Tibalah saatnya meninggalkan kota Mekkah, saya yang tergabung dari kloter66 KBIH El Najah Bandung, esok hari akan pergi menuju kota Medinah. Sabtu malam ada briefing dari pimpinan rombongan, agar semua menghemat tenaga. Dianjurkan ibu-ibu nanti subuh tidak pergi ke Masjidil Haram. Namun bagi bapak-bapak silahkan saja kalau mau thawah dihari terakhir.
Ingat betul saat itu istri berkata : " Pa bisi panasaran, sok we papa ka mesjid, sugan ari teu jeung mamah tiasa dugi ka Hajar Aswad " . Saya merasa diberi semangat agar melaksanakan thawah, barangkali bisa mencapai Hajar Aswad.
Hajar Aswad, batu hitam terletak disudut sebelah tenggara Ka'bah, yaitu sudut dari mana thawaf dimulai. Sejenis batu rugby ini, menjadi tujuan bagi sebagian jama'ah yang tengah melaksanakan thawaf, rela berdesak-desakkan untuk menyentuh dan menciumnya. Kami diingatkan oleh pimpinan rombongan sejak masih di Indonesia, bahwa mencium Hazar Aswad hukumnya sunnah. Jangan memaksakan diri untuk mencapainya. Namun jujur saja saya ingin tahu dan mencapainya.
Jam 02.00 saya langsung pergi ke mesjid tanpa mampir dulu ke kamar istri. Angin dingin menerpa wajah saat keluar dari penginapan, tidak mengurungkan niat untuk pergi ke mesjid.
Di Masjidil Haram dini hari seperti ini, sudah banyak jama'ah yang melaksanakan thawaf. Bismillaahi wallaahu akbaar, saya mulai melaksanakan putaran yang pertama, lalu dilanjutkan putaran kedua.Dalam hati saya memohon kepada Allah SWT, isin-isin oge nyuhunkeun tiasa dugi ka Hajar Aswad. Saya merasa malu mengungkapkannya, namun ini barangkali kesempatan yang terakhir.
Pada putaran ketiga sekitar rukun Yamani saya "ditegur" seseorang, budak ngora kulitna bodas jangkung kasep anak muda berkulit putih tinggi : " Do you want Hajar Aswad ? ". Saya menganggukan kepala kepadanya.
Lengan atas saya tiba-tiba dicengkram kuat, membuat saya meringis kesakitan. Dengan cepat dia mendorong saya kearah Hajar Aswad.Subhanallaah, jemaah yang begitu padat memberi jalan seraya memandang saya. Ini membuat timbul rasa malu pada diri saya.
Singkat sekali rasanya saya sudah berada persis didepan Hajar Aswad. "Please" telapak tangan kanannya mempersilahkan saya untuk menyentuh batu hitam yang punya nilai history tinggi bagi umat Islam. Saat itu saya tidak mencium batu, cukup menyentuhnya. Anak muda itu tersenyum dan menarik kembali saya kebelakang. Hajar Aswad segera diserbu lagi oleh jama'ah yang lain.
Setelah ditarik mundur, sekarang ngadengkek ku kelekna . Aduuh dia melingkarkan tangannya ke leher saya, persis diketiaknya, tapi da teu bau kelek saya tidak merasakan bau keringat, harum yang terasa. Jauh dari Hajar Aswad, saya "dilepaskan" dan dia memberi senyuman yang sangat "dalam".
Saya ingin menyalami dan memberikan ucapan terima kasih, anak muda sudah menghilang larut dalam pusaran jama'ah.
Saya terus mengikuti arus sambil menepi. Sampailah dibagian terluar pusaran, mengambil tempat untuk sholat sunnah ba'da thawaf. Allahu Akbar
Saat inilah saya dilingkari 3 orang asykar yang tinggi besar. Seorang berdiri dikiri dan kanan saya, seorang lagi didepan saya.
Berdegup jantung hati saya dan segera beristighfar, mata dipejamkan sejenak untuk mendapatkan ke-khusyuk-an dalam sholat. Alhamdulillah hati terasa tenang, bacaan iftitah dalam hati selesai, berlanjut ke Al Fatihah dan Al Insyroh, membaca 2 surah ini digerendengkeun diucapkan tidak terlalu keras namun jelas. Pada raka'at ke dua surahnya Al Takaatsur.
Saat mengucapkan salam, menengok kekiri dan kekanan, saya terkejut karena dikiri dan kanan tidak ada lagi jama'ah sholat, karena yang melaksanakan thawaf sudah semakin melebar. Saya tahu diri, siap-siap bangkit berdiri, namun pundak saya disentuh asykar yang sebelah kanan dan
dia mengisyaratkan agar saya tetap duduk.
Subhanallah, saya diberi kesempatan untuk membaca do'a setelah sholat sunnah thawaf. Sementara 3 asykar berdiri sambil "ngobrol" seakan-akan menjaga saya dari libasan jama'ah yang sedang melaksanakan thawah, Jama'ah ada yang berlari dibelakang saya.
Selesai berdo'a segera saya berdiri, merekapun pergi. Seorang asykar menengok dulu kearah saya dan tersenyum. Sungguh saya merasa mendapat keni'matan luar biasa sekaligus merasa selama ini begitu banyak karunia, kenikmatan yang diterima namun saya tak mensyukurinya.
Dalam surah Ar Rahman :" Fabi-ay-yi-aalaa-i-rab-bikumaa tukadzdzibaan ". Lalu karunia Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kamu dustakan? berulang-ulang sampai 31 X.
Setelah sholat subuh, berat hati meninggalkan Ka'bah. Entah kapan saya dan istri dapat kembali kesini? air mata tak dapat ditahan saat meninggalkan Masjidil Haram.
Hati berbunga-bunga saat memasuki penginapan. bagaikan anak kecil yang mendapatkan mainan yang diinginkan, saya bergegas menaiki tangga menuju lantai 1, belok kanan menelusuri koridor, sampailah didepan pintu kamar istri saya.
Tok-tok-tok!. " Mah. mamah " , sejenak diam tak ada jawaban.
Tok-tok-tok! sekali lagi saya panggil istri saya lebih keras.
Pintu terbuka, Istri berdiri didepan pintu dengan sorot mata penuh amarah dan berteriak lantang : " Papap egois, hanya ngurus kesenangan sendiri! ".
Enyaan reuwas kacida! sungguh saya sangat terkejut luar biasa mendapat sergahan seperti ini.
Aya naon mah bet ngambek kitu ka papah? Saya bertanya perlahan kepadanya mengapa marah-marah ?.
" Kunaon teu ngajak thawaf? " mengapa tak mengajak thawaf?
Haar itu geura, kemarin begitu jelas dia yang mempersilahkan saya agar berangkat sendiri ke Masjidil Haram tanpa dia, agar saya dapat mencapai Hajar Aswad. Jelas kan seidzin mamah?Tapi keadaan berubah, teman sekamarnya semua pergi bersama suami-suaminya . Ibu Iros selama ini kami jaga, pergi pula bersama ibu yang lainnya. Apakah ibu Iros tidak mengajak istri saya thawaf? atau sebenarnya istri saya diajak, namun tidak mau?
Saya yakin istri saya diajak, namun mungkin karena tidak ada saya sebagai suaminya, dia tidak bisa pergi. Selama kalau hendak bepergian selalu minta idzin dulu.
" Janganlah seorang wanita bepergian sejauh perjalanan dalam dua hari, jika tidak bersama suami atau muhrimnya ". ( HR Bukhari )
" Tah panto dihalangan ku ranjang, mamah teh sieun! ". Benar yang dikatakan, pintu kamar tadi diberi penghalang, sebuah tempat tidur!.Saya yakin istri saya diajak, namun mungkin karena tidak ada saya sebagai suaminya, dia tidak bisa pergi. Selama kalau hendak bepergian selalu minta idzin dulu.
" Janganlah seorang wanita bepergian sejauh perjalanan dalam dua hari, jika tidak bersama suami atau muhrimnya ". ( HR Bukhari )
Saya " mengeluh " dalam-dalam. Ya Allah hari ini rasanya hati saya dibolak-balik, tadi kesulitan saat berjuang mencapai Hajar Aswad, lalu datang sang penolong hingga akhirnya tercapai batu hitam itu, sungguh hati merasa gembira.
Hati gembira terhenti karena terkejut dilingkari 3 orang asykar, sampai jantung berdegup keras, ada kesalahan apa saya ini ditunggu asykar?. Setelah terkejut ternyata saya " mendapat karunia " melaksanakan sholat sunnah thawah dalam keadaan aman dijaga askar.
Setelah "mendapat karunia" di maktab disambut amarah.
Kalau The last experience in hollytown Mecca ini dibuat grafik.... , akan tampak "fluktuasi" emosi saya.
Saya menarik nafas dalam-dalam, apakah fluktuasi emosi ini menggambarkan bahwa dalam kehidupan : ada suka dan duka, ada bahagia dan kesedihan, ada senyum dan marah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar