Cunduk kana waktu ninggang kana mangsa tibalah waktunya saya memasuki masa pensiun. Awalnya ada perasaan ning-nang asa nincak asa heunteu serasa melayang, benarkah saya pensiun? Lebih setengah waktu hidup saya dihabiskan untuk bekerja, bekerja dan bekerja! Kini saya jobless! Mempunyai banyak waktu senggang, moal diudag-udag deui ku, dikejar-kejar oleh Bu Sisil, sebutan “akrab” anak-anak produksi untuknya yang jelas-jelas tak disukai dan membuat marah besar kalau didalam memo tertulis Bu Sisil, karena seharusnya ditulis Caecilia.
Saya tak akan lagi ditagih-tagih hasil produksi oleh crew marketing : Irene, Ida, Erna dan Elis yang semuanya cerewet luar biasa! Yang tidak mau tahu keterlambatan delivery dari bagian produksi ke bagian “making-up” karena ada masalah di produksi, misal ada perbaikan mesin.
Saya bekerja di PT Bintang Agung di bagian PPIC, Planning Production Inventory Control . Suatu bagian yang menurut buku Production Systems tulisan James L Riggs ibarat shock breaker, dari atas mendapat tekanan dari bagian marketing, dari bawah ada bagian produksi!. Marketing mengejar target penjualan, sementara di bagian produksi ada masalah, PPIC lah yang menjembatani dua bagian ini dengan rencana-rencana baru.
Pensiun tidak membuat postpowersyndrome! Mengisi waktu pensiun, saya membaca, menulis dan membuka usaha cuci motor di Cingised. Dari perhitungan kasar sebenarnya usaha ini tidak “menjanjikan”. Namun saya pikir tidak ada salahnya untuk dicoba.
Alhamdulillah, saya mempunyai kegiatan baru, bisa ber-interaksi dengan berbagai kalangan. Mereka yang datang untuk mencuci motor selalu diajak bicara oleh saya. Sering istri dan anak-anak datang ketempat cuci motor, ikut “nimbrung” atau sekedar “ngadon ngarujak” makan rujak.
Nah, disuatu pagi di hari minggu, lewat didepan dipinggir jalan seorang penjual kue yang berjalan menggunakan tongkatnya. Dia seorang yang matanya hampir buta membawa berbagai macam kue kering dalam bungkusan plastik besar.
Dipanggilah dia oleh istri saya, kemudian kue dagangannya diborong dibeli banyak, macam-macam kuenya : ada japilus, semprong, kripik pisang, sukro dll. Total semua 35 ribu rupiah!
Alma, anak saya menegur ibunya, mengapa membeli kue sebanyak itu?. Dijawab keunlah, bagikeuneun, mau dibagikan untuk Bapak-bapak Satpam : Parmin, Ayi, Sugiharto dan Iwan. Lalu keur urang dapur Ma Ekok dan Bu Maman yang sehari-hari membantu pekerjaan di rumah. Alma nampak baeud, tidak setuju membeli kue sebanyak itu.
Saya? Setuju mengingat Si Akang pedagang yang buta ini telah bersusah payah menjual kuenya, dia tidak menjadi seorang pengemis. Istri saya sama pemikirannya ingin membantu agar dagangannya cepat habis.
Siang hari kue dibagikan, tersisa 2 bungkus diatas meja makan sampai sore tidak ada seorangpun yang menyentuhnya, akhirnya dimakan oleh saya!. Selesai riwayat kue ini, semua sudah habis!.
Kue sudah habis? Ternyata ketika saya pulang dari sholat Isya berjama’ah di mesjid Al Ghofur, ada lagi kue diatas meja makan! Sungguh mengherankan mengapa ini terjadi.
Ya benar, malam-malam ada seseorang yang mengetuk pintu dan menyodorkan sebuah kotak berisi kue yang harum, berbentuk bulat besar dan tebal berwarna coklat dengan irisan tebal keping-keping “coklat putih” menempel disekeliling pinggir kue. Siapapun yang melihat kue ini, pasti ingin memakan dan merasakan manisnya. Aroma tiramisu-nya terasa enak, amboooi ! dijamin lezzaaat.
Siapa yang mengirim kue malam-malam begini? Pengirimnya ialah mantan murid istri saya yang sudah mendapat pekerjaan di pulau Batam. Sengaja datang kerumah mengirim kue sebagai tanda terima kasih kepada istri saya, yang telah mengupayakan dia bekerja di Batam.
Saha? Iraha? Teu inget-inget acan.., sungguh istri saya sebagai gurunya tidak ingat kepada tamu muda ini, maklum murid yang diajarinya begitu banyak, dari tahun ke tahun datang silih berganti. Kalau toh ingat biasanya pada murid-murid yang pintar, atau yang nakal kabina-bina keterlaluan atau yang bodo pisan!. Kalau yang sedang-sedang saja mah..., lewat! Tidak akan ingat.
Sepulangnya tamu muda, Alma ingin segera memotong kue dan menyantapnya! Namun sebelumnya saya mengingatkan agar mengucapkan alhamdulillah, sungguh ini rezeki dari Allah SWT.
Saya mengingatkan kembali kepada semua, hikmah Mamam membeli “kue kampung” seharga 35 ribu rupiah dengan hati ikhlas dan membagikannya kepada orang lain dengan ikhlas pula, “diganti” dengan kue yang harganya jauh lebih mahal hampir 3 X lipat!.
Alma termenung diam, istri saya matanya berkaca-kaca, sungguh suatu “ Kebetulan yang mengingatkan rasa ikhlas akan berbuah kenik’matan “. Icha si bungsu matanya berbinar-binar minta segera dipotongkan kue, untuk segera dicicipi.
Saya bersyukur kepada Allah SWT, hari ini mendapat pelajaran tentang makna “ikhlas” khususnya kepada Alma anak saya tercinta,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar