Jumat, 29 Januari 2010

17. " KEBETULAN " YANG MEMBERIKAN INSPIRASI " Mencari Ibu yang hilang

Alhamdulillah, perjalanan malam yang ditempuh dari Mekah ke Medinah sejauh 470 km selesai sudah. Walau badan terasa penat dan pegal namun kami diingatkan bahwa setelah kopor ditempatkan dikamar masing-masing dilantai 8 Hotel Al Dallah. kami semua akan langsung berangkat ke Mesjid Nabawi. Jadi tidak ada waktu untuk istirahat bersantai, komo bari gogoleran heula mah apalagi untuk berbaring dulu.

Semua kumpul di lobby hotel, sedikit morning assembly informasi singkat dari pimpinan rombongan, bahwa di Medinah harus berhati-hati banyak sekali godaan-godaan. Perhatikan areal yang dilewati agar tidak tersesat kembali ke hotel. Di mesjid, kaum hawa mendapat tempat tersendiri untuk sholat. Jadi akan berpisah dengan bapak-bapak.

Brrr, cuaca dingin sekali anginpun bertiup kencang, suhu udara sekitar 27 derajat celcius. Kami berjalan bersama ngaleut ngeungkeuy ngabandaleut, ber-iring-iringan melalui jalan kecil disela-sela pertokoan. Lalu tiba dijalan yang kiri kanannya sedang dalam taraf pembangunan, truk-truk besar, buldozer nampak disana. Tempat ini 4 tahun berselang sudah menjadi tempat wudhu Mesjid Nabawi.

Tiba diareal luar mesjid, ibu-ibu berpisah masuk ke pintu gerbang tempat yang disediakan khusus untuk sholat kaum wanita. Istri saya seperti biasa menggandeng Ibu Hj Iros masuk kedalam mesjid. Saya beserta teman-teman menuju gerbang yang lainnya, memilih tempat agak kedalam.

Tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah SWT, kini kami sudah berada didalam mesjid yang begitu megah dengan luas 98.000 m2. Dimusim haji ini dapat menampung 1 juta jama'ah. Didalam mesjid, banyak lampu kristal pilihan yang tidak membiaskan panas sangat cantik. Dalam "Buku Pintar Haji HM Iwan Gayo" ada 674 lampu kristal, terdiri dari 3 macam ukuran, diameternya 1,20-1,40 dan 3,42 meter. Beratnya 125 kg, 145 kg, dan 485 kg.
Euleuh-euleuh kumaha mun murag?. Aduh bagaimana kalau jatuh? lampu sebegitu beratnya tergantung dilangit-langit mesjid. Hati berdecak kagum dan ingin lebih banyak tahu tentang mesjid ini. Masih ada 7 hari lagi disini, cukuplah nanti untuk menjelajah keseluruhan areal.

Shalat subuh terasa khusyuk, suara imam mesjid begitu nikmat terdengar. Do'a dan dzikir menimbulkan gelombang suara laksana ribuan lebah berdengung. Ingin berlama-lama disini namun saya diingatkan teman agar segera keluar mesjid untuk bersama kembali ke hotel.

Diluar sana kami berkumpul, menunggu teman lain yang belum datang. Lebih seperempat jam menunggu, ada seorang yang belum nampak hadir, ialah Ibu Hj Iros.
Istri saya terlihat paling gelisah, terus menengok kepintu keluar mesjid menanti kedatangannya. Tunggu ditunggu tak hadir juga, pimpinan rombongan memutuskan untuk kembali ke hotel. Bagaimana dengan Ibu Iros? haruskah dia ditinggalkan sendiri di mesjid atau dimana?
Istri saya berbisik " Tadi waktu keluar mesjid bersama-sama ada disebelah kiri, kamana atuh nya si Ema teh? " . Ibu Hj Mis Rachmiati, menjelaskan Ibu Iros balik kembali kedalam mesjid karena sandalnya tertinggal. Siapakah Ibu Hj Iros ini?.

Ibu Hj Iros Roswati dari Kujang Sari Buah Batu, berangkat menunaikan ibadah haji tanpa didamping sanak saudara. Berawal dari permintaan idzin istri kepada saya ketika tiba di Mekkah, bahwa ingin mendampinginya selama di tanah suci. Saya setuju atas keinginan istri sehingga diatur agar beliau tidur sekamar dengan istri saya.

Mula pertama terasa gerak langkah kami terhalang dengan hadirnya Ibu Iros. Namun selanjutnya menjadi terbiasa, malah kami mendapat hikmah selama mengikuti ibadah haji tidak tergesa-gesa, tumaninah.

Saya dan istri punya latar belakang yang hampir sama, ayah meninggal saat kami duduk dibangku SD, kami dibesarkan oleh ibu dengan penuh kasih sayang. Perjuangan ibu dalam membesarkan putra-putri menghantar semua anak-anaknya mencapai pendidikan tinggi, bekerja dan berumah tangga. Dengan demikian baru dapat melaksanakan ibadah haji pada usia lanjut, seusia Ibu H Iros.

Selama menjalankan ibadah haji, kami saja yang masih muda merasakan betapa ibadah ini memerlukan konsentrasi dan fisik yang sehat. Bagaimana dulu ibu kami menjalankannya tanpa pendamping?
Subhanallaah, mereka telah dilindungi Allah SWT tentunya. Usai berhaji, ibu saya, ibu mertua dipanggil sang Khalik.
Sosok Ibu H Iros, menjadi inspirasi bagi kami berdua untuk mengenang kembali orang tua yang telah membesarkan kami dan kini telah tiada. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosanya.Amiin.

Tiba dilantai 8 hotel tempat kami menginap, semua berkumpul didepan koridor, tidak ada yang masuk kedalam kamar, recok pating kumaha , semua membicarakan Ibu Iros yang kini hilang. Semua tampak tegang sementara wajah memancarkan kelelahan...

Terbersit dalam hati, sekilas timbullah kekuatan didalam bathinku. " Ada yang hilang! apa yang harus dilakukan? ya harus dicari! " Saya merasa harus mencarinya, walau kota Medinah ini masih asing dimata saya, namun kalau seputar areal mesjid mungkin, insyaallah saya ingin mencarinya!

Saya mohon idzin kepada Bapak H Djaja Zakaria untuk mencarinya. Tampak sekilas raut wajahnya meragukan keinginan saya untuk mencari ibu Iros. Namun beliau memberikan idzin kepada saya dengan pesan agar berhati-hati. Teman yang lain memandang cemas kepada saya, termasuk istri yang tampak pasrah mendengar keinginan saya menjadi "Team SAR". Eh tidak ada team disini, saya sendiri saja anggota Search And Rescue .

Turun ke lobby menggunakan lift, mendapatkan banyak jemaah yang baru datang dari Mekah. Disini saya mulai mencari Ibu Iros disela orang-orang. Dari depan lift menuju front desk, ke restaurant sampai ke toilet. Disini saya agak lama menunggu yang keluar dari toilet wanita, barangkali saja kalau Ibu Iros ada didalamnya. Ada seorang ibu terheran-heran melihat saya, "nangkring" didekat pintu toilet, dikira mau masuk ke toilet wanita.

Akhirnya saya menuju ke pintu keluar, tiba saatnya pergi ke mesjid Nabawi! Terasa ada yang menepuk bahu dari belakang.

Karena dari tadi konsentrasi kepada Ibu Iros, saya mengira dia yang menepuk bahu. Ternyata bukan, dia Bapak H Mamat urang Majalaya.
" Abdi ngiring milarian "
Alhamdulillah dia menemani saya sekarang.

Sambil berjalan ke mesjid, kami berbagi tugas, saya mengawasi arah sebelah kanan, Kang H Mamat sebelah kiri dari semua jamaah yang berpapasan berlawanan arah.
Pusing juga terus menerus memperhatikan orang-orang.

Di areal mesjid Nabawi kami menuju gerbang masuk untuk kaum wanita, namun dihalangi askar, tidak boleh mendekat pintu masuk, walau saya berusaha menjelaskan dengan bahasa isyarat, tetap ditolak. " No! " katanya keukeuh.

Kami berbagi areal pencaharian, saya kekiri Kang H Mamat kekanan mengitari mesjid yang sangat luas ini, nanti pasti bakal paamprok deui, siiplah. Berjalan terus sambil memperhatikan sosok ibu yang kira-kira sami lintuhna sama gemuknya dengan " target yang dicari ".
Sekian waktu berlalu dan kami berdua berkumpul lagi tidak berhasil menemukan Ibu Iros.

Sejenak saya berdo'a kepada Allah SWT mohon dapat menemukannya dalam keadaan selamat. Ditanah suci ini berulang kejadian hilangnya jama'ah, baik tua maupun yang masih muda. Sering dijumpai selebaran orang hilang ditempel didinding diluar mesjid.

Allaahumma laa sahla illaa maa ja'altahu sahlaan wa anta taj'alul hazana idzaa syita sahla. Ya Allah, tiada yang mudah selain yang Kau mudahkan dan Engkau jadikan kesusahan itu mudah jika Engkau menghendakinya jadi mudah. HR Ibnu Hibban.

Allaahumma yassir wa laa tu'assir. Ya Allah mudahkanlah dan jangan Kau sulitkan.

Nun jauh disebelah selatan dibawah tiang listrik, terpekur seorang ibu sendiri ditengah hilir mudik jama'ah yang melewatinya.
" Maa !!! " saya berteriak kepadanya. Dia menoleh kearah saya. Benar dia Ibu Iros. Saya berjalan cepat menghampirinya dengan tangan terbuka lebar-lebar. Ibu Iros berdiri perlahan-lahan berjalan kearah saya. Laksana " slow motion " di film Indihe, berpelukan. Ibu Iros menangis sayapun terbawa emosi menangis pula. Kang H Mamat mengingatkan untuk segera pulang.

Perlahan-lahan kami berjalan pulang menuju hotel Al Dallah, Ibu Iros memegang tangan saya berkali-kali menyeka air mata dengan handuk kecilnya. Tiba di hotel kami disambut gembira, teman-teman keluar dari kamarnya masing-masing , sadayana galecok , semua bergenbira, alhamdulillah.

Namun tidak demikian dengan pimpinan kami Bapak H Djaja Zakaria, beliau marah kepada Ibu Hj Iros, bahwa dari awal sudah dikatakan harus hati-hati! harus hati-hati!
Astaghfirullahaladziim, semua terpana mendengar beliau marah. Sejak kami mengikuti bimbingan haji, beliau senantiasa berbicara lemah lembut, sering melontarkan humor. Namun sekarang?

Ustadz juga manusia!, walau saya kecewa atas sikap beliau, namun saya melihat dari sisi lain, sosok tua yang membimbing kami ditanah suci tentu lelah dengan tanggung jawabnya yang besar, kami akui perjalanan haji ini mendapat kelancaran, dari hal transportasi dan akomodasi yang lainnya, Saya pribadi memakluminya.
Ibu Hj Iros menangis lagi terisak-isak, dibimbing istri ke kamar untuk istirahat....

" Hasbunal-laahu wa ni'mal wakiil " cukuplah Allah sebagai Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar