Rabu, 17 Februari 2010

25. " KEBETULAN " YANG MENIMBULKAN SUGESTI 3 putra teman dipanggil Yang Maha Kuasa diusia yang sama.

" Oom apa khabar? " , seseorang menyapa saya dari arah belakang, siapa dia? tak dapat ditebak, maklum cukup lama saya tidak datang ke komplek Sadang Sari Permai di Purwakarta setelah saya hijrah kembali ke kota kelahiran di Bandung.
Yang menyapa saya ialah Adi putra sulung Bpk H Yanto Supriyanto, teman saat dulu sama-sama bekerja disebuah perusahaan modal asing, PT Indonesia Asahi Kasei di Jatiluhur. Saya mengetahui anak muda ini sejak masih bayi, balita sampai menjelang dewasa.
Sekarang berdiri dihadapan saya, sosok pemuda dewasa wajahnya kasep, ganteng tersenyum mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Tentu saja saya merasa pangling setelah sekian tahun tidak bertemu.

Ngobrol singkat dengan Adi diwarung Batak, saya menanyakan cita-citanya nanti mau jadi apa?. Dia mengatakan ingin masuk Akabri. Insyaallah bisa terlaksana, asal Adi terus belajar dengan baik, jaga kesehatan, kalau ada yang menawari narkoba katakan No ways!! dan jangan lupa senantiasa berdo'a kepada Allah Yang Maha Menentukan. Masih cukup waktu mempersiapkannya karena sekarang baru duduk dikelas 2 SMA, demikian saya memberi support kepadanya.

Menjelang adzan dhuhur, Adi beserta ayah, ibu dan adiknya lewat didepan rumah, mereka akan pergi berenang ke Cikampek, sempat mengajak saya untuk turut bersama. Saya katakan sebentar lagi harus pulang ke Bandung. Mereka pamit, Adi yang memegang kemudi menganggukkan kepala sambil tersenyum.

Hari Senin menjelang istirahat jam 12.00, saya mendapat informasi dari sekretariat bahwa ada telpon dari Purwakarta, dari Bapak H Natsir Nataatmaja menyampaikan berita duka, Adi putra Bapak Yanto meninggal dunia karena kecelakaan.

Masyaallah! saya menjerit kaget mendengar khabar ini, tak kuasa menahan kesedihan, menangis sendiri dimeja kerja, betapa Allah SWT memanggil Adi secepat ini. Masih terngiang-ngiang ditelinga, obrolan singkat kemarin di hari Minggu pagi. Masih terbayang anggukannya ketika kemarin saya beri nasihat jangan tergoda narkoba. Kini Adi telah tiada?

Saat melayat ke rumah duka, saya mendapat penjelasan mengenai kecelakaan yang menimpa Adi. Senin pagi diantar ibunya kerumah seorang teman untuk belajar bersama di daerah Simpang Pasar Rebo. Menjelang pintu lintas kereta api, mobil terhenti karena kereta api jurusan Jakarta-Bandung akan lewat.
Adi meminta idzin kepada ibunya untuk turun dan berjalan kaki, karena rumah temannya ada diseberang jalan kereta api. Sempat diingatkan oleh ibunya agar berhati-hati. Adi melambaikan tangan ketika ibunya memutar balik mobil dan pergi kearah Pasar Rebo.

Usai berbelanja dan kembali ke rumah, Ibu Yanto terheran-heran melihat banyak kerumunan orang dijalan di depan rumahnya, Ada apa?
Sungguh cobaan yang berat yang dialami ibu ini, tadi pagi mengantar anaknya dan ketika pulang Adi sudah "mendahului pulang", jenazah tiba dirumah sebelum ibunya pulang ke rumah.
Sementara saat terjadi musibah kecelakaan, ayahnya sedang dalam perjalanan dinas ke Tanggerang.
Pagi-pagi sebelum ayahnya berangkat, Adi merajuk minta dibelikan "setelan putih-putih", karena permintaan kepada ibunya ditolak, karena setelan yang lama masih bagus. Yang dimaksud adalah seragam putih pengibar bendera pada upacara 17 Agustus, Adi termasuk anggota Paskibraka di Purwakarta.
Saya terenyuh mendengarnya, semoga Bapak H Yanto Supriyanto sekeluarga, bersabar dan menerima keputusan Allah ta'ala.

Nabi Muhammad SAW bersabda :
" Sesungguhnya Allah SWT tidak meridhoi ganjaran selain surga bagi hamba-Nya yang mukmin, yang jika ditinggal mati oleh orang yang dicintainya dari penduduk bumi (anaknya) ia bersabar dan mengharap pahala serta mengucapkan apa yang diperintahkan kepadanya. " (HR Nasa'i dengan sanad yang shahih).

Adi kembali keharibaanNya diusia yang masih muda 17 tahun, saat duduk dibangku sekolah kelas 2 SMA. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun.

Setahun berlalu sudah, peristiwa kecelakaan Adi hampir terlupakan, namun teringat kembali setelah terjadi peristiwa yang hampir mirip, sebagai berikut :

Seorang teman kerja, Bpk Soewendro mendapat kecelakaan dalam perjalanan menuju ke Bogor. Informasi dari putranya, beliau dirawat di Rumah Sakit PMI Bogor. Kami dari bagian Dyeing Finishing PT Bintang Agung Bandung, diantaranya Bpk H Surya Pranata, Bpk Suhendi sepakat akan menengok beliau pada hari Sabtu berangkat seusai kerja jam 13.00 siang.

Menjelang sore tiba di rumah sakit, ternyata Bpk Soewendro sudah dibawa pulang anaknya ke Bandung, atuh puguh hanjelu merasa menyesal jauh-jauh dijugjug anggang-anggang diteang, dari jauh kudatang yang ada hanya bayangan...

Kembali menuju Bandung selepas maghrib, Bogor, Puncak, Cianjur, Padalarang dilalui dengan lancar. Sepanjang jalan tak henti-hentinya kami bergembira penuh canda gurau, tak terfikirkan oleh Bpk Surya, saya atau juga oleh yang lain bahwa sesuatu akan terjadi.....

Tiba dirumah sekitar jam 23.00 malam. Istirahat sejenak lalu mandi dengan air hangat. Jam hampir menunjukkan jam 24.00 telpon berdering.
"Selamat malam Pak Achmad, saya Bagio mau mengabarkan ada kecelakaan..."
Kecelakaan?! terfikirkan ada kecelakaan kerja di pabrik, karena Bagio ialah petugas di bagian sekretariat PT Bintang Agung, yang sering memberikan bewara berita apa saja yang terkait dengan pekerjaan kepada jajaran pimpinan divisi pabrik.
"Putra Bapak H Surya meninggal karena kecelakaan" lebih lanjut.

Saya segera menuju Suka Asih Ujung Berung. Disana sudah berkumpul tetangga, keluarga dan teman kerja. Namun Bapak H Surya tidak nampak, sedang pergi mengambil jenazah ke rumah sakit Santo Yusuf di daerah Cicadas.

Penjelasan dari keluarga, tak biasanya Bayu keluar malam untuk sekedar main bersama kawan-kawan. Anak ini type pendiam lebih suka tinggal dirumah daripada abring-abringan teu puguh Namun pada malam minggu ini didesak oleh temannya untuk keluar rumah main ke Jalan Dipenogoro menyaksikan acara kebut-kebutan anak muda Bandung. Tadinya menolak terus , namun akhirnya pergi juga, setelah ibunya mengatakan jig kadituh sakali-kali kaluar ulin pergilah sekali-kali main.

Bayu yang saat itu nongkrong duduk dipinggir trotoar, tersambar sedan Fiat yang ngebut, zigzag dan lepas kendali sehingga nyelonong kepinggir jalan, menyambar Bayu! teman lainnya selamat.
Masyaallah! kecelakaan maut di jalan Dipenogoro adalah rahasia Illahi.

Bukankah tadi di rumah anak muda ini enggan pergi, artinya kalau tinggal dirumah akan selamat. Sekarang jadi begini, pergi ke jalan Dipenogoro seakan menyongsong maut!
Saya turut mengantar jenazah yang dikebumikan di Tarogong Garut pada hari MInggu keesokan harinya.
Do'a Ali binThalib :
" Ya Allah hambamu dan anak hambamu telah datang kepada-Mu hari ini. Engkau sebaik-baik yang didatangi. Ya Allah luaskanlah kuburannya, ampunilah dosa-dosanya karena sesungguhnya kami tidak mengetahui kecuali kebaikannya sedangkan Engkau lebih tahu tentangnya ".

Bayu telah berpulang ke hadirat Illahi Robbii, diusia 17 tahun saat masih duduk dibangku kelas 2 SMA, mengingatkan saya kepada almarhum Adi.

Dalam buku Panduan Mengurus Jenazah tulisan Sami Salim, saya membaca kalimat dihalaman 15 sebagai berikut :
" Kalangan ahli ilmu menyatakan bahwa bentuk ciptaan Allah yang terbaik dimuka bumi ini adalah manusia. Manusia keluar dari rahim ibunya dan lahir kemuka bumi ini dalam keadaan menangis, bertubuh kecil, berbobot ringan. Dia keluar dalam keadaan tidak memiliki apapun di dunia ini. Tiada sesuatu pun yang menutupi dirinya dan tiada kekuatan yang menggerakan kakinya ".

Subhanallah siapa yang telah mengeluarkannya dari rahim Ibunya?
Dia-lah Allah Yang Maha Mulia, Maha Agung, Maha Pemberi, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dialah Allah Maha Sucilah Allah sebaik-baik Pencipta.

Mengurus jenazah ada ilmunya. Saya ingin mempelajari mengurus jenazah setelah mengalami turut membantu memandikan jenazah putra Bapak H Sadikin, saat saya masih bekerja di PT Bintang Agung.

Saya masih ingat, hari kerja terakhir adalah hari Sabtu jam 12.00. Seperti biasa jajaran pimpinan dari 5 divisi makan siang sebelum pulang di lantai 1 head office. Dari masing-masing divisi ngabring ngaleut ngeungkeuy ngabandaleut berjalan bersama . Saat itu kami bertemu rombongan Bapak H Sadikin dari divisi Weaving ( Pertenunan ) . Kami saling bertegur sapa, beliau memberikan senyuman kepada saya sambil terus melangkah. Saya menyukai beliau terhadap sikapnya yang low profile.

Menjelang pos satpam, beliau menerima khabar melalui hp-nya, harus segera pulang ke rumah. Untuk keperluan ini beliau minta maaf tidak ikut makan siang bersama. Saya bersama yang lain makan bersama diakhiri menyantap buah-buahan hasil dari kebun di halaman pabrik. Saat inilah kami mendengar khabar bahwa putra Bapak H Sadikin meninggal dunia karena kecelakaan. Kami bergegas pergi menuju rumahnya di Margahayu, dibelakang Metro Trade Centre jalan Soekarno Hatta Bandung.

Setiba dirumah duka, suasana sedih sangat terasa, isak tangis saudara dan kerabat silih berganti. Bapak H Sadikin nampak tegar walau perasaan sedihnya tak dapat disembunyikan. Saya mohon idzin kepada beliau untuk ikut memandikan jenazah, membungkus dengan kain kafan sampai siap untuk dishalatkan.

Masyaallah, pada tubuh anak muda ini nampak memar kebiru-biruan, bahkan ada bagian tubuhnya masih mengeluarkan darah segar. Betapa keras kecelakaan ini sehingga menyebabkan nyawa anak muda ini melayang.

Penjelasan dari seorang keluarga, tadi pagi jam 10.00, Aa nampak enggan untuk pergi kesekolah. Bahkan setelah meninggalkan rumahnya dia kemudian balik kembali kerumah. Sampai-sampai digelendeng diingatkan oleh ibunya, lain geura jung-jung indit ka sakola bukannya cepat-cepat pergi kesekolah, malah balik lagi...

Akhirnya Aa berangkat lagi diiringi tatapan mata ibundanya, keluar dari komplek rumahnya sepeda motor menuju arah By Pass Soekarno Hatta. Masuk jalur lambat kemudian dia harus berputar arah menyebrangi jalur cepat, karena arah sekolahnya ke sebelah timur. Saat itu dari arah belakang melaju mobil tanki dengan kecepatan tinggi menghantamnya sehingga tewas seketika.
Putra Bpk H Sadikin meninggal diusia muda 17 tahun, saat masih duduk dibangku SMA kelas 2.
Innaa lillaahi wa innaa illaihi raajiuun.

Rentetan kematian yang " Kebetulan" menimpa 3 siswa SMA, putra dari teman terdekat saya, memberikan sugesti yang begitu kuat pada diri saya sendiri, sehingga sering menimbulkan kegelisahan yang senantiasa saya sembunyikan tanpa orang lain tahu, sampai tulisan ini dibuat.

Mengapa saya menjadi sedemikian gelisah?
Karena saya mempunyai seorang putri yang baru saja naik kelas, dari kelas 1 ke kelas 2 SMA !.
Setiap dia pergi sekolah, selalu saya ingatkan kade upami meuntas jalan sing ati-ati kalau nyebrang jalan harus berhati-hati.
Saya lebih suka mengantar dia kesekolahnya di SMAN 8 jalan Solontongan Buah Batu dengan motor atau mobil.

Saya coba menepis bahwa malaikat maut sedang mengincar lagi anak muda kelas 2 SMA!. Saya mengusir rasa gundah, bahwa anak saya Ananda Putri bukan seorang putra.
Namun bagaimana kalau berikutnya giliran 3 orang siswi kelas 2 SMA akan dicabut nyawanya?
Astaghfirullahal'adziim, laa haula wa laquwatta illa bilahi tiada daya upaya semua kecuali pasrah kepada ALLah SWT.
Berulang kali saya beristighfar untuk melepaskan sugesti ini.

Kematian adalah salah satu tanda kebesaran Allah SWT dan Mukjizatnya. Kita tidak menjumpai didunia ini seorangpun yang yang kuasa menghentikan kematian. Kematian tidaklah takut kepada seseorang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar