Selasa, 09 Februari 2010

23. " KEBETULAN " YANG MENAKJUBKAN Benar jodoh ditangan Tuhan

Menentukan pasangan hidup dan memutuskan untuk menikahinya, berbeda bagi setiap orang. Banyak yang berprinsip kudu cekel gawe heula! harus punya pekerjaan dulu. Harus mapan sehingga saat pernikahan benar-benar sudah mempunyai bekal, misal rumah. Ada juga yang nekat belum mempunyai pekerjaan, berani nikah!. Saya bagaimana? setelah diterima bekerja di PT Indaci di Purwakarta, belum satu bulan bekerja, nikah dulu ah. Padahal belum punya apa-apa, keun lah rezeki mah nuturkeun saya berpikir praktis saja, utamanya sudah punya pekerjaan!

Berbeda dengan seorang keponakan saya, Beny yang masih melajang diusia 33 tahun, padahal dia seorang Manager Areal diperusahaan berskala internasional, salary tinggi, rumah punya, mobil nya Pajero. Postur tubuh gagah, kasep berwibawa, lengkap sudah!

Pada suatu acara silaturahmi keluarga, saya bertanya : " Kapaaan nikaaah?" jawabnya singkat : " Belum punya calon istri ".
Seperti suatu interogasi, akhirnya terkuak akar permasalahannya mengapa dia belum menikah, bahkan pacarpun belum ada.

Dia ragu mencari pasangan hidup, karena menyaksikan dengan mata kepala sendiri, suasana kehidupan di kota besar. Pria wanita yang sudah berkeluarga kehidupannya bebas. Lepas dari keluarga seperti anak muda lajang lagi, berpacaran, selingkuh! Punya suami punya anak, pulang kerja bukannya cepat pulang, eh berkencan dulu! Yang bujangan lebih-lebih katanya.

Jangan pukul rata seperti itu atuh Ben..., tidak semua wanita berperangai jelek. Banyak contoh keluarga yang sakinah mawahdah wa rokhmah. Banyak istri yang solehah berbakti kepada suami, sejak pernikahan sampai paketrok iteuk usia lanjut, bahkan sampai maut memisahkan mereka.
" Ben, bagaimana kalau Mamang carikan jodoh untukmu? " saya menutup obrolan dengan pertanyaan ini.
" Boleh, boleh Mang! "


Seorang wanita berpendidikan tinggi sudah bekerja di Depatrtemen Perindustrian, saya perkenalkan kepada Beny. 4 bulan berselang saya mendapat khabar hubungannya tidak berlanjut. Naha kunaon? padahal neng geulis yang saya kenalkan berasal dari keluarga baik-baik, berbusana muslim, turunan menak Sumedang.
Ternyata dia tidak terpaut dihati Beny, mengapa? baru pedekate sudah banyak mengatur, demikian penjelasannya kepada saya.
Wah, wah, wah Mat Comblang harus cari lagi nih!, saha atuh nya? siapa dia belum ada orangnya.

Beberapa bulan kemudian, saat sholat Jum'at , saya duduk bersebelahan dengan Ridwan, teman di bagian marketing, sedangkan saya di bagian produksi. Masih ingat dalam benak saya, khutbah jum'at pada saat itu bertema tentang " jodoh ", membuat saya teringat kepada Beny.
Saya berbisik kepada Ridwan punya keponakan yang belum mendapat jodoh. Gayung bersambut dia merespon bisikan saya, kakak iparnya belum mendapat jodoh juga.
Obrolan berlanjut sambil makan siang di kantin. Kami sepakat akan mempertemukan Beny dan Aty kakak ipar Ridwan.

Pulang bekerja menjelang sampai dirumah, saya menerawang jauh teringat kepada Beny, yang berada nun jauh disana di Surabaya, saya berharap dia datang untuk bicara kepadanya, ada lagi calon istri yang mau saya kenalkan.

" Assalamu'alaikum "
" Wa 'alaikumsalaam " suara berat terdengar dari dalam rumah, sora saha nya? suara siapa itu ?. Saya terpana sejenak, dihadapan berdiri sosok yang tadi siang menjadi bahan pembicaraan, kini berdiri dihadapan saya, dialah Beny!
" Euleuh-euleuh, iraha ti Surabaya Ben? ".

Dia menjelaskan, take-off dari Surabaya tadi Jum'at pagi. Ada rencana rapat di kantor pusat Jakarta hari Senin mendatang. Cukup waktu menyempatkan diri datang untuk bersilaturahmi kepada saya.

Ngobrol sana-sini, sampailah ke pembicaraan tentang mencari jodoh. Saya katakan besok Sabtu siang kita ke Panghegar di Ujung Berung, aya ermawar nu keur meujeuhna hegar ngadalingding, sedikit puistis saya mengajak Beny untuk dipertemukan dengan kakak ipar Ridwan.
" Mangga, siap Mang " .

Esoknya sekitar jam 12 siang, kami menuju Pasar Kidul Ujung Berung. Alhamdulillah saya ditampi someah pisan diterima dengan baik oleh Bpk H R Priyatna Danadibrata. Saya berbasa fresh, tidak " berbasa-basi " langsung memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan bersama keponakan Beny, ingin bersilaturahmi dan mempertemukan keponakan saya dengan putrinya, neng R Aty Pryawangi.
Beliau tersenyum dan berkomentar kedatangan kami sungguh mengagetkan. Memang kemarin sudah mendapat informasi dari Ridwan namun tetap saja asa rareuwas pisan.

Singkat padat saya memperkenalkan Beny apa adanya, ingin dipertemukan dengan putrinya. Setelah mereka berkenalan, selanjutnya terserah mereka!
Sayang disayang, tadi pagi putrinya berangkat naik kereta api menuju Jakarta, memenuhi panggilan sebuah Bank untuk wawancara hari Senin lusa, demikian penjelasan Bpk Priyatna.

Ada rasa sesal didalam hati namun apa boleh buat keadaannya demikian. Kami mengobrol tentang segala macam hal sambil menikmati teh manis panas dan goreng singkong yang garing gurih. Sungguh akrab pertemuan ini.

" Assalamu'alaikum " suara halus merdu terdengar dari arah teras.
" Wa'alaikum salaam " serentak kami menjawabnya.
" Eh geuning Aty, naha balik deui ? " langsung ditanya oleh ayahnya.

Sosok wanita zaman ayeuna, memakai celana jeans biru tua, sepatu sport berkemeja putih. Rambutnya yang pirang bak mayang terurai, panjang sampai bahunya , berkulit putih jangkung langsing!.
Tidak saya sendiri yang memperhatikan putri Bpk H Priyatna ini, disebelah saya Beny diam-diam memperhatikan juga.
Tersipu-sipu gadis muda ini menyalami kami, lalu menunduk dan segera masuk keruangan dalam. Namun tak lama dipanggil ayahnya dan duduk bersama.

Dia menjelaskan saat antri membeli tiket kereta api ke Jakarta, kehabisan!, sehingga memutuskan untuk naik bis ke Leuwi Panjang, namun pulang dulu kerumah ingin diantar Agung adiknya ke terminal bis. Pulang dulu kerumah suatu keputusan yang mempertemukan Aty dengan Beny!.

Dengan sangat hati-hati saya menawarkan, kalau tujuan sama ke Jakarta sudahlah berangkatnya dengan Beny saja. Sejenak Bpk Priyatna berdiam diri dan memandang saya dalam-dalam. Hal ini membuat saya merasa telah berkata lancang, mungkin tidak berkenan dihatinya.
Saya mengenal Beny dengan baik, sejak dia masih kecil. Namun bagi ayah Aty, akankah mengidzinkan anaknya pergi ke luar kota dengan seorang pemuda yang baru saja dikenalkan oleh saya!.
Saya balikan kepada diri sendiri yang juga mempunyai anak gadis, hati kecil menjawab tidak akan diidzinkam. " Kumaha mun jelema anyar pinanggih ieu, jelema teu bener? " Bagaimana kalau orang yang baru dikenal ini, "orang ngga bener".

Rasulullah bersabda :
" Aku wasiatkan amanat kepadamu terhadap pemuda-pemuda agar bersikap baik terhadap mereka. Sesungguhnya hati dan jiwa mereka sangat halus. Maka sesungguhnya Allah mengutusku membawa khabar gembira dan membawa peringatan. Angkatan mudalah yang menyambut dan menyokong aku, sedangkan angkatan tua menentang dan memusuhiku ".

Entah mengapa hati saya berdebar-debar, menunggu jawaban beliau. Namun sedikit demi sedikit perasaan saya menjadi tenang, datang kesini dengan suatu niat yang baik ingin menjodohkan Ridwan dengan Aty. Bukankah dalam Islam ta'awun ( tolong menolong ) dalam hal kebaikan, merekatan antara sesama muslim menjadi saudara?
Saya melihat sinar mata Bapak Priyatna sangat teduh dan sebelum berkata beliau tersenyum.......

" Abdi ngawidian Aty angkat ka Jakarta disarengan Cep Beny, wireh percanten ka Cep Achmad!, titip wae pun anak, isin janten ngarepotkeun ". Beliau memberi idzin! dasarnya karena percaya kepada saya yang memperkenalkan Beny kepadanya.

Insyaallah, Beny akan memegang amanah beliau. Dihadapan semua saya berpesan kepada Beny, agar mengantar Aty ke Jakarta dengan baik, selamat dan kalau sudah sampai, kirim berita ke ayahnya.

Saya pamit terlebih dahulu, hati merasa lega berhasil mempertemukan Beny dengan Aty. Sampai dirumah saya bercerita kepada istri bahwa " misi perjodohan " mengarah ke green light! . Tiba-tiba telpon dirumah berdering, diangkat terdengar sesorang yang suaranya saya kenal, menyampaikan maaf tidak bisa silaturahmi dengan saya sekeluarga, karena walau ada di Bandung waktunya tidak cukup untuk datang ke Bumi Parakan Asri. Siapa dia?

Jarak yang jauh antara Jakarta dan Bandung setelah jalan Tol Cipularang dibuka , terasa singkat ditempuh bagi warga Jakarta yang datang ke Bandung. Seperti yang dilakukan Tia keponakan saya, sepulang mengantar anaknya sekolah di Al Azhar Bekasi Barat, melesat stir mobil sendiri ke Bandung, ke Ciwalk untuk sekedar shooping, nanti siang kembali menjemput anaknya.

Pucuk dicinta ulam tiba, yang menelpon saya ialah Tia. kakak kandung Beny. Segera saya jelaskan misi perjodohan Beny sudah memasuki tahap pendekatan. Tolong dipantau karena Beny dan Aty akan pergi bersama ke Jakarta.
" Siap Mang " riang gembira suaranya mendapat "tugas" dari saya untuk mengawasi adiknya.
Beberapa kali Tia kontak ke saya mengatakan Beny dan Aty nampak akrab bersenda gurau selama diperjalanan, gantian memegang kemudi, pokoknya batu turun keusik naek seiring sejalan!.

Selang berapa bulan, saya mendapat surat undangan pernikahan dari Beny dan Aty, alhamdulillah mereka sudah memutuskan untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang pernikahan. Saya menghadiri pernikahannya beserta istri dan anak. disuatu gedung yang tidak asing lagi bagi saya yaitu Balai Besar Tekstil di Cicadas Bandung.

Diruangan ini sekian tahun yang silam saya mulai menjalin cinta dengan seorang gadis, yang menjadi perhatian saya karena sosoknya yang sederhana. Namun sebenarnya selain itu yang menjadi perhatian adalah waktu itu dia memakai rok span warna hitam, bajunya berwarna hijau tua melekat ketat ditubuhnya. Saya tulis apa adanya, tertarik pada dadanya itulah! pada saat itu padat berisi! kik kik kik. Sekarang? ulah dicarioskeun ah ararisin, barina ge teu pararantes teuing nyarios nu kararitu! sudah ngga pantas bicara zaman masih muda.

Disuatu kesempatan, saya bersilaturahmi dengan Kang Benung, ayah Beni saat saya bersilaturahmi si rumahnya.
Beliau berkata bahwa hidupnya merasa bahagia, melaksanakan ibadah haji sudah! menikahkan si bungsu Beny sudah! ..., mangga bade dipundut kunu kawasa ge ikhlas rido !.
Tak lama berselang beliau dipanggil Yang Maha Kuasa. Sungguh perjodohan ini suatu " Kebetulan yang menakjubkan " betapa tidak rentetan kejadian yang dimulai dari khutbah Jum'at tentang jodoh, sampai pernikahan Beny dan Aty, lalu meninggal Kang Benung, mengalir begitu saja.

Saya merasa kehilangan sosok kakak yang care tidak saja kepada keluarganya sendiri, namun kepada yang lain. Beliau telah menolong saya dalam suatu kesulitan besar, sementara saudara yang lain memberi spirit hidup kepada saya dengan nasihat, Kang Benung nyata turun membantu saya sampai all my troubles seem so far away...

Alhamdulillah Beny telah dikarunia 2 putra, kini tinggal di Semarang. Saya sekeluarga merasa dekat dengan keluarga Beny. Ibunya yang kini tinggal sendiri di Kadipaten sering datang ke rumah saya, menginap. Seharusnya saya yang datang ke Kadipaten ya Wa...
Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan keluarga Wa Enden di Kadipaten. Amiin.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar