Setelah lebih dari sebulan tinggal di Bandung, Amanda anak sulung saya dan Qiqok cucu harus kembali ke Samarinda. Mereka datang dalam rangka menengok Icha si bungsu yang sakit thypus sehingga dirawat di rumah sakit Santo Yusuf Bandung. Saya yang mengantar mereka pulang karena Rudi tidak bisa menjemput istri dan anaknya, sibuk dipekerjaannya.
Senin pagi Jam 04.15 start dari Bandung Super Mall naik bus Primajasa langsung menuju Bandara Soekarno Hatta Jakarta, serasa sekejap karena didalam bus langsung Zzzzz tidur pulas. Terbangun saat bus berhenti di pool Air Asia, pesawat dari maskapai penerbangan inilah yang akan membawa kami ke pulau Kalimantan.
Bagasi diturunkan dari bus, langsung saya ambil. Koper besar, tas, tentengan kecil. Namun ada dus karton dan tas kulit warna coklat tergeletak tanpa ada yang mengambilnya. Aduuh, kenek bus Primajasa gegabah sekali menurunkan barang tanpa memastikan milik siapa ini?. Bus telah menghilang entah kemana.
“ Karunya teuing nu bogana bakal leungiteun “ . Saya merasa kasihan kepada pemilik tas ini, nanti akan kehilangan. Tertulis didalam tiket Primajasa, nomor Telepon dan HP kantor namun ketika dihubungi tidak ada yang mengangkat baik kantor Bandung maupun kantor Jakarta. Akhirnya barang tersebut saya titipkan ke satpam kantor Air Asia, nama Satpam saya ingat-ingat, barangkali nanti diperlukan.
Saya dan Amanda segera menuju ruang tunggu menanti saat pemberangkatan pesawat. Disini saya masih mencoba mengontak pihak Primajasa lagi namun gagal. Amanda menegur saya: “ Sudahlah kok papap jadi repot “.
Pesawat Air Asia mengangkasa membawa kami melintas laut Jawa menuju Balikpapan. Qiqok didalam kabin teu daek cicing sagala dioprek nggak mau diam membuat mamahnya kewalahan. Beginilah masa-masa repot mengurus anak namun kalau dinikmati dan hati merasa ikhlas, banyak hal yang bisa dipetik manfaatnya, diantaranya peran seorang ibu lebih terasa. Teringat dulu waktu Amanda dan Alma adiknya masih kecil, saya dan istri bersama silih berganti mengurus anak-anak, enjoy saja, easy going saja, tidak mengeluh tidak merasa stress.
Saudara saya ada juga yang memiliki anak, namun sering luh-lah humandeuar berkeluh kesah kepada neneknya. Apa jawaban yang diterima dari nenek? “ Naha make jeung luh-lah sagala, teu cara nyieunna ngadedempes di nu poek!! “ mengapa mengeluh ngga seperti waktu bikin anak diam-diam ditempat gelap!. Nenek ini memang togmol bicara apa adanya. Hik hik hik, jaman nenek di nu poek ari ngadamel budak , jaman sekarang mah di nu caang ge..., derr we!!.
Mendarat di Bandara Sepinggan Balikpapan, jam 07.30 WIT , alhamdulillah selamat. Sambil menunggu jemputan yang akan membawa kami ke Samarinda, saya mencoba call Primajasa lagi dan berhasil!! . Rupanya baru sekitar jam 08 melayani calling dari customer. Pihak Primajasa mengucapkan terima kasih kepada saya atas informasi ini, mereka akan menelusuri barang yang salah diturunkan ke Satpam Air Asia.
Amanda mengomentari kok papap ini baik sekali ya, mau-maunya terus-terusan menghubungi Primajasa, menghabiskan pulsa, Enya nya benar juga bicara panjang lebar dengan petugas Primajasa, sisa pulsa tinggal Rp 780,-! Mana baterai HP harus di-charge urut dipake titatadi. Bekas dipakai sejak tadi di Jakarta.
Namun didalam hati, saya hanya merasakan kalau dibalikan kepada diri sendiri, kehilangan barang kumaha tah?! Bagaimana?!. Tentu akan mendapatkan kegembiraan kalau barang yang hilang kembali lagi. Itu saja, tidak ada maksud lain, misal mendapat imbalan atau pujian dari yang lain.
DI Samarinda rencana tinggal seminggu, anak saya akan mengajak saya seight seeing ke musium Tenggarong yang dulunya istana Raja Mulawarman. Saya sendiri ingin shalat di Islamic Centre yang berdiri megah ditepi sungai Mahakam. Namun yang lebih dahulu saya kunjungi justru toko buku Gramedia.
Usai shalat maghrib saya pamit ke Rudi menantu saya mau jalan-jalan ke Gramedia. Rudi menjelaskan rute yang harus ditempuh dan berpesan agar hati-hati. Saya memutuskan jalan kaki saja, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sekitar 2 kilo meteran. Tiba di Gramedia saya melihat-lihat buku, membaca ditempat, mencatat yang diperlukan tanpa membeli satu buku pun. Ituh geura tuh kan pada kenyataannya tidak membeli buku!
Menjelang tutup toko saya keluar dari Gramedia. Dihalaman Mall saya mengingat-ingat arah mana yang harus dituju? Ada beberapa jalan yang membingungkan, rasanya semua sama. Saya mengambil jalan paling kanan, menelusurinya pelan-pelan, makin kedalam jalan ini semakin gelap, kiri kanan kios-kios tanaman. Untunglah saya tiba disuatu komplek perumahan yang terang benderang. Disini saya mencari jalan yang pernah saya lewati tadi, namun benar-benar tak ingat jalan yang mana? Akhirnya saya kembali ke arah kios tanaman yang gelap. Hp bergetar, sms dari Amanda mengingatkan jangan malam-malam pulangnya! Saya jawab lagi dijalan menuju pulang.
Saya merasa heran, dikomplek ini begitu sepi, tiada seorangpun tempat bertanya! Keringat mulai mengalir deras tepi ka kelek ge baseuh cipruk sampai-sampai ketiak basah kuyup. Iyalah jalan kesana-kemari ditambah udara Samarinda yang panaaaas, membuat saya berkeringat deras.
Saat masuk ke kios tanaman yang gelap, jauh dari arah depan nampak bayangan putih menghampiri saya. Euleuh-euleuh boa-boa pocong?! Aduuh, jangan-jangan pocong, Sebenarnya saya termasuk pemberani, namun jujur saja malam ini asa keueung agak takut juga.
Bayangan putih ialah seseorang yang memakai jubah putih mengenakan peci haji putih, saat melewati saya matanya memandang tajam namun mengucapkan “Assalamu’alaikuum”. Sayapun menjawab : “ Wa ‘alaikumsalaam “ . Tegur sapa ini langsung mententramkan hati saya.
Tak lama terdengar suara motor dibelakang, sorot lampunya tidak begitu terang dan berhenti disebelah saya. “ Assalamu’alaikum, Pa mau kemana? Ayo saya antar” suaranya ramah. Dialah orang yang tadi berjubah putih, menawarkan diri untuk mengantar saya. Alhamdulillah.
Dalam perjalanan ke alamat yang saya sebutkan, dia berceloteh bahwa entah bagaimana tidak seperti biasanya dia ingin melewati jalan ini, sehingga bertemu dengan saya. Dia merasa saya bukan penduduk disini. Dia menjelaskan belum lama memeluk agama Islam, sebelumnya hampir tak mengenal pelajaran agama. “Saya sebelum masuk Islam, preman Pa! Sering berbuat jahat, berkelahi, menusuk orang!” Beu! Ieu teh mantan preman geuning..”.
“ Rabb semesta alam senang dengan taubat hamba-Nya melebihi senangnya seseorang yang tersesat tatkala menemukan kembali jalannya, atau seseorang yang haus ketika mendapatkan minuman”
“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia mohon ampun kepada Allah, niscaya dia mendapat Allah Maha Pengampun lagi Penyayang” (An-Nisaa 110).
Tibalah dirumah dengan selamat, dia menolak keras ketika saya sodorkan lembaran 10.000 an.” Saya ikhlas mengantar Bapak kesini ” katanya seraya tersenyum menampakkan giginya yang berderet putih, kontras dengan kulitnya yang hitam legam. Siapa dia? Aduh saya lupa tidak menanyakan namanya.
Setelah selesai makan malam, saya ceritakan kepada Amanda dan Rudi tadi nyasab kukurilingan kesasar berputar-putar sampai ditolong seseorang diantar sampai kedepan rumah. Amanda kaget mendengar hal ini dan bersyukur saya selamat. Dia tercenung memandang saya, membuat saya heran, ada apa Nda?
Papa waktu di Bandara Soekarno Hatta dan Sepinggan terus-terusan nge-sms Primajasa, hanya sebab barang orang lain yang tertinggal. Artinya berusaha “menolong orang” yang kehilangan. Demikian komentar Amanda.
Alhamdulillah, “ KEBETULAN YANG MERUBAH RASA TAKUT MENJADI TENANG”. Mualaf mantan preman itu semoga menjadi mukmin yang senantiasa dekat dengan Allah SWT.
Katakanlah kepada orang-orang kafir itu, “ Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu “ (Al Anfaal} -38.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar