Rabu, 20 Januari 2010

8. " KEBETULAN " YANG MEMBUKAKAN MATA Jangan menilai dari penampilan

Ada seorang anak muda sedang duduk bersimpuh diatas sajadah. Dia terpekur tunduk, rambutnya gondrong hitam legam berjuntai ke bawah. Tak lama tangannya terentang lebar, tentunya sedang memanjatkan do'a terlihat dari mulutnya yang komat-kamit.

Sungguh dia menjadi perhatian disekeliling termasuk saya sendiri, pakaian gamisnya terlihat high quality, putih bersih licin mengkilat. Saya menaksir derajat putih bahan gamisnya ini bernilai 5. Dalam ilmu tekstil ada skala untuk menilai hasil proses bleaching atau pemutihan. Dimulai nilai 1, secara visual putih agak kekuning-kuningan, nilai 2 akan terlihat sedikit lebih putih dari nilai 1. Demikian sampai nilai 5 yang terputih. Dari segi lain, bahan gamis ini, tentu melalui proses finishing (penyempurnaan), pegangannya lembut. Ini didapat dari obat finish kimia. Lalu proses finishing secara mekanik, kain menjadi stabil dimensinya, tidak akan mengkeret walau dicuci berkali-kali. Ada juga proses Calander, berefek kain terlihat mengkilat.
Eh mengapa jadi membahasa tekstil? abong kena pagawe pabrik tekstil baheulana.

Tatapan mata saya kembali ke anak muda tadi,sekarang sudah selesai berdo'a dan apa yang dilakukannya? tangan kirinya memegang gelas plastik berisi penuh kurma gemuk warnanya coklat ke hitam-hitaman.Sungguh saat itu jadi ingin sekali memakan kurma.
Merasa diperhatikan, dia menengok kearah saya, tersenyum tapi terus saja mengunyah kurma penuh kenikmatan.

" Cik atuh hiji kadieukeun ,kuring hayang ngasaan ", dalam hati saya berkata dengan harapan, dia mau membagi kurmanya. Eh dia menengok lagi, tersenyum bari jeung manggut sagala, tapi mannaaa atuh kurmanya?!

" Enyaan tega maneh ka urang ". Herannya mengapa saya menggerutu, bukankah dia sudah dua kali memberikan senyuman, berarti dua kali memberikan shodaqoh.


Tiba-tiba ada yang menepuk lutut saya, seseorang disebelah kiri menawarkan kurma 3 butir, segar terlihat dari bentuknya yang kuning gemuk kecoklatan. Saya ragu menerimanya dan bermaksud menolaknya. Saya ingat betul, waktu thawaf dia bersama rombongannya mepet-mepet terus kepada saya, dan waktu itu saya mencium aroma keringatnya yang menyengat hidung. Didalam mesjid saat mencari lahan untuk sholat, memilih tidak dekat dengan mereka orang yang berkulit lebih hitam dari saya, saya memilih mencari tempat lain.

Saya tercenung dan membaca istighfar dalam hati, kenapa ikut-ikutan sugesti bahwa orang-orang berkulit hitam kasar-kasar, bau, pokona tong dideukeutan. Terbukti sekarang tidak demikian, secara fisik memang nampak kotor , tapi hatinya baik mau memberi kurma kepada saya walau hanya tiga butir.

Ada pelajaran pada moment ini. Jangan menilai seseorang dari penampilan, yang putih bersih mewangi " pedit " tidak mau berbagi kurma. Yang hitam legam baju lusuh. mau berbagi kurma kepada saya.:

Saya tersenyum kepadanya dan menerima kurmanya seraya berkata : " Syukroon "

1 komentar: