisannya tidak terlihat, karena lampu kamar cahayanya temaram, hanya lampu tidur bertudung diatas dresoir yang dinyalakan, cahayanya mana cukup untuk membaca?.


Saya bermaksud menyalakan lampu besar, namun kuatir mengganggu konsentrasi Pak H Emillius yang sudah mulai sholat tahajud, karena untuk mencapai tombol lampu, saya harus melangkah didepannya.Ya sudah.., saya menunggu sambil tetap duduk berselonjor dan menghirup kopi susu panas di tempat tidur dan mendengarkan Al Fatihah, Al Qodar yang terdengar ngoncrang, terasa keras dan jelas, padahal dia mengucapkannya perlahan dan tidak keras. Kemudian setiap mendengar Allahu Akbar, saya merasakan kenik’matan luar biasa.


Sholat tahajud 2 raka’at yang pertama selesai, dia berdiri untuk melanjutkan raka’at berikutnya, tangannya sudah diangkat untuk bertakbir, namun sejenak berhenti, tidak jadi bertakbir!


Dia melangkah kearah sudut kamar dan menyalakan lampu, sehingga kamar menjadi terang benderang. Dengan tenang kembali ke sajadahnya, kemudian dia melanjutkan sholat tahajudnya.


Subhanallah, saya tak dapat menahan tangis mendapatkan sesuatu moment yang sangat luar biasa. Kamar menjadi terang benderang, sehingga saya bisa membaca buku Asma’ul Husna dan mulai berdzikir..., Yaa Allah, Yaa Rahman, Yaa Rahiim, Yaa Malik, Yaa Kuduus, dan seterusnya sampai selesai. Pak Emilius pun selesai melaksanakan shalat tahajudnya dan mematikan lagi lampu besar. Dia tersenyum kepada saya sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


Sayapun bersiap untuk tidur kembali, namun saya menela’ah kejadian yang baru dialami seraya bertanya dalam hati, kepada diri sendiri .., siapa yang mendengar suara hati ?.


Tadi, Pak H Emillius berbaik hati memberitahukan kepada saya bahwa air sudah mendidih, namun saya meyesalinya dan menanggapi dengan menggerutu kepadanya, mengapa heater tidak sekalian dimatikan?

Tatapannya seakan-akan membenarkan apa yang saya sesalkan, sehingga untuk “menebus kesalahannya” dia memberikan “bonus” dengan cara menyalakan lampu besar, pada saat saya memerlukan penerangan untuk membaca dan berdzikir menyebut nama-nama agung Allah SWT.


Subhanallah, dia seperti dapat mendengar suara hati saya, namun sebenarnya Gusti Alloh yang mempunyai Asma’ul Husna..., As Sami’ yang Maha Mendengar, Al Khabir yang Maha Mengetahui, segala perkara batin yang tersembunyi serta mengetahui hakikat dari segala perkara dan kejadian, An Nur yang menciptakan cahaya....


Nuhun Gusti, abdi nampi kana sagala kani’matan ti anjeun wengi ieu, saya merasakan air mata terasa hangat mengalir dari sudut mata merambah pipi dan jatuh diatas bantal. Betapa selama ini kenikmatan begitu banyak yang diberikan Allah kepada saya, namun begitu sedikit rasa syukur yang saya sampaikan kepada Nya.


Dalam surat Ibrahim 14-7 : “La-in syakartum la-azidannakum wa la-in kafartum inna’adzabi lasyadid”. Kalau kalian syukur, aku akan tambahkan ni’mat kepadamu, dan kalau kamu kufur ( tak syukur ) maka sesungguhnya azabku maha pedih.


Dalam surat Luqman 31-12 : “ Wa mayyasykur fainnama yasykuru linafsihi wa man kafara fainnallaha ghaniyyun hamid “. Barang siapa yang bersyukur, maka manfaat syukur itu untuk dirinya juga. Dan barang siapa yang tidak syukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Terpuji.



Senin, 18 Januari 2010

5. " KEBETULAN " YANG MENGAJARKAN HARUS BERSABAR Thermos tumpah...

Saya mempunyai beberapa hobby, salah satunya membaca buku. Seingat saya sejak kecil sudah menyukai buku, walau sebatas suka pada ilustrasi dan gambar-gambar yang ada di dalam buku. Buku milik ayah seperti Encyclopaedi Britanica yang 24 jilid, sering dibuka, dilihat gambarnya bersama kakak dan adik. Sering cup-cup-an, rebutan saling mendahului mengatakan gambar yang bagus punya saya.
Juga kami sering membuka buku koleksi lukisan Presiden Soekarno yang sangat tebal, yang berisi copy lukisan karya seniman Indonesia, seperti Affandi, Basuki Abdullah, Henk Ngantung, Dullah dll. Kami cekikikan melihat lukisan wanita telanjang bulat berbaring menyamping, atau melihat nenen, buah dada terbuka gadis Bali. Sebenarnya saya ingin menyimpan buku-buku ayah almarhum. Namun pada saat bagi waris, kakak lebih dahulu mengambilnya, tidak apa ikhlas mudah-mudahan buku-buku ayah dirawat dengan baik.

Hobby timbul dipengaruhi lingkungan, seperti kalau ayah suka mengutak-atik mobil maka anak laki-lakinya pipilueun ngoprek ikut juga mengurus mobil. Kalau ibu suka memasak makanan atau membuat kue sendiri, biasanya anak perempuan ikutan ngarewong mengganggu ibunya, motong-motong sayur atau menimbang terigu.

Hobby membaca, menghantar saya untuk datang ke toko buku Gramedia, untuk membeli buku atau sekedar membaca-baca disana. Saya sering heran dan terkagum-kagum melihat buku-buku yang berkualitas baik, dari yang tipis sampai yang tebal..., kok bisa sih orang-orang menulis dan menerbitkan buku ?
Sementara saya yang sudah bersusah payah menentukan judul, merangkai kalimat dan mengirimkan sample tulisan ke penerbit Mizan, lalu menunggu selama 3 bulan, akhirnya ditolak.
Anak saya yang sulung dari Samarinda mengirim sms : " Jangan patah semangat Pa, terus saja menulis dan kirim ke penerbit lain ". Ya insya allah.

Ada satu buku yang menarik saya untuk membeli dan membacanya, berjudul ENEAGRAM, penerbitnya Serambi, isinya tentang mengenal 9 tipe kepribadian manusia dengan lebih asyik.
Tipe manusia itu adalah : Perfeksionis, Penolong, Pengejar prestasi, Romantis, Pengamat, Pencemas, Petualang, Pejuang dan Pendamai.

Dari klasifikasi tersebut, euleuh geuning ternyata saya termasuk tipe Penolong, istri saya..., pssst termasuk tipe Perfeksionis!
Semua tipe ada segi positifnya dan segi negatifnya, Yang negatif bisa diarahkan menjadi yang positif..., kitu oge mun daek kalau yang bersangkutan mau memperbaikinya.

Di Masjidil Haram saya bertemu seseorang yang mempunyai tipe pemarah yang kebetulan sebelum sholat maghrib duduk disebelah kanan saya..., begini ceritanya.

Sebenarnya setelah sholat ashar saya ingin keluar dulu dari dalam mesjid, untuk membeli air teh panas manis dicampur susu kaleng, diwawaas mun disuruput lalaunan dibayangkan kalau diseruput pelan, aah lezaaat.
Namun ada rasa enggan dan memilih tetap duduk diatas sajadah seraya membaca tafsir Al Qur'an versi bahasa Indonesia, yang kulit bukunya berwarna burgundy. Saya membaca surat Al Baqarah ayat 284-285 dan 286 dan memahami artinya. Surat ini sering dibacakan imam pada sholat fardhu di Mesjid Al Ghofur, dikomplek tempat saya tinggal di Bumi Parakan Asri Bandung.

Sejenak perhatian teralihkan pada kegaduhan kecil yang terjadi jauh disebelah kiri saya. Tampak jama'ah mengulurkan gulungan kecil plastik putih, terus sampai tiba dihadapan saya. Sayapun mengikuti menarik plastik kearah kanan sampai tiba-tiba uluran ini berhenti.
Aya naon ieu teh?
Ada apa ya?

Gulungan plastik dibuka, lebarnya kira-kira 40 cm, panjangnya mungkin 20 mtr. Lalu orang-orang dijajaran depan yang terdekat maralik katukang, jadina pahareup-hareup, berbalik kebelakang sehingga sekarang berhadap-hadapan.

Dari sebelah kiri seorang asykar membawa sebuah kantung besar, menumpahkan isinya.., butir butir kurma yang tampak ranum dan segar keatas plastik putih.
" Ta'aal..., ta'aal..., ta'aal..., please please, mangga mangga . Atuh sarerea balakecrakan, semua menikmati bersama hidangan lezat disore hari ini. Bagi saya ini luarrr biasa! neh ! , tak disangka mendapat rezeki dapat mencicipi kurma asli didalam Masjidil Haram. Asli disini maksud saya masih segar, mungkin baru dipetik langsung dari pohonnya.

Kurma yang bertebaran nampak gemuk mengkilat kecoklatan. Ini pasti kurma nomer wahid yang pasti manis legit.
Benar saja, saat digigit terasa manis legit, sampai-sampai daging buahnya menempel digigi, susah lepas, dikunyah pelan-pelan semakin terasa manisnya. Namun bagi saya cukup 3 butir saja, karena harus membatasi diri, kan saya member diabetus! hik hik hik...

Saya menyaksikan ada jama'ah asing mengambil kurma banyak-banyak dan memasukkan kedalam kantungnya, sementara mulutnya samutut, penuh dengan kurma. Dia tak henti-henti mengunyah kurma.
Saya mencoba memakluminya, mungkin orang itu sangat lapar karena beberapa lama tidak makan, mungkin juga kurma yang dimasukkan kedalam tasnya, untuk bekal nanti malam atau sampai esok harinya.
Saya mendengar banyak jama'ah dari bebagai penjuru dunia, yang datang ketanah suci dengan biaya pas-pasan, sehingga harus menghemat dalam pengaturan uang dan makanan. Ingat hal ini, sungguh mulia orang yang memberikan kurma dan dapat dimakan oleh jama'ah yang kelaparan, semoga amal kebaikannya dibalas oleh Allah SWT, amien.

Perhatian saya kepada orang yang mengambil kurma, dihentikan oleh seseorang yang menyentuh tangan saya dan berkata :
" Can you help me, take a cup of hot tea for me please......."
" Hot tea ?
Orang ini wajahnya mirip siapa coba? mirip Saddam Husain yang terkenal ke seantero dunia . enyaan kitu ieu teh Kang Saddam ?.
Saya melihat disebelah sana orang-orang silih berganti menuangkan air teh kedalam gelasnya masing-masing dan meminumnya penuh rasa ni'mat, ci teh na ngebul cingcirining panas keneh, air tehnya beruap menandakan masih panas. Ada 2 thermos disana.

Wow! saya pun ingin sekali, untuk menetralisir rasa manis yang pekat dari kurma di rongga mulut.
" OK, but wait and be pasient please " saya menjawab agar dia bersabar dulu.
Eh, tiba-tiba orang ini nyerocos bicara dengan nada tinggi dan marah kepada saya, singkatnya menyesalkan saya karena tidak mengindahkan permintaannya!.
" Beu, beu, beu.., boga hak naon maneh make jeung nyarekan kuring sagala? " apa haknya dia memarahi saya ?, saya terkejut dan berkomentar didalam hati sendiri.
" Just a moment, wait!!! " saya balik membentak keras.
Mungkin karena melihat melototnya mata saya, dia terdiam. namun sorot matanya memancarkan amarah.

Saya mengeluh dalam hati, Yaa Allah mengapa saya menjadi pemarah? orang bilang saya termasuk yang low profile, sifat yang diturunkan dari embu, ibu saya yang tercinta.
Dari Abu Hurairah ra : Bahwa seorang laki-laki telah berkata pada Nabi saw: " Berilah aku nasihat ". Nabi menjawab : " Janganlah engkau menjadi pemarah " ( HR Bukkhari ).

Akhirnya sebuah thermos sampai juga didepan saya, namun tiba-tiba diambil oleh si Saddam tanpa permisi, seharusnya giliran saya dulu kan?
Alhamdulillah, saya yang sudah cooling down membiarkan dia " merebut thermos ", rasanya sudah ikhlas walau dalam hati berkomentar.., pek we sok kadinyah! biarlah ambil-lah.
Mungkin juga dia merasa tidak enak karena mendahului mengambil thermos, namun saya memberi isyarat agar dia mengisi gelasnya lebih dulu.
" Please.. " saya mempersilahkan dan memberikan senyuman kepadanya.

Tanpa mengucapkan terimakasih, dia segera memegang gelasnya dan menekan tutup thermos perlahan-lahan, namun airnya tidak mau keluar. Ditekan-tekan lagi tetap airnya tidak keluar.
" Hag siah caina teu kaluar " . Masyaallah, mengapa emosi saya naik lagi? tadi sudah ikhlas, sekarang menyumpahi lagi. Walau umpatan itu spontanitas didalam hati, saya beristighfar terus, bisi aya nanaon, takut ada apa-apa.

Sugesti bisi aya naon naon ini, begitu kuat dalam perasaan saya dan juga mungkin tertanam dalam hati jama'ah Indonesia, bahwa kalau sebelum pergi berhaji mempunyai sifat yang begini,begini, maka nanti ditanah suci mengalami yang begitu,begitu, seperti berbalas pantun lho.

Anggapan ini sebenarnya salah. Allah SWT bukan pendendam, tapi mungkin mengingatkan atau menyentil hambanya yang melakukan hal yang kurang baik. Nah ditanah suci ini sepertinya timbul refleksi dari kelakuan masing-masing, mungkin begitu.

" Kang Saddam " tidak mendapatkan air teh yang panas, matanya menatap kepada saya, seakan-akan meminta tolong, tatapannya ini membuat hati saya menjadi luluh.
Saya tekan tutup thermos, air tidak juga keluar. Tutupnya dibuka, ternyata isinya kosong, air tehnya sudah habis!

" Look, empty.. " .
Dia kembali marah, bicara nyeroscos keras, sehingga orang-orang disekeliling melihat kearah kami, kunaon pasea nya, mengapa bertengkar?

Kembali saya mengeluh didalam hati sambil mengingat-ngingat dosa apakah yang telah saya lakukan sebelum ini? ngadon dicarekan deungeun deungeun dinagri batur, mendapat amarah dinegri orang? Selama ini saya hampir tak pernah marah, kecuali....
Yaa Allah, apakah ini berkaitan dengan masalah pembagian warisan dulu?.

Saya pernah marah besar kepada adik bungsu saat menyelesaikan warisan, karena dia tidak menghargai saya sebagai kakak, sementara istrinya yang mempunyai sifat antagonis ikut campur dalam masalah warisan ( hal ini saya tulis karena berkaitan erat dengan sebab akibat, saya dimarahi orang adalah akibat dari memarahi adik? wallahualam ). Seumur-umur saya baru marah, saat itu sampai berteriak-teriak keras kepada adik saya. Sebenarnya saya bersedih hati, karena belum bisa mengindahkan amanah ibu kudu akur jeung dulur. Berulang kali menyambung silaturahmi dimulai dari saya, akhirnya membuahkan hasil, dia datang seorang diri pada pernikahan anak saya yang kedua, alhamdulillah.

Saya menyesali diri pernah marah kepada adik yang sebenarnya sangat saya cintai. Dan kini merasa pantas dimarahi orang lain disini ditanah suci didalam Masjidil Haram.

Tiba-tiba terdengar iqomah, shalat maghrib akan segera dimulai. Semua jama'ah berdiri termasuk Kang Saddam. Dia menempatkan thermos didepan..

Pada raka'at pertama, saat sujud kedua, thermos kasepak ku nu dihareup, tersenggol oleh yang didepan, tutupnya terbuka persis dimuka Kang Saddam yang lagi sujud. Sekilas terlihat dia ngagebeg reuwaseun, terkejut dan reflex menggeserkan kepalanya menjauhi thermos!


Jujur saja, hilang konsentrasi sholat karena melihat kejadian ini, tah kitu karaosnya, nah lu rasain. Masyaallah ( saat menulis ini jadi merasakan betapa pentingnya pelatihan sholat khusyuk dari Ustadz Abu Sangkan, sangkan bisa konsentrasi dalam sholat )


Usai sholat bukannya berdo'a dulu, saya langsung bicara : " Saved by emty thermos! if full .. your face? " Beruntung thermosnya kosong, apa jadinya kalau masih berisi air panas tumpah mengenai matanya..

Kang Saddam memandang saya tanpa berkata-kata, tiba-tiba dia memeluk saya erat-erat sambil capa-cipi, cium pipi kanan cium pipi kiri. Saya merasa jengah dan melepaskan diri dari pelukannya. Dia minta maaf berkali-kali dan berterimakasih kepada saya. Syukurlah dia mengerti kekeliruannya, saya permisi meninggalkannya...

Sambil melangkah menuju tempat air zam-zam, hari ini saya mendapat pelajaran sekaligus diingatkan oleh " Kebetulan yang mengajarkan harus bersabar ".