Berita duka cita diterima saat saya sedang bekerja. Kakak ipar Drs Sulaeman Affandi biasa disebut " Kang Empan " meninggal dunia pada tanggal 11 Oktober 2000 di Palur, Karang Anyar Solo.
Saya badami dengan istri untuk pergi melayat. Berangkat dari Purwakarta setelah maghrib, anak-anak tidak ada yang ikut, ditinggal bersama Embu neneknya yang kebetulan sedang berkunjung dalam rangka menengok cucunya.
Keluar dari kota Cirebon disuatu persimpangan saya merasa ragu, apakah mengambil arah kiri atau kekanan?. Saya memutuskan untuk mengambil ke kiri, semetara istri menyarankan bertanya saja kepada orang yang ada dipersimpangan. Namun saya sudah terlanjur masuk ke jalan kiri, dan merasa enggan untuk bertanya kepada sesorang disana. Saya melihat speedometer, km terakhir pada angka " sekian ".
Semakin lama jalan semakin sepi, hanya satu dua mobil yang berpapasan, keadaan gelap disertai turun hujan membuat saya was-was dan bertanya-tanya didalam hati, mengapa jalan provinsi sepi begini? angka di speedometer sudah lewat hampir 5 KM dari persimpangan tadi.
Beu, beu, beu salah jalan!. Alhamdulillah dekat suatu belokan ada warung dipinggir jalan, saya hentikan mobil untuk bertanya ke "si empunya warung". Saya tak dapat melihat wajahnya, karena lampu tempel posisinya ada dibelakang bapak tua ini. Saya bertanya apakah jalan ini menuju Jogyakarta? Suaranya yang berat membuat saya meringis ketakutan, dia berkata salah! tadi dipersimpangan seharusnya mengambil arah kanan.
Selesai berkata dia langsung menutup warungnya, sehingga keadaan menjadi gelap, hanya lampu "sign" mobil saja yang berkedip-kedip. Buru-buru saya masuk ke mobil dan menutup pintu cepat.
Tidak ada komentar, saya menengok kaca spion, dibelakang gelap gulita. Ada rasa takut menyelinap di hati, kakek tua tadi siapa?
Tiba dipersimpangan mengambil arah kanan, ini baru jalan provinsi! dari depan belakang banyak kendaraan lalu lalang. Sedikit ada rasa sesal, waktu terbuang percuma lumayan jauh 5 KM x 2 arah bolak balik. Kalau saja tadi ambil ke kanan tentu sudah sampai di....., lamunan terputus, ada apa didepan? laju kendaraan melambat. Disana nampak lampu merah ambulans berputar-putar.
" Ada apa Pak? " saya bertanya ke seseorang yang ada dikerumunan sebelah kanan. Dijelaskan ada kecelakaan, mobil sedan dari arah Cirebon bertabrakan frontal dengan truck yang membawa tiang-tiang beton. Masyaallah .
Semua kendaraan merayap maju perlahan, sampailah dilokasi kecelakaan. Ya Allah dua orang korban kecelakaan tergeletak diatas tandu didekat ambulans. Katanya mereka sepasang suami istri yang menjadi korban.
Perasaan galau menghampiri, kalau saja tadi belok kanan apakah saya dan istri yang akan mendapat kecelakaan? mengingat jarak 5 Km x 2 saat kesasar hampir bertepatan dengan lokasi kecelakaan yang berjarak 10 Km dari persimpangan. Entah mengapa, saya merasa ingin menangis mengingat sepasang suami istri yang meninggal disana,
" Kebetulan yang menghindarkan saya dari kecelakaan ", karena salah mengambil arah tujuan.
Keluar dari kota Cirebon disuatu persimpangan saya merasa ragu, apakah mengambil arah kiri atau kekanan?. Saya memutuskan untuk mengambil ke kiri, semetara istri menyarankan bertanya saja kepada orang yang ada dipersimpangan. Namun saya sudah terlanjur masuk ke jalan kiri, dan merasa enggan untuk bertanya kepada sesorang disana. Saya melihat speedometer, km terakhir pada angka " sekian ".
Semakin lama jalan semakin sepi, hanya satu dua mobil yang berpapasan, keadaan gelap disertai turun hujan membuat saya was-was dan bertanya-tanya didalam hati, mengapa jalan provinsi sepi begini? angka di speedometer sudah lewat hampir 5 KM dari persimpangan tadi.
Beu, beu, beu salah jalan!. Alhamdulillah dekat suatu belokan ada warung dipinggir jalan, saya hentikan mobil untuk bertanya ke "si empunya warung". Saya tak dapat melihat wajahnya, karena lampu tempel posisinya ada dibelakang bapak tua ini. Saya bertanya apakah jalan ini menuju Jogyakarta? Suaranya yang berat membuat saya meringis ketakutan, dia berkata salah! tadi dipersimpangan seharusnya mengambil arah kanan.
Selesai berkata dia langsung menutup warungnya, sehingga keadaan menjadi gelap, hanya lampu "sign" mobil saja yang berkedip-kedip. Buru-buru saya masuk ke mobil dan menutup pintu cepat.
Istri saya bertanya : " Aya naon Pa? " ada apa? tak dijawab, saya memutar balik arah mobil.
" Salah jalan nya!, teu nurut ka mamam sih, cobi tadi naroskeun heula " istri menyesalkan tadi ga mau bertanya dulu.Tidak ada komentar, saya menengok kaca spion, dibelakang gelap gulita. Ada rasa takut menyelinap di hati, kakek tua tadi siapa?
Tiba dipersimpangan mengambil arah kanan, ini baru jalan provinsi! dari depan belakang banyak kendaraan lalu lalang. Sedikit ada rasa sesal, waktu terbuang percuma lumayan jauh 5 KM x 2 arah bolak balik. Kalau saja tadi ambil ke kanan tentu sudah sampai di....., lamunan terputus, ada apa didepan? laju kendaraan melambat. Disana nampak lampu merah ambulans berputar-putar.
" Ada apa Pak? " saya bertanya ke seseorang yang ada dikerumunan sebelah kanan. Dijelaskan ada kecelakaan, mobil sedan dari arah Cirebon bertabrakan frontal dengan truck yang membawa tiang-tiang beton. Masyaallah .
Semua kendaraan merayap maju perlahan, sampailah dilokasi kecelakaan. Ya Allah dua orang korban kecelakaan tergeletak diatas tandu didekat ambulans. Katanya mereka sepasang suami istri yang menjadi korban.
Perasaan galau menghampiri, kalau saja tadi belok kanan apakah saya dan istri yang akan mendapat kecelakaan? mengingat jarak 5 Km x 2 saat kesasar hampir bertepatan dengan lokasi kecelakaan yang berjarak 10 Km dari persimpangan. Entah mengapa, saya merasa ingin menangis mengingat sepasang suami istri yang meninggal disana,
" Kebetulan yang menghindarkan saya dari kecelakaan ", karena salah mengambil arah tujuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar