Jumat, 26 Februari 2010

30. " KEBETULAN " MEMPUNYAI SIFAT SAMA Siapa yang jujur, petugas pompa bensin atau pembelinya?

Tulisan ini berdasarkan pengalaman seseorang yang namanya enggan diketahui yang lain, isin ah ulah diserat nami abdi malu katanya.

Kalau disimak tulisan ini melibatkan dua orang yang sama-sama jujur ditengah kehidupan zaman sekarang yang justru tengah dilanda “kebiasaan korupsi” yang terkadang menghalalkan segala cara, asal mendapat uang walau didapat secara haram. Uang yang dikejar bahkan melebihi dari cukup, melebihi dari kebutuhan yang sebenarnya sudah terpenuhi. Tanpa tenggang rasa kepada kaum miskin disekitar kita.

Kurang lebih jam 20.00 disebuah pompa bensin di Antapani, seorang Bapak akan membeli bensin untuk mobilnya. Beliau meminta kepada petugas disana agar diisi 15 liter serta menyodorkan selembar uang RP 100.000,-- .

Petugas dengan ramah menunjukkan angka nol sebelum mengisi tanki, dibalas anggukan pembeli yang saat itu tengah memperhatikan seorang ibu yang baru datang mengendarai motor untuk mengisi bensin juga.

Ibu ini bersama 3 anaknya yang masih kecil-kecil, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Nampak kerepotan saat berhenti, sementara anaknya yang terkecil nampak rewel.
"Kamana atuh salakina nya?" Zaman sekarang banyak ibu rumah tangga yang strugle cekatan dalam mengurus keluarganya. Apakah ibu ini suaminya sedang dinas luar atau mungkin bekerja diluar kota? Demikian yang ada didalam fikiran Bapak ini.

" Mangga Pa " petugas mengingatkan pengisian bensin sudah selesai sambil menyodorkan uangnya yang langsung dimasukkan kesaku celananya. Bapak ini mengucapkan terima kasih seraya melempar senyum kepada petugas pompa bensin. Selanjutnya menuju Griya untuk membeli beberapa barang untuk keperluan dirinya.

Saat membayar didepan kasir, Bapak ini ngahuleng sakeudeung sebentar berfifkir, uang pengembalian bensin tadi ternyata kelebihan, seharusnya Rp 32.500,- kenyataannya ada Rp 55.000,- . Walaaah!!! leuwih Rp 22.500,- kumaha atuh nya? karunya teuing engke manehna tekor .

Betapa cemas dan gelisah karena mendapat kelebihan uang, Bapak ini segera kembali ke pompa bensin untuk mengembalikan kelebihannya. Tiba disana si Bapak minta maaf kepada petugas, karena tadi tidak memeriksa uang pengembalian.

Petugas pompa bensin, balik yang meminta maaf karena tidak memberitahukan kepada si Bapak bahwa tadi terjadi kesalahan dalam pengisian, seharusnya mengisi tanki 15 liter namun salah mijit tombol, dipijit tombol untuk pengisian 10 liter!. Jadi actual yang diisi senilai RP 45.000,-

Pembaca yang budiman, ada yang bisa dipetik dari cerita ini? Siapa yang jujur?

Coba kita simak sikap petugas pompa bensin, bisa saja dia mengembalikan uang “sesuai permintaan pengisian bensin” Rp 32.500,- selisihnya Rp 22.500,- bisa masuk kantung sendiri. Bukankah Bapak Si pembeli tidak tahu bahwa yang diisi hanya 10 liter. Bapak ini dari tadi hanya memperhatikan seorang ibu dengan 3 anaknya!, tidak mengikuti dan menge-check pengisian bensin.

Bapak pembeli bensin sebelumnya tidak tahu kalau tanki bensin mobilnya hanya diisi 10 liter saja. Yang dia tahu ada kelebihan dalam uang pengembalian, ini yang membuat gelisah sehingga harus “mengembalikan” ke petugas pompa bensin...

Abu Abdillah Nu’man bin Basyir ra berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda :
“Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas. Sedangkan diantaranya ada masalah yang samar-samar (syubhat) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukumnya). Barang siapa menghindari yang samar-samar maka ia telah jatuh kedalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang berada di dekat pagar (milik orang lain), dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki pagar (aturan). Ketahuilah bahwa pagar Allah adalah larangan-larangan-Nya. Ketahuilah bahwa didalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya. Dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa swgumpal daging itu adalah hati “ (HR Bukhari dan Muslim).

28. " KEBETULAN " YANG MENGINGATKAN RASA IKHLAS AKAN BERBUAH KENIK'MATAN. Membeli kue dari penjual yang buta.


Cunduk kana waktu ninggang kana mangsa tibalah waktunya saya memasuki masa pensiun. Awalnya ada perasaan ning-nang asa nincak asa heunteu serasa melayang, benarkah saya pensiun? Lebih setengah waktu hidup saya dihabiskan untuk bekerja, bekerja dan bekerja! Kini saya jobless! Mempunyai banyak waktu senggang, moal diudag-udag deui ku, dikejar-kejar oleh Bu Sisil, sebutan “akrab” anak-anak produksi untuknya yang jelas-jelas tak disukai dan membuat marah besar kalau didalam memo tertulis Bu Sisil, karena seharusnya ditulis Caecilia.

Saya tak akan lagi ditagih-tagih hasil produksi oleh crew marketing : Irene, Ida, Erna dan Elis yang semuanya cerewet luar biasa! Yang tidak mau tahu keterlambatan delivery dari bagian produksi ke bagian “making-up” karena ada masalah di produksi, misal ada perbaikan mesin.

Saya bekerja di PT Bintang Agung di bagian PPIC, Planning Production Inventory Control . Suatu bagian yang menurut buku Production Systems tulisan James L Riggs ibarat shock breaker, dari atas mendapat tekanan dari bagian marketing, dari bawah ada bagian produksi!. Marketing mengejar target penjualan, sementara di bagian produksi ada masalah, PPIC lah yang menjembatani dua bagian ini dengan rencana-rencana baru.

Pensiun tidak membuat postpowersyndrome! Mengisi waktu pensiun, saya membaca, menulis dan membuka usaha cuci motor di Cingised. Dari perhitungan kasar sebenarnya usaha ini tidak “menjanjikan”. Namun saya pikir tidak ada salahnya untuk dicoba.

Alhamdulillah, saya mempunyai kegiatan baru, bisa ber-interaksi dengan berbagai kalangan. Mereka yang datang untuk mencuci motor selalu diajak bicara oleh saya. Sering istri dan anak-anak datang ketempat cuci motor, ikut “nimbrung” atau sekedar “ngadon ngarujak” makan rujak.

Nah, disuatu pagi di hari minggu, lewat didepan dipinggir jalan seorang penjual kue yang berjalan menggunakan tongkatnya. Dia seorang yang matanya hampir buta membawa berbagai macam kue kering dalam bungkusan plastik besar.

Dipanggilah dia oleh istri saya, kemudian kue dagangannya diborong dibeli banyak, macam-macam kuenya : ada japilus, semprong, kripik pisang, sukro dll. Total semua 35 ribu rupiah!

Alma, anak saya menegur ibunya, mengapa membeli kue sebanyak itu?. Dijawab keunlah, bagikeuneun, mau dibagikan untuk Bapak-bapak Satpam : Parmin, Ayi, Sugiharto dan Iwan. Lalu keur urang dapur Ma Ekok dan Bu Maman yang sehari-hari membantu pekerjaan di rumah. Alma nampak baeud, tidak setuju membeli kue sebanyak itu.

Saya? Setuju mengingat Si Akang pedagang yang buta ini telah bersusah payah menjual kuenya, dia tidak menjadi seorang pengemis. Istri saya sama pemikirannya ingin membantu agar dagangannya cepat habis.

Siang hari kue dibagikan, tersisa 2 bungkus diatas meja makan sampai sore tidak ada seorangpun yang menyentuhnya, akhirnya dimakan oleh saya!. Selesai riwayat kue ini, semua sudah habis!.

Kue sudah habis? Ternyata ketika saya pulang dari sholat Isya berjama’ah di mesjid Al Ghofur, ada lagi kue diatas meja makan! Sungguh mengherankan mengapa ini terjadi.

Ya benar, malam-malam ada seseorang yang mengetuk pintu dan menyodorkan sebuah kotak berisi kue yang harum, berbentuk bulat besar dan tebal berwarna coklat dengan irisan tebal keping-keping “coklat putih” menempel disekeliling pinggir kue. Siapapun yang melihat kue ini, pasti ingin memakan dan merasakan manisnya. Aroma tiramisu-nya terasa enak, amboooi ! dijamin lezzaaat.

Siapa yang mengirim kue malam-malam begini? Pengirimnya ialah mantan murid istri saya yang sudah mendapat pekerjaan di pulau Batam. Sengaja datang kerumah mengirim kue sebagai tanda terima kasih kepada istri saya, yang telah mengupayakan dia bekerja di Batam.

Saha? Iraha? Teu inget-inget acan.., sungguh istri saya sebagai gurunya tidak ingat kepada tamu muda ini, maklum murid yang diajarinya begitu banyak, dari tahun ke tahun datang silih berganti. Kalau toh ingat biasanya pada murid-murid yang pintar, atau yang nakal kabina-bina keterlaluan atau yang bodo pisan!. Kalau yang sedang-sedang saja mah..., lewat! Tidak akan ingat.

Sepulangnya tamu muda, Alma ingin segera memotong kue dan menyantapnya! Namun sebelumnya saya mengingatkan agar mengucapkan alhamdulillah, sungguh ini rezeki dari Allah SWT.

Saya mengingatkan kembali kepada semua, hikmah Mamam membeli “kue kampung” seharga 35 ribu rupiah dengan hati ikhlas dan membagikannya kepada orang lain dengan ikhlas pula, “diganti” dengan kue yang harganya jauh lebih mahal hampir 3 X lipat!.

Alma termenung diam, istri saya matanya berkaca-kaca, sungguh suatu “ Kebetulan yang mengingatkan rasa ikhlas akan berbuah kenik’matan “. Icha si bungsu matanya berbinar-binar minta segera dipotongkan kue, untuk segera dicicipi.

Saya bersyukur kepada Allah SWT, hari ini mendapat pelajaran tentang makna “ikhlas” khususnya kepada Alma anak saya tercinta,

Rabu, 24 Februari 2010

27. “ KEBETULAN " YANG MERUBAH RASA TAKUT MENJADI TENANG Tersesat di Kota Samarinda


Setelah lebih dari sebulan tinggal di Bandung, Amanda anak sulung saya dan Qiqok cucu harus kembali ke Samarinda. Mereka datang dalam rangka menengok Icha si bungsu yang sakit thypus sehingga dirawat di rumah sakit Santo Yusuf Bandung. Saya yang mengantar mereka pulang karena Rudi tidak bisa menjemput istri dan anaknya, sibuk dipekerjaannya.

Senin pagi Jam 04.15 start dari Bandung Super Mall naik bus Primajasa langsung menuju Bandara Soekarno Hatta Jakarta, serasa sekejap karena didalam bus langsung Zzzzz tidur pulas. Terbangun saat bus berhenti di pool Air Asia, pesawat dari maskapai penerbangan inilah yang akan membawa kami ke pulau Kalimantan.

Bagasi diturunkan dari bus, langsung saya ambil. Koper besar, tas, tentengan kecil. Namun ada dus karton dan tas kulit warna coklat tergeletak tanpa ada yang mengambilnya. Aduuh, kenek bus Primajasa gegabah sekali menurunkan barang tanpa memastikan milik siapa ini?. Bus telah menghilang entah kemana.

“ Karunya teuing nu bogana bakal leungiteun “ . Saya merasa kasihan kepada pemilik tas ini, nanti akan kehilangan. Tertulis didalam tiket Primajasa, nomor Telepon dan HP kantor namun ketika dihubungi tidak ada yang mengangkat baik kantor Bandung maupun kantor Jakarta. Akhirnya barang tersebut saya titipkan ke satpam kantor Air Asia, nama Satpam saya ingat-ingat, barangkali nanti diperlukan.

Saya dan Amanda segera menuju ruang tunggu menanti saat pemberangkatan pesawat. Disini saya masih mencoba mengontak pihak Primajasa lagi namun gagal. Amanda menegur saya: “ Sudahlah kok papap jadi repot “.

Pesawat Air Asia mengangkasa membawa kami melintas laut Jawa menuju Balikpapan. Qiqok didalam kabin teu daek cicing sagala dioprek nggak mau diam membuat mamahnya kewalahan. Beginilah masa-masa repot mengurus anak namun kalau dinikmati dan hati merasa ikhlas, banyak hal yang bisa dipetik manfaatnya, diantaranya peran seorang ibu lebih terasa. Teringat dulu waktu Amanda dan Alma adiknya masih kecil, saya dan istri bersama silih berganti mengurus anak-anak, enjoy saja, easy going saja, tidak mengeluh tidak merasa stress.

Saudara saya ada juga yang memiliki anak, namun sering luh-lah humandeuar berkeluh kesah kepada neneknya. Apa jawaban yang diterima dari nenek? “ Naha make jeung luh-lah sagala, teu cara nyieunna ngadedempes di nu poek!! “ mengapa mengeluh ngga seperti waktu bikin anak diam-diam ditempat gelap!. Nenek ini memang togmol bicara apa adanya. Hik hik hik, jaman nenek di nu poek ari ngadamel budak , jaman sekarang mah di nu caang ge..., derr we!!.

Mendarat di Bandara Sepinggan Balikpapan, jam 07.30 WIT , alhamdulillah selamat. Sambil menunggu jemputan yang akan membawa kami ke Samarinda, saya mencoba call Primajasa lagi dan berhasil!! . Rupanya baru sekitar jam 08 melayani calling dari customer. Pihak Primajasa mengucapkan terima kasih kepada saya atas informasi ini, mereka akan menelusuri barang yang salah diturunkan ke Satpam Air Asia.

Amanda mengomentari kok papap ini baik sekali ya, mau-maunya terus-terusan menghubungi Primajasa, menghabiskan pulsa, Enya nya benar juga bicara panjang lebar dengan petugas Primajasa, sisa pulsa tinggal Rp 780,-! Mana baterai HP harus di-charge urut dipake titatadi. Bekas dipakai sejak tadi di Jakarta.

Namun didalam hati, saya hanya merasakan kalau dibalikan kepada diri sendiri, kehilangan barang kumaha tah?! Bagaimana?!. Tentu akan mendapatkan kegembiraan kalau barang yang hilang kembali lagi. Itu saja, tidak ada maksud lain, misal mendapat imbalan atau pujian dari yang lain.

DI Samarinda rencana tinggal seminggu, anak saya akan mengajak saya seight seeing ke musium Tenggarong yang dulunya istana Raja Mulawarman. Saya sendiri ingin shalat di Islamic Centre yang berdiri megah ditepi sungai Mahakam. Namun yang lebih dahulu saya kunjungi justru toko buku Gramedia.

Usai shalat maghrib saya pamit ke Rudi menantu saya mau jalan-jalan ke Gramedia. Rudi menjelaskan rute yang harus ditempuh dan berpesan agar hati-hati. Saya memutuskan jalan kaki saja, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sekitar 2 kilo meteran. Tiba di Gramedia saya melihat-lihat buku, membaca ditempat, mencatat yang diperlukan tanpa membeli satu buku pun. Ituh geura tuh kan pada kenyataannya tidak membeli buku!

Menjelang tutup toko saya keluar dari Gramedia. Dihalaman Mall saya mengingat-ingat arah mana yang harus dituju? Ada beberapa jalan yang membingungkan, rasanya semua sama. Saya mengambil jalan paling kanan, menelusurinya pelan-pelan, makin kedalam jalan ini semakin gelap, kiri kanan kios-kios tanaman. Untunglah saya tiba disuatu komplek perumahan yang terang benderang. Disini saya mencari jalan yang pernah saya lewati tadi, namun benar-benar tak ingat jalan yang mana? Akhirnya saya kembali ke arah kios tanaman yang gelap. Hp bergetar, sms dari Amanda mengingatkan jangan malam-malam pulangnya! Saya jawab lagi dijalan menuju pulang.

Saya merasa heran, dikomplek ini begitu sepi, tiada seorangpun tempat bertanya! Keringat mulai mengalir deras tepi ka kelek ge baseuh cipruk sampai-sampai ketiak basah kuyup. Iyalah jalan kesana-kemari ditambah udara Samarinda yang panaaaas, membuat saya berkeringat deras.

Saat masuk ke kios tanaman yang gelap, jauh dari arah depan nampak bayangan putih menghampiri saya. Euleuh-euleuh boa-boa pocong?! Aduuh, jangan-jangan pocong, Sebenarnya saya termasuk pemberani, namun jujur saja malam ini asa keueung agak takut juga.

Bayangan putih ialah seseorang yang memakai jubah putih mengenakan peci haji putih, saat melewati saya matanya memandang tajam namun mengucapkan “Assalamu’alaikuum”. Sayapun menjawab : “ Wa ‘alaikumsalaam “ . Tegur sapa ini langsung mententramkan hati saya.

Tak lama terdengar suara motor dibelakang, sorot lampunya tidak begitu terang dan berhenti disebelah saya. “ Assalamu’alaikum, Pa mau kemana? Ayo saya antar” suaranya ramah. Dialah orang yang tadi berjubah putih, menawarkan diri untuk mengantar saya. Alhamdulillah.

Dalam perjalanan ke alamat yang saya sebutkan, dia berceloteh bahwa entah bagaimana tidak seperti biasanya dia ingin melewati jalan ini, sehingga bertemu dengan saya. Dia merasa saya bukan penduduk disini. Dia menjelaskan belum lama memeluk agama Islam, sebelumnya hampir tak mengenal pelajaran agama. “Saya sebelum masuk Islam, preman Pa! Sering berbuat jahat, berkelahi, menusuk orang!” Beu! Ieu teh mantan preman geuning..”.

“ Rabb semesta alam senang dengan taubat hamba-Nya melebihi senangnya seseorang yang tersesat tatkala menemukan kembali jalannya, atau seseorang yang haus ketika mendapatkan minuman”

“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia mohon ampun kepada Allah, niscaya dia mendapat Allah Maha Pengampun lagi Penyayang” (An-Nisaa 110).

Tibalah dirumah dengan selamat, dia menolak keras ketika saya sodorkan lembaran 10.000 an.” Saya ikhlas mengantar Bapak kesini ” katanya seraya tersenyum menampakkan giginya yang berderet putih, kontras dengan kulitnya yang hitam legam. Siapa dia? Aduh saya lupa tidak menanyakan namanya.

Setelah selesai makan malam, saya ceritakan kepada Amanda dan Rudi tadi nyasab kukurilingan kesasar berputar-putar sampai ditolong seseorang diantar sampai kedepan rumah. Amanda kaget mendengar hal ini dan bersyukur saya selamat. Dia tercenung memandang saya, membuat saya heran, ada apa Nda?

Papa waktu di Bandara Soekarno Hatta dan Sepinggan terus-terusan nge-sms Primajasa, hanya sebab barang orang lain yang tertinggal. Artinya berusaha “menolong orang” yang kehilangan. Demikian komentar Amanda.

Alhamdulillah, “ KEBETULAN YANG MERUBAH RASA TAKUT MENJADI TENANG”. Mualaf mantan preman itu semoga menjadi mukmin yang senantiasa dekat dengan Allah SWT.

Katakanlah kepada orang-orang kafir itu, “ Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu “ (Al Anfaal} -38.

Senin, 22 Februari 2010

26. " KEBETULAN " YANG MENGINGATKAN SEMUA MILIK ALLAH SWT Uang dambaan semua orang.

Siapa yang tidak tahu rocker wanita Indonesia Nicky Astria? banyak yang mengetahuinya, utamanya yang hidup digenerasi musik rock Nicky. Walau silih berganti penyanyi rock muncul diblantika musik Indonesia, Nicky Astria rasanya tidak tertandingi.

Sekarang ada group baru dijalur musik Rock namanya KOTAK, bagi saya nama group ini kok begitu? tapi satu lagunya waktu diluncurkan, membuat terngiang-ngiang ditelinga.
" Hey yang ada disana!!! " itu sepenggal refrainnya.

Sepenggal refrain dari lagu Nicky ada yang masih ingat? " Uang! lagi-lagi uang!!! ", berikut syair lagu Uang :

" kapan dan dimana saja,
diseluruh dunia ini uh...
tak habis orang bicara
tak henti orang berdiskusi uh...
tiada bukan, tiada lain
mereka mencari cari dapat
tuk mendapatkan...

ou wow uang! ou wow lagi-lagi uang!

memang uang bisa bikin orang senang
tiada kepalang uh...
namun uang bisa juga bikin orang
mabuk kepayang uh...

lupa sahabat
lupa kerabat
lupa saudara
mungkin juga lupa ingatan!!!

Terkait dengan uang, saya mengalami kejadian-kejadian yang terkadang saya sendiri ngarasa helok tidak mengerti seperti berikut.

Sebelum hijrah ke PT Bintang Agung di Bandung, saya sempat "transit" di PT Yusung Mayertex Purwakarta, mengisi posisi Manager Marketing. Saya jalani dengan ikhlas, mulai mencari order lalu mengkoordinasikan dengan bagian produksi untuk penyediaan bahan baku, proses produksi, pengiriman sampai ke penagihan ke customers.
Jakarta, Bandung adalah lokasi pemasaran yang terkadang harus "dijelajahi" sendiri, sampai-sampai waktu itu saya hafal "jalan tikus" di Jakarta untuk menghindari kemacetan, time is money benar-benar terasa.

Sayang disayang selagi asyik menikmati pekerjaan, terjadi konflik manajement antara Yusung dan Mayertex . Dampaknya kepada kelancaran produksi, sulit mendapat bahan baku. Melihat gelagat begini, sayapun taki-taki siap-siap mencari tempat bekerja, teu kabayang lamun jadi pangangguran.
Sebenarnya saya bisa hengkang begitu saja, tidak perlu menunggu kepastian dari manajemen kapan perusahaan pulih kembali. Namun saya merasa harus membereskan pekerjaan terutama piutang dari beberapa customers. Dalam waktu singkat saya berhasil menarik uang yang kalau di-kurskan sekarang Rp 1.000.000.000. satu millyar neh.

Didalam meeting manajemen, saya melaporkan uang perusahaan berhasil diselamatkan dan akan disetorkan ke "ownwer" Ibu Inggrid di PT Yumatex Jakarta. Disini saya mendapat pressure dari manager-manager yang lain agar uang tersebut dibagikan kepada jajaran pimpinan yaitu manager, wakil direktur dan direktur.

Bingung bingung aku bingung sepenggal lagu lawas Eddy Silitonga berdenging ditelinga. mengikuti permintaan manager yang lain atau tetap pada rencana pertama, mengembalikan uang ke perusahaan?. Satu keputusan harus diambil..., saya minta tempo 1 malam untuk menjawab permintaan teman-teman.

" Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan " (Al-Anbiya 35).

Dalam hal ini manusia diberi hak untuk menentukan pilihannya, baik ia diuji dengan kejahatan maupun dengan kebaikan. Apakah kemampuan memilih itu akan ia pergunakan untuk kebaikan atau keburukan. Apakah ujian dengan dengan keburukan itu akan digunakan untuk menciptakan kebaikan dan kemanfaatan atau sebaliknya? Begitu pula ujian dengan kebaikan, akan digunakan untuk menimbulkan keburukan atau kebaikan.

Dalam posisi sulit untuk memilih diantara dua pilihan, yang paling tepat adalah memohon petunjuk kepada Allah Yang Maha Pengatur, dengan melaksanakan Qiyam al-Lail dilanjut dengan sholat istikharoh. Usai sholat masih belum mendapat keputusan.

Nah, saat akan berbaring untuk tidur kembali, saya memandang istri yang tengah tertidur lelap, dengan nafas teratur penuh rasa damai. Demikian ketiga anak saya, Amanda, Alma dan Ananda semua tidur lelap tumpang tindih.
Masa depan mereka adalah tanggung jawab saya sebagai suami dan bapak, bukan dengan disediakan uang ratusan juta rupiah, namun dengan ketentraman hidup dalam keluarga yang sakinah mawahdah warohmah. Apa yang akan terjadi kepada mereka kalau suatu saat ayahnya ditangkap sebagai koruptor?.

Alhamdulillah, sebelum tidur kembali saya sudah mendapat keputusan, uang perusahaan harus dikembalikan. Namun setan begitu gigih menggoda, esok pagi menjelang berangkat kerja, kembali mendapat bisikan agar uang tidak jadi dikembalikan, kapan ada kesempatan lagi punya uang sebanyak, bukankah semua data keuangan bisa di-didelete!.

Perasaan sabil didalam hati akhirnya sirna setelah mengingat pesan embu, ibu saya tercinta, saat saya akan merantau bekerja, agar hidup jujur. Jig bral geura miang, dido'akeun ku embu sing salamet, omat hirup kudu jujur . Pergilah diiringi do'a ibu semoga selamat, ingat hidup harus jujur.


Bismillah, saya membawa sendiri uang cash yang nilainya besar ini dan diserahkan langsung kepada Ibu Inggrid di kantor PT Yumatex Jakarta. Terbersit dalam hati tentu beliau "mengerti" saya telah berhasil menyelamatkan keuangan perusahaan, maksud saya tentu akan mendapat imbalan atas jerih payah ini....

Selesai serah terima uang, beliau mengucapkan terimakasih seraya menjabat tangan saya. Aduuuh, cukup dengan ucapan terima kasih dan jabat tangan saja?!! Perasaan tak karuan menyelimuti hati saya, betapa saya telah menyelamatkan uang perusahaan, namun dari Ibu Inggrid "yang terhormat" tidak ada imbalannya! misalnya sekedarlah ini untuk uang bensin dan uang makan. Didalam hati saya ngedumel kecewa berat.

Astaghfirullah, bukankah penyelamatan ini termasuk tugas saya sebagai manager marketing, mengapa mengharap lagi uang imbalan? Harusnya saya ikhlas menyelamatkan uang perusahaan ini, mengapa selalu tergoda dengan uang orang lain? Ya kan itu besar sekali nilainya, dina jero hate noroweco dalam hati menggerutu, astaghfirullahal'adziim berulang kali saya beristighfar.

Sekian tahun berlalu, saya anteng digawe tenang bekerja di PT Bintang Agung. Termasuk workacholic-kah kalau saya bekerja melebihi jam kerja yang ditentukan? Orang rumah.., maksud saya istri dan anak-anak sudah terbiasa kalau bapaknya pulang terlambat, hari Sabtu yang nota bene waktu kerja setengah hari, masih saja pulang sore. Hari Minggu yang sebenarnya hari untuk keluarga, saya masih nongol ke pabrik, mengontrol produksi. Dalam setahun attendance ratio angka kehadiran penuh tanpa diambil cuti, idzin. Jam kerja sehari-hari melebihi jumlah seharusnya!
Semata-mata karena mencintai pekerjaan dan semua hasilnya untuk keluarga. Itu saja yang saya lakukan, sama seperti teman-teman yang lainnya.

Nah, boss Bpk Sebastian Kunanda selalu melihat attendance ratio jajaran pimpinan dari semua divisi, yang dilaporkan oleh Ibu Hj Nani sekretarisnya yang someah ramah, bekerja puluhan tahun, single fighter ditinggal suami membesarkan sendiri 2 putra putrinya, salah seorang anaknya berhasil menjadi dokter. Postur tubuh yang super weight tidak menghalangi untuk tetap strugle dalam bekerja sehari-hari.
Atas laporannya, boss bisa menilai loyalitas pekerjanya khususnya level pimpinan pimpinan. Mereka yang baik, diam-diam diberi angpau uang yang nilainya "menggembirakan" bagi siapa saja yang menerimanya. Teman menyebut uang ini duit lalaki-na tidak akan disetorkan ka nu di imah, ka patih goah, ka indung budak..., heuheuy deuh!!.

Saya juga pernah mendapat 2 tahun berturut-turut, masing-masing angpau Rp 750.000,-
suatu nilai yang besar pada waktu itu. Namun uang sebesar itu entah mengapa melayang terbang begitu saja, seakan-akan hanya hinggap ditangan tidak lebih hanya 1 hari saja, lalu pergi lagi. Kemana gerangan uang itu perginya?

Saya mencoba mengevaluasi, mengapa uang yang diterima, hengkang lagi? apakah karena :
- tidak mengucapkan syukur kepada Allah SWT saat mendapat rezeki.
- tidak menyisihkan hak orang lain 2 1/2 % yang ada didalam uang tersebut.
- punya niat tidak baik dengan uang itu, diawali dengan niat moal bebeja ka indung budak!.

Tapi bisa jadi justru uang ini sangat bermanfaat untuk suatu keperluan urgent yang mau tidak mau harus diselesaikan segera. Semua ini seakan-akan disiapkan untuk mengatasi kesulitan yang bakal datang!?.

Saat pertama menerima uang Rp 750.000,- setelah istirahat kerja, jam 15.00, saya mendapat telpon dari rumah, Amanda si cikal masuk UGD RS Muhamadiyah di jalan Banteng Bandung, namun dirujuk ke rumah sakit Hasan Sadikin.
Amanda sejak kecil memang mempunyai riwayat kesehatan yang kurang baik, telapak tangannya senantiasa lembab, basah. Apalagi kalau dirinya merasa stress, butir-butir keringat keluar dari telapak tangannya. Menurut Dr Boed Singadipura (alm) ada indikasi kelainan pada jantungnya.
Biaya yang dikeluarkan untuk 2 rumah sakit jumlahnya Rp 750.000,-!!!.

Istri saya terharu melihat pembayaran biaya rumah sakit sudah beres, alhamdulillah papap ada persediaan uang geuning..., katanya. Saat itu sebenarnya Amanda sudah mempunyai perlindungan asuransi namun tidak dengan kesehatan, hanya bea siswa pendidikan dari Asuransi Jiwa Bumi Putera 1912.

Penerimaan uang yang berikutnya jumlahnya sama Rp 750.000,-, diterima siang hari, sore harinya, saya dan istri rindu ingin bersilaturahmi dengan embu, ibu saya di Ciumbuleuit. Kami berangkat setelah membeli terlebih dahulu awug makanan terbuat dari tepung beras berbentuk kerucut, didalamnya ada gula merah yang meleleh karena panas . Lalu disempog diiris dan ditaburi parud kalapa. Embu resep pisan awug.

Di perjalanan kami mendapat hambatan, mobil yang dikendarai mogok dijalan Dago didepan SMA Negeri I, pemeriksaan singkat tidak mendapat kelainan. Namun mobil tetap tidak bisa jalan.

Saat itu ada yang menghampiri saya dan berkata : " Mobilnya mogok ya pak ". Entah dari mana datangnya orang ini, tahu-tahu sudah ada disamping saya. Dia mengenakan werkpack warna abu-abu seperti seorang montir bengkel.

Benar dia montir bengkel dari jalan Wastukancana, kebetulan sedang "nangkring" tak jauh dari mobil saya. Dia mendapat panggilan untuk memperbaiki mobil di sebuah rumah di jalan Dago, namun diminta menunggu sebentar oleh pemilik mobil yang masih dalam perjalanan pulang kerumahnya. Dia "seakan-akan menunggu saya" karena mobil bakal mogok!!.

" Atuh nuhun kang, sok pangmarioskeun" saya berterima kasih dia mau memeriksa mobil saya.
Satu bagian satu bagian dia memeriksa mesin, lau dicoba dihidupkan, namun belum berhasil sampai kurang lebih 1/2 jam, dia menyeka keringat dan memberi kesimpulan koilnya harus diganti, juga dia menunjukan busi-busi yang sudah "tumpul ujungnya" . Saya mengiyakan saja, habis mau bagaimana?.

Dia meninggalkan saya setelah dibekali uang untuk membeli spare part. Istri saya noel bari ngaharewos lalaunan menjawil dan berbisik : " Papap! kumaha mun manehna teu balik deui!?"
Insyaallah perasaan sih dia orang baik-baik, saya membesarkan hati istri saya walaupun kepikiran juga, bagaimana mun terus kabur?.

Kurang dari 1/2 jam dia datang, alhamdulillah punten Kang abdi su'udzon saya minta maaf dalam hati. Tak lama mesin mobil dicoba dihidupkan... tokcer!.
Dia menyerahkan bon pembelian sparepart yang nilainya euleuh tujuh ratus rebueun!!, can kaitung ongkosna..., masih ada didompet 50.000 rupiah lagi. Ya saya berikan sisanya kepadanya sambil mengucapkan terimakasih. Dia pun mengucapkan terimakasih seraya menghidupkan mesin dan pergi diikuti pandangan mata saya sampai menghilang di kejauhan.

Perjalanan dilanjutkan ke rumah Embu, tiba sudah lewat waktu sholat maghrib. Disana tidak lama, saya pamit untuk pulang. Tidak lebih dari 1 minggu kemudian, saya mendapat khabar Embu masuk rumah sakit Advent karena sakit syrosis.

Uang, semua orang mendambakannya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tolok ukur seseorang sukses dalam hidupnya diukur dari uang. Namun uang tidak menjamin kebahagiaan, uang bisa datang bisa cepat pergi. Yang terbaik adalah mensyukuri ni'mat yang diberikan Allah SWT saat mendapat rezeki, mendapat keni'matan.

Rabu, 17 Februari 2010

25. " KEBETULAN " YANG MENIMBULKAN SUGESTI 3 putra teman dipanggil Yang Maha Kuasa diusia yang sama.

" Oom apa khabar? " , seseorang menyapa saya dari arah belakang, siapa dia? tak dapat ditebak, maklum cukup lama saya tidak datang ke komplek Sadang Sari Permai di Purwakarta setelah saya hijrah kembali ke kota kelahiran di Bandung.
Yang menyapa saya ialah Adi putra sulung Bpk H Yanto Supriyanto, teman saat dulu sama-sama bekerja disebuah perusahaan modal asing, PT Indonesia Asahi Kasei di Jatiluhur. Saya mengetahui anak muda ini sejak masih bayi, balita sampai menjelang dewasa.
Sekarang berdiri dihadapan saya, sosok pemuda dewasa wajahnya kasep, ganteng tersenyum mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Tentu saja saya merasa pangling setelah sekian tahun tidak bertemu.

Ngobrol singkat dengan Adi diwarung Batak, saya menanyakan cita-citanya nanti mau jadi apa?. Dia mengatakan ingin masuk Akabri. Insyaallah bisa terlaksana, asal Adi terus belajar dengan baik, jaga kesehatan, kalau ada yang menawari narkoba katakan No ways!! dan jangan lupa senantiasa berdo'a kepada Allah Yang Maha Menentukan. Masih cukup waktu mempersiapkannya karena sekarang baru duduk dikelas 2 SMA, demikian saya memberi support kepadanya.

Menjelang adzan dhuhur, Adi beserta ayah, ibu dan adiknya lewat didepan rumah, mereka akan pergi berenang ke Cikampek, sempat mengajak saya untuk turut bersama. Saya katakan sebentar lagi harus pulang ke Bandung. Mereka pamit, Adi yang memegang kemudi menganggukkan kepala sambil tersenyum.

Hari Senin menjelang istirahat jam 12.00, saya mendapat informasi dari sekretariat bahwa ada telpon dari Purwakarta, dari Bapak H Natsir Nataatmaja menyampaikan berita duka, Adi putra Bapak Yanto meninggal dunia karena kecelakaan.

Masyaallah! saya menjerit kaget mendengar khabar ini, tak kuasa menahan kesedihan, menangis sendiri dimeja kerja, betapa Allah SWT memanggil Adi secepat ini. Masih terngiang-ngiang ditelinga, obrolan singkat kemarin di hari Minggu pagi. Masih terbayang anggukannya ketika kemarin saya beri nasihat jangan tergoda narkoba. Kini Adi telah tiada?

Saat melayat ke rumah duka, saya mendapat penjelasan mengenai kecelakaan yang menimpa Adi. Senin pagi diantar ibunya kerumah seorang teman untuk belajar bersama di daerah Simpang Pasar Rebo. Menjelang pintu lintas kereta api, mobil terhenti karena kereta api jurusan Jakarta-Bandung akan lewat.
Adi meminta idzin kepada ibunya untuk turun dan berjalan kaki, karena rumah temannya ada diseberang jalan kereta api. Sempat diingatkan oleh ibunya agar berhati-hati. Adi melambaikan tangan ketika ibunya memutar balik mobil dan pergi kearah Pasar Rebo.

Usai berbelanja dan kembali ke rumah, Ibu Yanto terheran-heran melihat banyak kerumunan orang dijalan di depan rumahnya, Ada apa?
Sungguh cobaan yang berat yang dialami ibu ini, tadi pagi mengantar anaknya dan ketika pulang Adi sudah "mendahului pulang", jenazah tiba dirumah sebelum ibunya pulang ke rumah.
Sementara saat terjadi musibah kecelakaan, ayahnya sedang dalam perjalanan dinas ke Tanggerang.
Pagi-pagi sebelum ayahnya berangkat, Adi merajuk minta dibelikan "setelan putih-putih", karena permintaan kepada ibunya ditolak, karena setelan yang lama masih bagus. Yang dimaksud adalah seragam putih pengibar bendera pada upacara 17 Agustus, Adi termasuk anggota Paskibraka di Purwakarta.
Saya terenyuh mendengarnya, semoga Bapak H Yanto Supriyanto sekeluarga, bersabar dan menerima keputusan Allah ta'ala.

Nabi Muhammad SAW bersabda :
" Sesungguhnya Allah SWT tidak meridhoi ganjaran selain surga bagi hamba-Nya yang mukmin, yang jika ditinggal mati oleh orang yang dicintainya dari penduduk bumi (anaknya) ia bersabar dan mengharap pahala serta mengucapkan apa yang diperintahkan kepadanya. " (HR Nasa'i dengan sanad yang shahih).

Adi kembali keharibaanNya diusia yang masih muda 17 tahun, saat duduk dibangku sekolah kelas 2 SMA. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun.

Setahun berlalu sudah, peristiwa kecelakaan Adi hampir terlupakan, namun teringat kembali setelah terjadi peristiwa yang hampir mirip, sebagai berikut :

Seorang teman kerja, Bpk Soewendro mendapat kecelakaan dalam perjalanan menuju ke Bogor. Informasi dari putranya, beliau dirawat di Rumah Sakit PMI Bogor. Kami dari bagian Dyeing Finishing PT Bintang Agung Bandung, diantaranya Bpk H Surya Pranata, Bpk Suhendi sepakat akan menengok beliau pada hari Sabtu berangkat seusai kerja jam 13.00 siang.

Menjelang sore tiba di rumah sakit, ternyata Bpk Soewendro sudah dibawa pulang anaknya ke Bandung, atuh puguh hanjelu merasa menyesal jauh-jauh dijugjug anggang-anggang diteang, dari jauh kudatang yang ada hanya bayangan...

Kembali menuju Bandung selepas maghrib, Bogor, Puncak, Cianjur, Padalarang dilalui dengan lancar. Sepanjang jalan tak henti-hentinya kami bergembira penuh canda gurau, tak terfikirkan oleh Bpk Surya, saya atau juga oleh yang lain bahwa sesuatu akan terjadi.....

Tiba dirumah sekitar jam 23.00 malam. Istirahat sejenak lalu mandi dengan air hangat. Jam hampir menunjukkan jam 24.00 telpon berdering.
"Selamat malam Pak Achmad, saya Bagio mau mengabarkan ada kecelakaan..."
Kecelakaan?! terfikirkan ada kecelakaan kerja di pabrik, karena Bagio ialah petugas di bagian sekretariat PT Bintang Agung, yang sering memberikan bewara berita apa saja yang terkait dengan pekerjaan kepada jajaran pimpinan divisi pabrik.
"Putra Bapak H Surya meninggal karena kecelakaan" lebih lanjut.

Saya segera menuju Suka Asih Ujung Berung. Disana sudah berkumpul tetangga, keluarga dan teman kerja. Namun Bapak H Surya tidak nampak, sedang pergi mengambil jenazah ke rumah sakit Santo Yusuf di daerah Cicadas.

Penjelasan dari keluarga, tak biasanya Bayu keluar malam untuk sekedar main bersama kawan-kawan. Anak ini type pendiam lebih suka tinggal dirumah daripada abring-abringan teu puguh Namun pada malam minggu ini didesak oleh temannya untuk keluar rumah main ke Jalan Dipenogoro menyaksikan acara kebut-kebutan anak muda Bandung. Tadinya menolak terus , namun akhirnya pergi juga, setelah ibunya mengatakan jig kadituh sakali-kali kaluar ulin pergilah sekali-kali main.

Bayu yang saat itu nongkrong duduk dipinggir trotoar, tersambar sedan Fiat yang ngebut, zigzag dan lepas kendali sehingga nyelonong kepinggir jalan, menyambar Bayu! teman lainnya selamat.
Masyaallah! kecelakaan maut di jalan Dipenogoro adalah rahasia Illahi.

Bukankah tadi di rumah anak muda ini enggan pergi, artinya kalau tinggal dirumah akan selamat. Sekarang jadi begini, pergi ke jalan Dipenogoro seakan menyongsong maut!
Saya turut mengantar jenazah yang dikebumikan di Tarogong Garut pada hari MInggu keesokan harinya.
Do'a Ali binThalib :
" Ya Allah hambamu dan anak hambamu telah datang kepada-Mu hari ini. Engkau sebaik-baik yang didatangi. Ya Allah luaskanlah kuburannya, ampunilah dosa-dosanya karena sesungguhnya kami tidak mengetahui kecuali kebaikannya sedangkan Engkau lebih tahu tentangnya ".

Bayu telah berpulang ke hadirat Illahi Robbii, diusia 17 tahun saat masih duduk dibangku kelas 2 SMA, mengingatkan saya kepada almarhum Adi.

Dalam buku Panduan Mengurus Jenazah tulisan Sami Salim, saya membaca kalimat dihalaman 15 sebagai berikut :
" Kalangan ahli ilmu menyatakan bahwa bentuk ciptaan Allah yang terbaik dimuka bumi ini adalah manusia. Manusia keluar dari rahim ibunya dan lahir kemuka bumi ini dalam keadaan menangis, bertubuh kecil, berbobot ringan. Dia keluar dalam keadaan tidak memiliki apapun di dunia ini. Tiada sesuatu pun yang menutupi dirinya dan tiada kekuatan yang menggerakan kakinya ".

Subhanallah siapa yang telah mengeluarkannya dari rahim Ibunya?
Dia-lah Allah Yang Maha Mulia, Maha Agung, Maha Pemberi, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dialah Allah Maha Sucilah Allah sebaik-baik Pencipta.

Mengurus jenazah ada ilmunya. Saya ingin mempelajari mengurus jenazah setelah mengalami turut membantu memandikan jenazah putra Bapak H Sadikin, saat saya masih bekerja di PT Bintang Agung.

Saya masih ingat, hari kerja terakhir adalah hari Sabtu jam 12.00. Seperti biasa jajaran pimpinan dari 5 divisi makan siang sebelum pulang di lantai 1 head office. Dari masing-masing divisi ngabring ngaleut ngeungkeuy ngabandaleut berjalan bersama . Saat itu kami bertemu rombongan Bapak H Sadikin dari divisi Weaving ( Pertenunan ) . Kami saling bertegur sapa, beliau memberikan senyuman kepada saya sambil terus melangkah. Saya menyukai beliau terhadap sikapnya yang low profile.

Menjelang pos satpam, beliau menerima khabar melalui hp-nya, harus segera pulang ke rumah. Untuk keperluan ini beliau minta maaf tidak ikut makan siang bersama. Saya bersama yang lain makan bersama diakhiri menyantap buah-buahan hasil dari kebun di halaman pabrik. Saat inilah kami mendengar khabar bahwa putra Bapak H Sadikin meninggal dunia karena kecelakaan. Kami bergegas pergi menuju rumahnya di Margahayu, dibelakang Metro Trade Centre jalan Soekarno Hatta Bandung.

Setiba dirumah duka, suasana sedih sangat terasa, isak tangis saudara dan kerabat silih berganti. Bapak H Sadikin nampak tegar walau perasaan sedihnya tak dapat disembunyikan. Saya mohon idzin kepada beliau untuk ikut memandikan jenazah, membungkus dengan kain kafan sampai siap untuk dishalatkan.

Masyaallah, pada tubuh anak muda ini nampak memar kebiru-biruan, bahkan ada bagian tubuhnya masih mengeluarkan darah segar. Betapa keras kecelakaan ini sehingga menyebabkan nyawa anak muda ini melayang.

Penjelasan dari seorang keluarga, tadi pagi jam 10.00, Aa nampak enggan untuk pergi kesekolah. Bahkan setelah meninggalkan rumahnya dia kemudian balik kembali kerumah. Sampai-sampai digelendeng diingatkan oleh ibunya, lain geura jung-jung indit ka sakola bukannya cepat-cepat pergi kesekolah, malah balik lagi...

Akhirnya Aa berangkat lagi diiringi tatapan mata ibundanya, keluar dari komplek rumahnya sepeda motor menuju arah By Pass Soekarno Hatta. Masuk jalur lambat kemudian dia harus berputar arah menyebrangi jalur cepat, karena arah sekolahnya ke sebelah timur. Saat itu dari arah belakang melaju mobil tanki dengan kecepatan tinggi menghantamnya sehingga tewas seketika.
Putra Bpk H Sadikin meninggal diusia muda 17 tahun, saat masih duduk dibangku SMA kelas 2.
Innaa lillaahi wa innaa illaihi raajiuun.

Rentetan kematian yang " Kebetulan" menimpa 3 siswa SMA, putra dari teman terdekat saya, memberikan sugesti yang begitu kuat pada diri saya sendiri, sehingga sering menimbulkan kegelisahan yang senantiasa saya sembunyikan tanpa orang lain tahu, sampai tulisan ini dibuat.

Mengapa saya menjadi sedemikian gelisah?
Karena saya mempunyai seorang putri yang baru saja naik kelas, dari kelas 1 ke kelas 2 SMA !.
Setiap dia pergi sekolah, selalu saya ingatkan kade upami meuntas jalan sing ati-ati kalau nyebrang jalan harus berhati-hati.
Saya lebih suka mengantar dia kesekolahnya di SMAN 8 jalan Solontongan Buah Batu dengan motor atau mobil.

Saya coba menepis bahwa malaikat maut sedang mengincar lagi anak muda kelas 2 SMA!. Saya mengusir rasa gundah, bahwa anak saya Ananda Putri bukan seorang putra.
Namun bagaimana kalau berikutnya giliran 3 orang siswi kelas 2 SMA akan dicabut nyawanya?
Astaghfirullahal'adziim, laa haula wa laquwatta illa bilahi tiada daya upaya semua kecuali pasrah kepada ALLah SWT.
Berulang kali saya beristighfar untuk melepaskan sugesti ini.

Kematian adalah salah satu tanda kebesaran Allah SWT dan Mukjizatnya. Kita tidak menjumpai didunia ini seorangpun yang yang kuasa menghentikan kematian. Kematian tidaklah takut kepada seseorang.


Senin, 15 Februari 2010

24. “ KEBETULAN " YANG MENGERIKAN Hujan badai di jln Kemuning.

Siang itu surya berapi sinarnya, tiba-tiba redup langit kelam..., sepenggal syair dari lagu Bing ciptaan oleh Titiek Puspa, benar-benar terjadi pada hari Senin tanggal 15 Februari 2010 di kota Bandung. Saya pergi ke kantor pos pusat di dekat Alun-alun, untuk mengirimkan paket berisi sari kurma dan goreng jamur untuk Qiqok, cucuku di Samarinda.

Diloket pengiriman paket ada masalah, saya ditanya petugas yang cantik berbaju oranye apa isi paket kecil ini? Saya jawab apa adanya : “ Sari kurma dan goreng jamur cripsy “. Pertanyaan berikutnya apakah sari kurma berbentuk cairan?. Saya jawab “Ya”.

Tak disangka sebelumnya, ternyata ditolak dengan sedikit penjelasan kantor pos tidak melayani pengiriman paket benda cair! “ Euleuh kumaha atuh nya?” bagaimana nih? . Petugas menyerahkan kembali paket kecil sambil berkata silahkan menggunakan jasa swasta!

Didepan pintu utama kantor pos, saya berfikir sejenak dimana Titipan Kilat terdekat? Namun secepat kilat timbul fikiran untuk kembali ke loket pengiriman, tetapi bukan loket yang tadi melainkan ke loket yang lain!.

Petugasnya lebih cantik dari yang tadi, sama bertanya apa isi paket ini? Saya katakan ini kurma. Dia bertanya : “ Buah kurma? “ sambil terus mengetik bon bukti pengiriman . Saya diam tak menjawab karena sepertinya dia tidak membutuhkan jawaban yang pasti dari saya. Setelah dia menyodorkan bon, sayapun membayar Rp 27.000.- dan mengucapkan terima kasih. Aduuh, kelakuan saya ini salah! Tapi keun bae ah! Swasta juga kan bisa mengirimkan paket barang cair, mengapa disini tak bisa? .

Waktu sholat dhuhur hampir tiba, saya memutuskan sholat di Mesjid Agung saja dan segera pergi meuntas jalan naik ke jembatan penyebrangan yang kondisinya kotor, sampah dimana-mana tidak dibersihkan. Adzan berkumandang saat saya sedang mengambil wudhu. Alhamdulillah siang ini dapat melaksanakan sholat dhuhur di Mesjid Agung.

Usai sholat nampak dilangit mendung menghitam pertanda akan turun hujan lebat. “ Sedia jas hujan sebelum hujan! “. Saya cepat mengenakan jas yang berbentuk celana dan jacket berwarna biru. Benar saja hujan turun bak dicurahkan dari langit disertai kilatan petir berulang-ulang.

Jalan Banceuy, Naripan, belok kiri Braga belok kanan ke jalan Bungsu hujan semakin deras. Saya tetap mengendarai Mio diterpa air hujan belok ke Van de Venter teruus menuju Jalan Gudang Utara. Hujan semakin besar disertai angin kencang saat saya belok kekiri melalui jalan Gandapura kemudian ke kanan melalui jalan yang akan menuju SD Soka, tujuan saya untuk menjemput Icha.

“Braaak!” sepotong kayu patah dan mengenai helm saya, atuh puguh reuwas pisan! sangat kaget dan mengingatkan saya untuk berdzikir dalam hati..., Laa ilaaha ilallah berulang-ulang didalam hati.

Tiba di perempatan jalan Kemuning dan Soka, didepan toko kue Prima Rasa, ada mobil box berwarna putih. Mobil ini akan saya susul dari arah kiri, namun saya urungkan karena melihat air deras meluap dijalan Kemuning . Sejenak berhenti dan tiba-tiba batang pohon tanjung yang berada didepan toko pakaian anak, patah dan menimpa mobil box!.

Masyaallah kalau tadi nekat menyiap mobil itu dari kiri, dipastikan saya akan tertimpa batang pohon yang cukup besar. Kaki terasa lemas, saya harus berhenti meneduh. Segera membelokan motor ke kiri, ke areal parkir Prima Rasa, ada sedikit tempat didepan mobil yang sedang parkir. Disanalah saya berhenti.


“ Braak!!! “ separuh pohon besar Mahoni bagian atas patah dan jatuh ketempat yang baru saja saya tinggalkan diikuti teriakan orang-orang yang berteduh diteras Prima Rasa. Telat sekian detik kalau saya diam tidak beranjak dibawah pohon, saya pasti celaka! tertimpa batang pohon Mahoni!.

Ya Allah saya telah diberi keselamatan dan kesempatan hidup, lolos dari "dua kecelakaan tertimpa batang pohon" berturut-turut. Sungguh mencekam suasana hujan lebat disertai angin kencang dari arah utara.

Kami semua melihat arah angin berubah , yang tadi datang dari arah utara, kini dari arah barat!. Angin ini berputar-putar menuju ke timur, sebagian atap mesjid di lingkungan SD Soka diterbangkan angin kencang.

Pada saat ini disebuah kelas semua anak mengumandangkan adzan dipimpin seorang ibu guru agama, demikian disampaikan anak saya, Icha. Informasi ini mengingatkan kejadian yang sama puluhan tahun yang silam saat saya duduk dibangku kelas 4 Sekolah Rakyat, saya seusia Icha sekarang yang juga kelas 4 Sekolah Dasar. Hujan besar waktu itu bukanlah berdo'a apalagi adzan, melainkan menghunus keris pusaka dan diacungkan kearah langit.! Masyaallaah, suatu perbuatan musyrik dimasa lampau karena pengaruh dari sesorang yang sangat dekat dengan keluarga ibu. Semoga Allah mengampuni dosa keluarga saya yang dulu masih percaya kepada jampi-jampi.

Setengah jam kemudian hujan reda, menyisakan dahan-dahan pohon dan dedaunan berserakan dijalanan. Disebelah timur SD Soka sebuah pohon tumbang. Kondisi ini diliput seorang wartawan harian Tribune. Billboard besar di perapatan jalan A Yani dan Martadinata sampai bisa terlipat dua. Sebuah pohon besar tumbang menimpa atap sebuah rumah makan.

“ Angin itu adalah satu dari kemurahan Allah yang datangnya membawa rahmat (kebaikan) dan ada kalanya membawa bencana. Maka jika kamu melihat adanya angin (yang tidak baik) maka janganlah kamu memaki-makinya tetapi berdo’alah kepada Allah meminta angin yang baik dan berlindunglah kepada Allah dari angin yang jahat. ( HR Bukhari ).

Selasa, 09 Februari 2010

23. " KEBETULAN " YANG MENAKJUBKAN Benar jodoh ditangan Tuhan

Menentukan pasangan hidup dan memutuskan untuk menikahinya, berbeda bagi setiap orang. Banyak yang berprinsip kudu cekel gawe heula! harus punya pekerjaan dulu. Harus mapan sehingga saat pernikahan benar-benar sudah mempunyai bekal, misal rumah. Ada juga yang nekat belum mempunyai pekerjaan, berani nikah!. Saya bagaimana? setelah diterima bekerja di PT Indaci di Purwakarta, belum satu bulan bekerja, nikah dulu ah. Padahal belum punya apa-apa, keun lah rezeki mah nuturkeun saya berpikir praktis saja, utamanya sudah punya pekerjaan!

Berbeda dengan seorang keponakan saya, Beny yang masih melajang diusia 33 tahun, padahal dia seorang Manager Areal diperusahaan berskala internasional, salary tinggi, rumah punya, mobil nya Pajero. Postur tubuh gagah, kasep berwibawa, lengkap sudah!

Pada suatu acara silaturahmi keluarga, saya bertanya : " Kapaaan nikaaah?" jawabnya singkat : " Belum punya calon istri ".
Seperti suatu interogasi, akhirnya terkuak akar permasalahannya mengapa dia belum menikah, bahkan pacarpun belum ada.

Dia ragu mencari pasangan hidup, karena menyaksikan dengan mata kepala sendiri, suasana kehidupan di kota besar. Pria wanita yang sudah berkeluarga kehidupannya bebas. Lepas dari keluarga seperti anak muda lajang lagi, berpacaran, selingkuh! Punya suami punya anak, pulang kerja bukannya cepat pulang, eh berkencan dulu! Yang bujangan lebih-lebih katanya.

Jangan pukul rata seperti itu atuh Ben..., tidak semua wanita berperangai jelek. Banyak contoh keluarga yang sakinah mawahdah wa rokhmah. Banyak istri yang solehah berbakti kepada suami, sejak pernikahan sampai paketrok iteuk usia lanjut, bahkan sampai maut memisahkan mereka.
" Ben, bagaimana kalau Mamang carikan jodoh untukmu? " saya menutup obrolan dengan pertanyaan ini.
" Boleh, boleh Mang! "


Seorang wanita berpendidikan tinggi sudah bekerja di Depatrtemen Perindustrian, saya perkenalkan kepada Beny. 4 bulan berselang saya mendapat khabar hubungannya tidak berlanjut. Naha kunaon? padahal neng geulis yang saya kenalkan berasal dari keluarga baik-baik, berbusana muslim, turunan menak Sumedang.
Ternyata dia tidak terpaut dihati Beny, mengapa? baru pedekate sudah banyak mengatur, demikian penjelasannya kepada saya.
Wah, wah, wah Mat Comblang harus cari lagi nih!, saha atuh nya? siapa dia belum ada orangnya.

Beberapa bulan kemudian, saat sholat Jum'at , saya duduk bersebelahan dengan Ridwan, teman di bagian marketing, sedangkan saya di bagian produksi. Masih ingat dalam benak saya, khutbah jum'at pada saat itu bertema tentang " jodoh ", membuat saya teringat kepada Beny.
Saya berbisik kepada Ridwan punya keponakan yang belum mendapat jodoh. Gayung bersambut dia merespon bisikan saya, kakak iparnya belum mendapat jodoh juga.
Obrolan berlanjut sambil makan siang di kantin. Kami sepakat akan mempertemukan Beny dan Aty kakak ipar Ridwan.

Pulang bekerja menjelang sampai dirumah, saya menerawang jauh teringat kepada Beny, yang berada nun jauh disana di Surabaya, saya berharap dia datang untuk bicara kepadanya, ada lagi calon istri yang mau saya kenalkan.

" Assalamu'alaikum "
" Wa 'alaikumsalaam " suara berat terdengar dari dalam rumah, sora saha nya? suara siapa itu ?. Saya terpana sejenak, dihadapan berdiri sosok yang tadi siang menjadi bahan pembicaraan, kini berdiri dihadapan saya, dialah Beny!
" Euleuh-euleuh, iraha ti Surabaya Ben? ".

Dia menjelaskan, take-off dari Surabaya tadi Jum'at pagi. Ada rencana rapat di kantor pusat Jakarta hari Senin mendatang. Cukup waktu menyempatkan diri datang untuk bersilaturahmi kepada saya.

Ngobrol sana-sini, sampailah ke pembicaraan tentang mencari jodoh. Saya katakan besok Sabtu siang kita ke Panghegar di Ujung Berung, aya ermawar nu keur meujeuhna hegar ngadalingding, sedikit puistis saya mengajak Beny untuk dipertemukan dengan kakak ipar Ridwan.
" Mangga, siap Mang " .

Esoknya sekitar jam 12 siang, kami menuju Pasar Kidul Ujung Berung. Alhamdulillah saya ditampi someah pisan diterima dengan baik oleh Bpk H R Priyatna Danadibrata. Saya berbasa fresh, tidak " berbasa-basi " langsung memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan bersama keponakan Beny, ingin bersilaturahmi dan mempertemukan keponakan saya dengan putrinya, neng R Aty Pryawangi.
Beliau tersenyum dan berkomentar kedatangan kami sungguh mengagetkan. Memang kemarin sudah mendapat informasi dari Ridwan namun tetap saja asa rareuwas pisan.

Singkat padat saya memperkenalkan Beny apa adanya, ingin dipertemukan dengan putrinya. Setelah mereka berkenalan, selanjutnya terserah mereka!
Sayang disayang, tadi pagi putrinya berangkat naik kereta api menuju Jakarta, memenuhi panggilan sebuah Bank untuk wawancara hari Senin lusa, demikian penjelasan Bpk Priyatna.

Ada rasa sesal didalam hati namun apa boleh buat keadaannya demikian. Kami mengobrol tentang segala macam hal sambil menikmati teh manis panas dan goreng singkong yang garing gurih. Sungguh akrab pertemuan ini.

" Assalamu'alaikum " suara halus merdu terdengar dari arah teras.
" Wa'alaikum salaam " serentak kami menjawabnya.
" Eh geuning Aty, naha balik deui ? " langsung ditanya oleh ayahnya.

Sosok wanita zaman ayeuna, memakai celana jeans biru tua, sepatu sport berkemeja putih. Rambutnya yang pirang bak mayang terurai, panjang sampai bahunya , berkulit putih jangkung langsing!.
Tidak saya sendiri yang memperhatikan putri Bpk H Priyatna ini, disebelah saya Beny diam-diam memperhatikan juga.
Tersipu-sipu gadis muda ini menyalami kami, lalu menunduk dan segera masuk keruangan dalam. Namun tak lama dipanggil ayahnya dan duduk bersama.

Dia menjelaskan saat antri membeli tiket kereta api ke Jakarta, kehabisan!, sehingga memutuskan untuk naik bis ke Leuwi Panjang, namun pulang dulu kerumah ingin diantar Agung adiknya ke terminal bis. Pulang dulu kerumah suatu keputusan yang mempertemukan Aty dengan Beny!.

Dengan sangat hati-hati saya menawarkan, kalau tujuan sama ke Jakarta sudahlah berangkatnya dengan Beny saja. Sejenak Bpk Priyatna berdiam diri dan memandang saya dalam-dalam. Hal ini membuat saya merasa telah berkata lancang, mungkin tidak berkenan dihatinya.
Saya mengenal Beny dengan baik, sejak dia masih kecil. Namun bagi ayah Aty, akankah mengidzinkan anaknya pergi ke luar kota dengan seorang pemuda yang baru saja dikenalkan oleh saya!.
Saya balikan kepada diri sendiri yang juga mempunyai anak gadis, hati kecil menjawab tidak akan diidzinkam. " Kumaha mun jelema anyar pinanggih ieu, jelema teu bener? " Bagaimana kalau orang yang baru dikenal ini, "orang ngga bener".

Rasulullah bersabda :
" Aku wasiatkan amanat kepadamu terhadap pemuda-pemuda agar bersikap baik terhadap mereka. Sesungguhnya hati dan jiwa mereka sangat halus. Maka sesungguhnya Allah mengutusku membawa khabar gembira dan membawa peringatan. Angkatan mudalah yang menyambut dan menyokong aku, sedangkan angkatan tua menentang dan memusuhiku ".

Entah mengapa hati saya berdebar-debar, menunggu jawaban beliau. Namun sedikit demi sedikit perasaan saya menjadi tenang, datang kesini dengan suatu niat yang baik ingin menjodohkan Ridwan dengan Aty. Bukankah dalam Islam ta'awun ( tolong menolong ) dalam hal kebaikan, merekatan antara sesama muslim menjadi saudara?
Saya melihat sinar mata Bapak Priyatna sangat teduh dan sebelum berkata beliau tersenyum.......

" Abdi ngawidian Aty angkat ka Jakarta disarengan Cep Beny, wireh percanten ka Cep Achmad!, titip wae pun anak, isin janten ngarepotkeun ". Beliau memberi idzin! dasarnya karena percaya kepada saya yang memperkenalkan Beny kepadanya.

Insyaallah, Beny akan memegang amanah beliau. Dihadapan semua saya berpesan kepada Beny, agar mengantar Aty ke Jakarta dengan baik, selamat dan kalau sudah sampai, kirim berita ke ayahnya.

Saya pamit terlebih dahulu, hati merasa lega berhasil mempertemukan Beny dengan Aty. Sampai dirumah saya bercerita kepada istri bahwa " misi perjodohan " mengarah ke green light! . Tiba-tiba telpon dirumah berdering, diangkat terdengar sesorang yang suaranya saya kenal, menyampaikan maaf tidak bisa silaturahmi dengan saya sekeluarga, karena walau ada di Bandung waktunya tidak cukup untuk datang ke Bumi Parakan Asri. Siapa dia?

Jarak yang jauh antara Jakarta dan Bandung setelah jalan Tol Cipularang dibuka , terasa singkat ditempuh bagi warga Jakarta yang datang ke Bandung. Seperti yang dilakukan Tia keponakan saya, sepulang mengantar anaknya sekolah di Al Azhar Bekasi Barat, melesat stir mobil sendiri ke Bandung, ke Ciwalk untuk sekedar shooping, nanti siang kembali menjemput anaknya.

Pucuk dicinta ulam tiba, yang menelpon saya ialah Tia. kakak kandung Beny. Segera saya jelaskan misi perjodohan Beny sudah memasuki tahap pendekatan. Tolong dipantau karena Beny dan Aty akan pergi bersama ke Jakarta.
" Siap Mang " riang gembira suaranya mendapat "tugas" dari saya untuk mengawasi adiknya.
Beberapa kali Tia kontak ke saya mengatakan Beny dan Aty nampak akrab bersenda gurau selama diperjalanan, gantian memegang kemudi, pokoknya batu turun keusik naek seiring sejalan!.

Selang berapa bulan, saya mendapat surat undangan pernikahan dari Beny dan Aty, alhamdulillah mereka sudah memutuskan untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang pernikahan. Saya menghadiri pernikahannya beserta istri dan anak. disuatu gedung yang tidak asing lagi bagi saya yaitu Balai Besar Tekstil di Cicadas Bandung.

Diruangan ini sekian tahun yang silam saya mulai menjalin cinta dengan seorang gadis, yang menjadi perhatian saya karena sosoknya yang sederhana. Namun sebenarnya selain itu yang menjadi perhatian adalah waktu itu dia memakai rok span warna hitam, bajunya berwarna hijau tua melekat ketat ditubuhnya. Saya tulis apa adanya, tertarik pada dadanya itulah! pada saat itu padat berisi! kik kik kik. Sekarang? ulah dicarioskeun ah ararisin, barina ge teu pararantes teuing nyarios nu kararitu! sudah ngga pantas bicara zaman masih muda.

Disuatu kesempatan, saya bersilaturahmi dengan Kang Benung, ayah Beni saat saya bersilaturahmi si rumahnya.
Beliau berkata bahwa hidupnya merasa bahagia, melaksanakan ibadah haji sudah! menikahkan si bungsu Beny sudah! ..., mangga bade dipundut kunu kawasa ge ikhlas rido !.
Tak lama berselang beliau dipanggil Yang Maha Kuasa. Sungguh perjodohan ini suatu " Kebetulan yang menakjubkan " betapa tidak rentetan kejadian yang dimulai dari khutbah Jum'at tentang jodoh, sampai pernikahan Beny dan Aty, lalu meninggal Kang Benung, mengalir begitu saja.

Saya merasa kehilangan sosok kakak yang care tidak saja kepada keluarganya sendiri, namun kepada yang lain. Beliau telah menolong saya dalam suatu kesulitan besar, sementara saudara yang lain memberi spirit hidup kepada saya dengan nasihat, Kang Benung nyata turun membantu saya sampai all my troubles seem so far away...

Alhamdulillah Beny telah dikarunia 2 putra, kini tinggal di Semarang. Saya sekeluarga merasa dekat dengan keluarga Beny. Ibunya yang kini tinggal sendiri di Kadipaten sering datang ke rumah saya, menginap. Seharusnya saya yang datang ke Kadipaten ya Wa...
Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan keluarga Wa Enden di Kadipaten. Amiin.