Senin, 01 Februari 2010

18. " KEBETULAN " YANG MENGHARU BIRU Bengawan Solo vs Kita Kuni no Haru

Air jernih mengalir disebuah sungai kecil di Ichinomiya, diluar kota Osaka. Ditepi sungai ada dua anak balita sedang asyik bermain air. Mereka menyiduk air dengan kedua tangan kecilnya lalu menumpahkan kedalam ember kecil berulang-ulang.

" Ohayoo gozaimasu " selamat pagi. Saya menyapa dan tersenyum kepada mereka. Sejenak keduanya menengadahkan kepala memandang saya lalu asyik kembali menyiduk air sungai. Saya mengambil sehelai daun lebar yang berserakan dibawah pohon ditepi sungai, daunnya selebar daun jati. Daun ditekuk membentuk kerucut, ujungnya disisakan lubang sedikit.

Mereka berteriak kegirangan, ketika saya menyiduk air lalu mengangkat tinggi-tinggi sehingga air mengucur kedalam embernya. Saya sodorkan daun dan membiarkan mereka menumpahkan air sambil tertawa riang dan keras sehingga terlonjak-lonjak.

" Atarashi tomodachi ga imasu ne " ada teman baru yaa, suara berat terdengar dibelakang saya membuat saya menoleh kepadanya. Ada seorang kakek tua yang terlihat masih sehat dan segar melontarkan senyum kepada saya. Dia sedang mengasuh cucunya disungai.
" Kimi wa doko kara kita no de? " dia bertanya kepada saya, dari mana asal?
" Indonesia "

" Aaa, Indoneshiya! Indoneshiya! Indoneshiya! ne " 3 x dia berteriak membuat saya tercengang heran, kunaon si aki teh? ada apa?.

Ditarik lengan saya lalu kami duduk ditepi sungai. Dari mulutnya meluncur kata-kata yang banyak tidak dimengerti, namun saya menangkap beberapa kata bahwa dia pernah bertugas di Indonesia puluhan tahun yang silam, sebagai Kempe Tai, tentara Jepang.

" Anata wa Indoneshya de doko ni sunde imasu ka "
Ketika pertanyaannya dijawab bahwa saya tinggal di Bandung Jawa Barat kembali ia berteriak.
" Bandong ne!, Bandong ne! Sukabumi, Bogoru, Jakaruta..!.
Begitu kegirangan sehingga sorot matanya tampak berbinar-binar. Namun tiba-tiba sorot matanya meredup, menunduk kemudian melihat jauh ke depan, seakan-akan melewati sungai sampai ke seberang, terus ke pesawahan yang luas menghijau. Ichinomiya adalah daerah pertanian yang subur, bagi saya serasa di Indonesia.
Mungkin kakek tua ini teringat masa mudanya, saat ditugaskan di Indonesia. Sayapun teringat mendiang ayah yang dulu bertempur melawan penjajah Jepang. Kami berdua berdiam diri, membisu 1000 bahasa.

Bangsa Indonesia dan Jepang mempunyai sejarah. Awal Agustus tahun 1945 Perang Pasifik telah mendekati akhir. Tentara sekutu berhasil mendesak kedudukan tentara Jepang diseluruh medan peperangan. Tokyo ibukota Jepang, hancur lebur digempur oleh pesawat terbang sekutu. Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak dijatuhi bom atom yang berakibat dahsyat sekali, ribuan nyawa penduduk sipil hilang, sangat memilukan hati.

Memandang kakek tua ini, saya terkenang ayah almarhum, seorang anggota Tentara Nasional Indonesia di kesatuan Kodam VI Siliwangi.
Dari cerita ibu, betapa perang telah menyengsarakan bangsa Indonesia. Ayah bersama teman seperjuangan melawan penjajah Jepang dan Belanda, keluarga ditinggal dalam kehidupan morat-marit, kekurangan sandang dan pangan.
Apa sebenarnya keuntungan dari perang? Perang hanya menyisakan kepedihan dan kesengsaraan saja.

Dihadapan saya, seorang kakek tua Jepang duduk termangu-mangu, mulut saya terkunci tak dapat berkata-kata hanya bertanya dalam hati : " Pahlawankah dia? ".

Bagi bangsa Indonesia dia musuh! namun bagi bangsa Jepang dia pahlawan!
Ayah saya mendapat anurah Bintang Gerilya, jasadnya dikubur di Taman Pahlawan sebagai jasa telah melawan penjajah negeri Indonesia.
Kakek tua ini, mungkin pula mendapat anugrah bintang sebagai pahlawan bagi bangsa dan negaranya.
Kini saya yang melayangkan pandangan melewati sungai melampaui pesawahan haruskah saya berbaik hati dengan musuh yang dulu menjajah bangsa Indonesia? bagaimana saya harus bersikap sekarang? Pertemuan ini sungguh tak terduga!

" Janganlah kamu bercita-cita untuk berjumpa dengan musuh, maka jika kau berjumpa dengan mereka maka bersabarlah " ( HR Bukhari-Muslim ).

Saya pegang lengannya yang keriput, saya tatap matanya, kami berpelukan erat.
" Sumimasen, anata wa Indonesia no uta..., Bengawan Solo, shite imasu ka? ". Untuk mencairkan suasana yang tegang, saya bertanya apakah tahu lagu Bengawan Solo?
" Mochiron, Bengawan Solo wa Nihon de taihen yumei desu! ". Dia tahu Bengawan Solo. Lagu ini dikenal masyarakat Jepang katanya.
" Gesang san! Gesang san! " lanjutnya penuh semangat. Euleuh geuning.., dia tahu pencipta lagu itu ialah Gesang.

Selanjutnya dia bersenandung namun ragu-ragu melantunkan Bengawan Solo.

" Bengawang Solo, riwayatu mu itu.
sedari duru kara..
( kakek berdiam tak bersuara, lupa lupa lupa lupa lagi syairnya )
jadi perhatian insani ( saya menyanyi, kakek tua bertepuk tangan, ye ye ye katanya )
Musim kemarau tak seberapa airmu
dimusim hujan air meluap sampai jauh
Mata airmu dari Solo
terkurung gunung seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut.
Itu perahu riwayatmu dulu
Kaum pedagang selalu
naik itu perahu. " (
kakek tua bertepuk tangan keras dan cepat sekali )

" Ima watashi wa anata no nihon no uta utaimasu ne " Sekarang giliran saya yang menyanyi, lagu Jepang uing ge bisa, sugaan! saya juga bisaaa, barangkali.
" Bengawan Solo " syairnya menceritakan tentang sungai, maka " Kita Kuni No Haru " tentang musim semi di negeri utara mendapat yang mendapat tiupan angin selatan. Sebandinglah sama-sama menceritakan tentang alam, sama-sama furui no uta lagu heubeul . lagu jadul!.

" Shirakaba ao zora minami kaze
kobushi saku ano oka kita kuni no, aa kita kuni no haru
kishetsu ga tokai de wa, wakaranai daroto
todo itta ofukuro no nonde wa do shiteru
ano furu sato e kaero kana kaero kana "

Kakek tua bertepuk tangan dan melanjutkan menyanyikan bait kedua. Bait terakhir kami bersama menyanyi, dia suara ke satu saya suara kedua. Terasa indah damai, kami berpelukan.
Seminggu kemudian sepulang dari pabrik, saya dijemput salah satu putranya, dijamu makan dirumahnya yang asri ditengah sawah. Luar biasa! Alhamdulillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar