Kami mendapat seat di kabin kelas 1, duduk tenang dan berdo'a agar perjalanan menuju tanah suci dilindungi Allah SWT. Saya merenung, pesawat terbang berbobot sekian ton berada di ketinggian ribuan kaki dari bumi dengan kecepatan sekian km/jam, rasanya seperti diam, " maju henteu ieu teh? asa cicing wae " . Happy new year! tahun berganti, sekarang tahun 2006. Kami mendarat di bandara King Abdul Azis, di kota Jeddah, pantai timur Laut Merah, alhamdulillah.
Di bandara kami harus bersabar, karena berdasarkan informasi dari bagian transportasi, rombongan El Najah akan berangkat ke kota Mekkah, mendapat urutan bus nomor 10. Namun ternyata urutannya menjadi nomor 1, langsung berangkat menuju Haffair letaknya tidak begitu jauh dari Masjidil Haram. Di Penginapan kami mendapat kamar-kamar dilantai 1.
Pimpinan KBIH El Najah, Bapak KH Drs Djaja Zakaria mengatakan : " Seat di kabin nomor 1, tiba di Arab Saudi tanggal 1 Januari 2006, dari Jeddah naik bus urutan nomor 1, di Haffair tinggal dilantai 1, jarak maktab ke Masjidil Haram +/- 1 km ", Mudah-mudahan ini pertanda baik, kami diberi kelancaran selama menjalankan ibadah haji
Siang hari sepulang dari Masjidil Haram, Ibu Hj Nining Ruchaeningsih sakit. tenaga medis menyatakan harus dibawa segera ke klinik. Namun saat itu tidak ada ambulans dan tidak ada tandu. " Kumaha atuh nya? " semua kebingungan.
Saya berinisiatif untuk menggendongnya ke klinik terdekat. Bismillahirrokhmanirrokhiim dari lantai 1, setapak demi setapak menuruni tangga, laksana pembawa bendera pusaka menuruni tangga istana saat upacara hari kemerdekaan RI.
Sepanjang trotoar semakin lama semakin terasa berat, saya mulai berkeringat. Bapak H Radi suaminya yang sudah sepuh berjalan disebelah saya. Alhamdulillah ada yang bersedia untuk menggantikan menggendong Ibu Hj Nining, sukarelawan itu ialah Bapak H Hadi Suparyo. Setelah tiba di klinik, diperiksa dokter, Ibu H Nining harus dirawat karena hypertensi.
Sepanjang trotoar semakin lama semakin terasa berat, saya mulai berkeringat. Bapak H Radi suaminya yang sudah sepuh berjalan disebelah saya. Alhamdulillah ada yang bersedia untuk menggantikan menggendong Ibu Hj Nining, sukarelawan itu ialah Bapak H Hadi Suparyo. Setelah tiba di klinik, diperiksa dokter, Ibu H Nining harus dirawat karena hypertensi.
Ibadah haji di Mekkah dan Medinah usai sudah, waktu terasa cepat berlalu sampai tiba saatnya take-off dari Medinah menuju Jakarta. Kali ini pesawatnya Garuda Indonesia Airways. Sayang, saya dan istri berbeda seat. saya dibarisan kanan depan, istri dibarisan kiri tengah. Karena kelelahan saya tertidur lelap, terjaga saat pramugari menghantarkan hidangan. Teringat istri tercinta, saya beranjak ke belakang untuk menengoknya.
Astaghfirullah, dia sedang menyandarkan kepalanya kekursi depan. tengkuknya dipijit-pijit sesorang yang duduk disebelah istri saya.
" Aduh Pa, mamah vertigo lagi " Istri saya sudah lama menderita sakit ini. Vertigo adalah keadaan seolah-olah disekitarnya bergoyang-goyang dan berputar-putar, sehingga menjadi pusing, kadang-kadang disertai mual dan muntah-muntah . Vertigo dapat disebabkan oleh kelainan dalam telinga atau dalam otak.Astaghfirullah, dia sedang menyandarkan kepalanya kekursi depan. tengkuknya dipijit-pijit sesorang yang duduk disebelah istri saya.
Alhamdulillah selama menunaikan ibadah haji tidak kambuh dan kini diperjalanan pulang, kambuh lagi.
" Wios Cep tong hariwang, aya Ema " suara yang saya kenal. siapa dia?
Beliau Ibu Hj Nining, yang pada hari pertama di tanah suci jatuh sakit dan saya tolong membawanya ke klinik. Kini dihari terakhir meninggalkan tanah suci, beliau menolong istri saya yang jatuh sakit.
" Hiji-hiji Cep, kapungkur Ema ditulungan, keun ayeuna tong hariwang Si Eneng dijagi ku Ema ".
Sampai sekarang kami tetap bersilaturahmi, dihari tuanya masih beraktifitas dalam kondisi kesehatannya yang terjaga baik, Salah satu putranya seorang dokter di Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar