Selasa, 19 Januari 2010

6. " KEBETULAN " YANG MEMBERIKAN PENERANGAN Siapa yang mendengar suara hati?

Dikeheningan malam sunyi, dikesunyian malam didalam kamar hotel Al Dallah dikota Madinah, tepat jam 01.00 Waktu Saudi Arabia, saya terjaga dari lelap tidur. Sejenak berdiam diri, kepala tidak diangkat, telinga masih menempel di bantal, merasakan suara detak jantung sendiri, sementara kawan-kawan yang lain terlihat lelap dalam tidurnya masing-masing didalam selimut yang tebal.


Dalam surat Al Muzammit 1-5, “ Wahai orang yang berselimut, bangunlah (untuk sembahyang) dimalam hari kecuali sedikit (dari padanya),( yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau tambahkanlah dari seperdua itu, dan bacalah Al Qur’an dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami (Tuhan) akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat )”.


Ah, tidur adalah suatu masa yang rutin muncul, dimana tubuh dalam keadaan kesadaran yang sangat menurun , dibarengi aktifitas yang sangat rendah dan segala macam proses fisiologi, yang berwujud pengendoran urat, penurunan metabolisme. Konon, pada manusia waktu yang dipergunakan untuk tidur mencapai sepertiga dari bentang umurnya.


Banyak orang-orang yang bertaqwa, orang-orang yang berbuat baik, mereka sedikit sekali tidur dimalam hari dan pada waktu sepertiga terakhir malam, mereka memohon ampun kepada Tuhan.

Turun dari tempat tidur, bismillahirrohmanirrohiim segera mengambil wudhu dan melaksanakan qiyam al-lail atau sholat malam. Ibadah pada malam hari terasa lebih kokoh dan khusyuk, dilanjutkan dengan berdo’a, mohon ampunan atas segala dosa-dosa yang pernah dibuat, mohon anak-anak dan istri saya diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan, ditambah rezekinya untuk ibadah dan menjadi wanita-wanita yang sholehah. ( alhamdulillah saya dikarunia 4 anak, semua wanita ).


Usai berdo’a, saya memanaskan segelas air di wastafel kamar mandi menggunakan stick heater, untuk membuat segelas kopi susu.

Sambil menunggu air mendidih, saya duduk di atas tempat tidur, memegang buku Asmaul Husna, rencana akan berdzikir mengagungkan nama-nama Allah SWT.


“Pak Achmad sudah shalat tahajud ?” Pak H Emilius urang Arcamanik Bandung teman sekamar, yang tempat tidurnya di sebelah kiri saya, bertanya sembari bangun dan menuju kamar mandi.

“ Alhamdulillah sudah, Pak Emil mau sholat tahajud juga ya ?”

Dia mengangguk sambil berjalan menuju kamar mandi. Tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi, tangannya melambai kearah saya dan berkata : “Pak Achmad bikin air panas di kamar mandi,,, tuh sudah mendidih! “.


Saya bergegas turun dari tempat tidur dan menyenggol badannya, “Sakalian atuh pangnyabutkeun, teu pira naon hesena !“ , saya menggerutu kepadanya kenapa tidak dicabut, apa susahnya sih!

Dia tidak menjawab, tidak berkomentar, matanya menatap saya sejenak. Tatapannya yang innocent tak bersalah, membuat saya menyesali diri mengapa saya “memarahi dia”, bukankah Pak Emil sudah berbaik hati memberi tahu bahwa air sudah mendidih di kamar mandi. Seandainya dia tidak memberitahu, mungkin air terus mendidih sampai kering habis, bagaimana kalau heater meledak? Bagaimana kalau terjadi kebakaran? Duh, seharusnya saya berterima kasih kepada dia...


Setelah membuat segelas kopi susu, saya kembali ke tempat tidur, akan memulai dzikir Asma’ul Husna. Namun, saat membuka buku Asma’ul Husna, tulisannya tidak terlihat, karena lampu kamar cahayanya temaram, hanya lampu tidur bertudung diatas dresoir yang dinyalakan, cahayanya mana cukup untuk membaca?.


Saya bermaksud menyalakan lampu besar, namun kuatir mengganggu konsentrasi Pak H Emillius yang sudah mulai sholat tahajud, karena untuk mencapai tombol lampu, saya harus melangkah didepannya.Ya sudah.., saya menunggu sambil tetap duduk berselonjor dan menghirup kopi susu panas di tempat tidur dan mendengarkan Al Fatihah, Al Qodar yang terdengar ngoncrang, terasa keras dan jelas, padahal dia mengucapkannya perlahan dan tidak keras. Kemudian setiap mendengar Allahu Akbar, saya merasakan kenik’matan luar biasa.


Sholat tahajud 2 raka’at yang pertama selesai, dia berdiri untuk melanjutkan raka’at berikutnya, tangannya sudah diangkat untuk bertakbir, namun sejenak berhenti, tidak jadi bertakbir!


Dia melangkah kearah sudut kamar dan menyalakan lampu, sehingga kamar menjadi terang benderang. Dengan tenang kembali ke sajadahnya, kemudian dia melanjutkan sholat tahajudnya.


Subhanallah, saya tak dapat menahan tangis mendapatkan sesuatu moment yang sangat luar biasa. Kamar menjadi terang benderang, sehingga saya bisa membaca buku Asma’ul Husna dan mulai berdzikir..., Yaa Allah, Yaa Rahman, Yaa Rahiim, Yaa Malik, Yaa Kuduus, dan seterusnya sampai selesai. Pak Emilius pun selesai melaksanakan shalat tahajudnya dan mematikan lagi lampu besar. Dia tersenyum kepada saya sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


Sayapun bersiap untuk tidur kembali, namun saya menela’ah kejadian yang baru dialami seraya bertanya dalam hati, kepada diri sendiri .., siapa yang mendengar suara hati ?.


Tadi, Pak H Emillius berbaik hati memberitahukan kepada saya bahwa air sudah mendidih, namun saya meyesalinya dan menanggapi dengan menggerutu kepadanya, mengapa heater tidak sekalian dimatikan?

Tatapannya seakan-akan membenarkan apa yang saya sesalkan, sehingga untuk “menebus kesalahannya” dia memberikan “bonus” dengan cara menyalakan lampu besar, pada saat saya memerlukan penerangan untuk membaca dan berdzikir menyebut nama-nama agung Allah SWT.


Subhanallah, dia seperti dapat mendengar suara hati saya, namun sebenarnya Gusti Alloh yang mempunyai Asma’ul Husna..., As Sami’ yang Maha Mendengar, Al Khabir yang Maha Mengetahui, segala perkara batin yang tersembunyi serta mengetahui hakikat dari segala perkara dan kejadian, An Nur yang menciptakan cahaya....


Nuhun Gusti, abdi nampi kana sagala kani’matan ti anjeun wengi ieu, saya merasakan air mata terasa hangat mengalir dari sudut mata merambah pipi dan jatuh diatas bantal. Betapa selama ini kenikmatan begitu banyak yang diberikan Allah kepada saya, namun begitu sedikit rasa syukur yang saya sampaikan kepada Nya.


Dalam surat Ibrahim 14-7 : “La-in syakartum la-azidannakum wa la-in kafartum inna’adzabi lasyadid”. Kalau kalian syukur, aku akan tambahkan ni’mat kepadamu, dan kalau kamu kufur ( tak syukur ) maka sesungguhnya azabku maha pedih.


Dalam surat Luqman 31-12 : “ Wa mayyasykur fainnama yasykuru linafsihi wa man kafara fainnallaha ghaniyyun hamid “. Barang siapa yang bersyukur, maka manfaat syukur itu untuk dirinya juga. Dan barang siapa yang tidak syukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Terpuji.



1 komentar:

  1. sering kali mendengar crt ini..tp kok rasanya g bosen2 ya.dan kali ini seperti pertama kali mendengar sama merindingnya

    BalasHapus