Diradio MQ FM pagi jam 06, diakhir acara siraman rohani dari Aa Gymnastiar, diperdengarkan sebuah lagu karya Iwan Abdurrahman, sesepuh kelompok pecinta alam Wanadri, syairnya sebagai berikut "
Detik detik berlalu dalam hidup ini. Perlahan tapi pasti menuju mati
Kerap datang rasa takut menyusup di hati. Takut hidup ini terisi oleh sia-sia
Pada hening nan sepi aku bertanya , dengan apa ku isi hidupku ini
Kerap datang rasa takut menyusup dihati. Takut hidup ini terisi oleh sia-sia
Tuhan kemana kami setelah ini?. Dengan apa ku isi hidupku ini.
Setahu saya, lagu ini dinyanyikan oleh Gito Rollies alm, yang suaranya serak-serak basah dan Kang Iwan Abdurrahman si pencipta lagu yang suaranya bersahaja, apa adanya.
Kemana kami setelah ini? Allah SWT berfirman :
" Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya, mereka akan mati pula " QS Az-Zumar 30.
Terkait dengan sakaratul maut, saya mengalami 3 x mendampingi orang yang mengahadapi sakaratul maut, mereka ialah :
1. Uha Suryana, beliau adalah seorang kakak ipar dari istri saya. Pada tanggal 14 April 2001 saat berpidato pada acara menerima calon pengantin laki-laki di keluarga RH Budiman Natapura di Jakarta, beliau tiba-tiba jatuh pingsan didekat saya. Kemudian kami membawa ke kamar tidur. Dalam pelukan saya, beliau matanya terpejam. Saya dapat merasakan denyut urat nadi ditangannya melemah.
Pada saat itu saya berharap Kang uha segera siuman. Namun dalam hati siapa yang akan tahu jika sesorang akan meninggal?. Saya bisikkan ditelinganya laa ilaaha ilallahu . laa ilaaha ilallahu, laa ilaaha ilallahu.
Terlihat ada denyut di lehernya kemudian diam. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun.
Saya bicara perlahan kepada istrinya, bahwa Kang Uha sudah berpulang ke rahmatullah. Awalnya tidak percaya namun setelah kacamata saya ditempelkan dibawah hidung nya, tidak nampak ada uap dari pernafasan. Istrinya menangis menghadapi kenyataan ini.
Terlihat ada denyut di lehernya kemudian diam. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun.
Saya bicara perlahan kepada istrinya, bahwa Kang Uha sudah berpulang ke rahmatullah. Awalnya tidak percaya namun setelah kacamata saya ditempelkan dibawah hidung nya, tidak nampak ada uap dari pernafasan. Istrinya menangis menghadapi kenyataan ini.
Dahsyatnya sakaratul maut tidak akan diketahui hakikatnya kecuali oleh orang yang merasakannya . Siapapun yang belum merasakannya hanya dapat mengukur seperti rasa sakit yang pernah dirasakannya. Sakitnya pencabutan ruh akan menghancurkan jiwanya dan masuk kedalam setiap anggota tubuhnya, tiap-tiap sendinya, tiap-tiap nadinya, tiap-tiap pergelangannya, tiap-tiap rambutnya mulai dari atas rambut sampai ujung kaki.
2. Ibunda terkasih harus dirawat dirumah sakit karena penyakit syrosis. Malam ke 3 "embu" dirumah sakit, saya dan istri terus mendampinginya sampai adzan subuh terdengar. Embu minta badannya dilap, lalu bertayamum dan mengerjakan sholat subuh. Saya menyaksikan mereka berdua bersenda gurau, rambut embu yang masih hitam disisiri oleh istri saya lalu disanggulkan, mung nyongclo saeutik, hanya sejumput kecil yang dapat disanggulkan. Ini yang membuat mereka berdua tertawa-tawa.
Saya dan istri pamit untuk pulang dulu karena saya harus mengatur pekerjaan dulu dan istri saya harus mendaftarkan Ananda putra ke 3, ke SMP 24 dijalan Supratman.
Hate ngaraos reugreug, embu katingal seger pisan. Hati merasa tenang karena embu tampak sehat segar.
Jam 08.00 saya ditelpon Ceu Dewi, kakak saya meminta cepat datang ke rumah sakit, embu sekarang mengalami "koma". Segera menjemput istri, membeli kompresan dari Apotek di jalan Aceh langsung menuju jalan Dago.
Pagi ini dihadapkan kemacetan rutin, sehingga saya memutuskan mengambil jalan pintas ke jalan Plesiran, memotong jalan Cihampelas, jalan Eyckman, jalan Cipaganti, sampailah di Advent. Adik bungsu juga menelpon , agar cepat datang. Saat itu saya sudah berada di jalan Eyckman.
Setiba di ruang perawatan, kakak adik saudara-saudara sudah berkumpul. Saya segera mendekat kesamping ibu, masih ada denyut nadi ditangannya. Saya berbisik ketelinga embu kalau ini saatnya harus pulang ke rahmatullah, saya ikhlas .
Laa ilaaha illallaah, laa ilaaha illallaah, laa illaaha illallaah Embu terkulai disamping saya. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Terimakasih Yaa Allah saya diberi waktu berada disamping embu saat Kau mengambilnya.
Dengan demikian 2 kali saya ada disebelah orang yang dicabut nyawanya, Semoga Allah SWT menerima mereka disisiNya serta diampuni dosa-dosanya. Amiin.
3. Sammy Ardiansyah sebulan yang lalu bertemu di BEC jalan Purnawarman, senyumnya yang lebar menyambut saya. Dia dekat dengan keluarga kami, kalau ada kesulitan memilih handphone, dia selalu membantu kami utuk mendapatkan HP yang terbaik dengan harga sesuai denga budget saya untuk membeli HP.
Pada tanggal 28-8-2009 malam sekitar jam 02.00, saya sedang berada didepan computer menulis"draft tentang kematian".
Tadinya dimasukkan orang ke 3, untuk melengkapi tulisan " 3 Kematian " ialah seseorang yang pernah saya lihat sedang meregang nyawa karena luka akibat tabrakan, dipinggir jalan saat saya lewat naik motor didaerah Batujajar. Namun saya merasa konteknya berbeda, saya hanya menyaksikan dari dekat namun tidak berada dalam pelukan atau ada tepat disampingnya. Sedang 2 kejadian meninggal Kang Uha dan Embu saya dapat membisikan laa illaaha illallaah.
Saya tercenung dan memutuskan menunda penulisan, sementara akan disimpan sebagai draft di komputer. Namun masuk SMS dari anak sulung saya di Samarinda, yang isinya memberi khabar Sammy Ardiansyah dirawat dirumah sakit Hasan Sadikin, tolong ditengok besok pagi.
Istri saya karena ada tugas yang harus diselesaikan disekolah, mengatakan nanti sore saja menengok Sammy.
Jam 09 pagi, saya merasa gelisah teringat Sammy, apalgi setelah diterima sms dari ibunya, dia sudah koma. Yaa Allah mohon diberi kesembuhan kepada yang sedang sakit, atau apapun yang terbaik untuk Sammy, insyaallah kami akan menerima dengan ikhlas.
Saya memutuskan segera kerumah sakit, terlebih dahulu menjemput istri saya. Masyaallah saat melihat kondisi Sammy, tak dapat menahan air mata. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengannya di BEC jalan Purnawarman dalam keadaan sehat.
Kini lemah terbaring tidak sadarkan diri. Diagnosa dokter ada tumor di otaknya yang sudah mendesak sedemikian sehingga otak menjadi tidak berfungsi.
Saat itu saya berdo'a kepada Allah SWT, berilah yang terbaik untuk Sammy, Allah Yang Maha Menentukan. Dokter jaga menjelaskan bahwa harapan tipis untuk sembuh, namun kembali kepada Allah SWT yang menentukan.
Saya merasa sedih, anak muda ini masih panjang jalan yang harus ditempuhnya. Itu menurut saya. Tapi saya tidak tahu bagaimana menurut Sang Pencipta?
Kalau harus kembali kapadaNya saya ikhlas. Saya mohon kepada ibu-bapaknya, adik-adiknya agar ikhlas kalau ternyata harus kembali ke rahmatullah.
Laa ilaaha illalla 3 x saya bisikkan ketelinga Sammy, akhirnya dia meninggal dengan tenang. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun.
" KEBETULAN YANG TIDAK DIHARAPKAN " Dia meninggal seakan melengkapi 2 sakaratul maut yang terdahulu.
Saya dan istri pamit untuk pulang dulu karena saya harus mengatur pekerjaan dulu dan istri saya harus mendaftarkan Ananda putra ke 3, ke SMP 24 dijalan Supratman.
Hate ngaraos reugreug, embu katingal seger pisan. Hati merasa tenang karena embu tampak sehat segar.
Jam 08.00 saya ditelpon Ceu Dewi, kakak saya meminta cepat datang ke rumah sakit, embu sekarang mengalami "koma". Segera menjemput istri, membeli kompresan dari Apotek di jalan Aceh langsung menuju jalan Dago.
Pagi ini dihadapkan kemacetan rutin, sehingga saya memutuskan mengambil jalan pintas ke jalan Plesiran, memotong jalan Cihampelas, jalan Eyckman, jalan Cipaganti, sampailah di Advent. Adik bungsu juga menelpon , agar cepat datang. Saat itu saya sudah berada di jalan Eyckman.
Setiba di ruang perawatan, kakak adik saudara-saudara sudah berkumpul. Saya segera mendekat kesamping ibu, masih ada denyut nadi ditangannya. Saya berbisik ketelinga embu kalau ini saatnya harus pulang ke rahmatullah, saya ikhlas .
Laa ilaaha illallaah, laa ilaaha illallaah, laa illaaha illallaah Embu terkulai disamping saya. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Terimakasih Yaa Allah saya diberi waktu berada disamping embu saat Kau mengambilnya.
Dengan demikian 2 kali saya ada disebelah orang yang dicabut nyawanya, Semoga Allah SWT menerima mereka disisiNya serta diampuni dosa-dosanya. Amiin.
3. Sammy Ardiansyah sebulan yang lalu bertemu di BEC jalan Purnawarman, senyumnya yang lebar menyambut saya. Dia dekat dengan keluarga kami, kalau ada kesulitan memilih handphone, dia selalu membantu kami utuk mendapatkan HP yang terbaik dengan harga sesuai denga budget saya untuk membeli HP.
Pada tanggal 28-8-2009 malam sekitar jam 02.00, saya sedang berada didepan computer menulis"draft tentang kematian".
Tadinya dimasukkan orang ke 3, untuk melengkapi tulisan " 3 Kematian " ialah seseorang yang pernah saya lihat sedang meregang nyawa karena luka akibat tabrakan, dipinggir jalan saat saya lewat naik motor didaerah Batujajar. Namun saya merasa konteknya berbeda, saya hanya menyaksikan dari dekat namun tidak berada dalam pelukan atau ada tepat disampingnya. Sedang 2 kejadian meninggal Kang Uha dan Embu saya dapat membisikan laa illaaha illallaah.
Saya tercenung dan memutuskan menunda penulisan, sementara akan disimpan sebagai draft di komputer. Namun masuk SMS dari anak sulung saya di Samarinda, yang isinya memberi khabar Sammy Ardiansyah dirawat dirumah sakit Hasan Sadikin, tolong ditengok besok pagi.
Istri saya karena ada tugas yang harus diselesaikan disekolah, mengatakan nanti sore saja menengok Sammy.
Jam 09 pagi, saya merasa gelisah teringat Sammy, apalgi setelah diterima sms dari ibunya, dia sudah koma. Yaa Allah mohon diberi kesembuhan kepada yang sedang sakit, atau apapun yang terbaik untuk Sammy, insyaallah kami akan menerima dengan ikhlas.
Saya memutuskan segera kerumah sakit, terlebih dahulu menjemput istri saya. Masyaallah saat melihat kondisi Sammy, tak dapat menahan air mata. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengannya di BEC jalan Purnawarman dalam keadaan sehat.
Kini lemah terbaring tidak sadarkan diri. Diagnosa dokter ada tumor di otaknya yang sudah mendesak sedemikian sehingga otak menjadi tidak berfungsi.
Saat itu saya berdo'a kepada Allah SWT, berilah yang terbaik untuk Sammy, Allah Yang Maha Menentukan. Dokter jaga menjelaskan bahwa harapan tipis untuk sembuh, namun kembali kepada Allah SWT yang menentukan.
Saya merasa sedih, anak muda ini masih panjang jalan yang harus ditempuhnya. Itu menurut saya. Tapi saya tidak tahu bagaimana menurut Sang Pencipta?
Kalau harus kembali kapadaNya saya ikhlas. Saya mohon kepada ibu-bapaknya, adik-adiknya agar ikhlas kalau ternyata harus kembali ke rahmatullah.
Laa ilaaha illalla 3 x saya bisikkan ketelinga Sammy, akhirnya dia meninggal dengan tenang. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun.
" KEBETULAN YANG TIDAK DIHARAPKAN " Dia meninggal seakan melengkapi 2 sakaratul maut yang terdahulu.
maut bukanlah kehilangan terbesar dalam hidup.kehilangan terbesar adalah apa yang mati dalam sanubari sementara kita masih hidup....
BalasHapusSubhanallah Ayaah,..simkuring dugi ka kagagas pisan,..kaemutan poin no 2,..kumargi simkuring teu tiasa nungkulan pun biang waktos pupus,..margi tos mios ka japan,..Ya Ayah,..mugia urang sadayana tiasa nyandak Ibroh,.amiinnn
BalasHapus