Memang benar hidup di dunia ini hanya sebentar. Orang orang mengibaratkan hanya mampir minum dan istirahat sebentar saja. Selanjutnya akan meneruskan perjalanan yang panjang dan jauh ke depan tanpa batas akhir waktu. Untuk itu janganlah sampai fatamorgana dunia memperdaya kita semua dari ketaatan kepada Allah swt.
Aral melintang dalam menjalani kehidupan di dunia bukanlah hal yang mudah. Ada kesulitan dan kemudahan. Ada kebaikan ada keburukan, juga ada kesabaran dan kemarahan.Tgl 24 Januari 2006, di Masjidil Haram, menjelang adzan subuh, istri ingin segera melaksanakan thawaf. Namun saya memutuskan nanti saja setelah sholat subuh, karena beberapa hari yang lalu, saat adzan berkumandang, serentak semua jama'ah mencari lahan untuk sholat, sarerea pahibut! sibuk! loba nu teu kabagean! loba, banyak yang tidak kebagian tempat untuk menggelar sajadahnya. Ada ibu-ibu tos ngaraos tumaninah calikna sudah mendapat tempat dan menggelar sajadahnya, tiba-tiba diusir jema'ah yang didekatnya, agar pindah kekelompok wanita, yang posisinya entah disebelah mana? Sementara iqomah sudah dimulai!
Na da eta mah keukeuh, istri saya bersikeras ingin thawaf dulu, sumanget pisan, semangatnya luar biasa, menarik-narik tangan saya. Akhirnya saya bentak! agar mengikuti keputusan saya.
Langsung ngajanggilek baeud! beu! beu! beu! dia mendelik diam "1000 bahasa!" Namun diam-diam mengikuti saya melangkah menaiki tangga ke lantai 2, karena di lantai 1 sudah penuh sesak.
Usai sholat subuh, kami turun lagi ke lantai 1 melalui beberapa turunan sampai dipelataran Ka’bah. Kami masuk kedalam pusaran jama’ah dengan posisi paling depan Ibu Iros, " kasepuhan " yang selalu kami dampingi karena beliau pergi sendiri tanpa suami. Istri saya memegang lengannya, saya mengawasi mereka berdua diposisi paling belakang. 7 keliling dicapai tanpa kesulitan karena mengikuti arus jama’ah apa adanya, tidak memaksakan untuk mencapai Hajar Aswad.
Setelah melaksanakan shalat sunah thawah, dilanjutkan melaksanakan sholat sunah yang lainnya dan membaca Al Qur’an sampai jam 8 pagi, baru beranjak keluar dari Masjidil Haram. Saya bertanya kepada istri apakah mau ke Pasar Seng?, tak dijawab.
Usai sholat subuh, kami turun lagi ke lantai 1 melalui beberapa turunan sampai dipelataran Ka’bah. Kami masuk kedalam pusaran jama’ah dengan posisi paling depan Ibu Iros, " kasepuhan " yang selalu kami dampingi karena beliau pergi sendiri tanpa suami. Istri saya memegang lengannya, saya mengawasi mereka berdua diposisi paling belakang. 7 keliling dicapai tanpa kesulitan karena mengikuti arus jama’ah apa adanya, tidak memaksakan untuk mencapai Hajar Aswad.
Setelah melaksanakan shalat sunah thawah, dilanjutkan melaksanakan sholat sunah yang lainnya dan membaca Al Qur’an sampai jam 8 pagi, baru beranjak keluar dari Masjidil Haram. Saya bertanya kepada istri apakah mau ke Pasar Seng?, tak dijawab.
Ya sudah , akhirnya kami pulang ke maktab, untuk makan dan istirahat sebentar sampai menjelang dhuhur nanti. Rebahan di tempat tidur sambil menunggu waktu. Lama ditunggu-tunggu mengapa tiada khabar berita?. Biasanya istri nongol dipintu kamar memberikan " penawaran ", apakah saya mau makan bersamanya? atau makan sendiri dikamar?.
Saya menuju kamarnya, ternyata dia baru selesai makan! tara-tara ti sasari teu ngajak-ngajak! tidak seperti biasanya, dia tidak mengajak saya makan. Bae lah, biarlah sekarang saya makan sendirian saja, teu nanaon tidak apa apa. Alhamdulillah tetap lahap, sekejap licin tandas tak bersisa. Sejak berumah tangga soal makan soal bercinta, saya tergolong yang teu hararese, ga susah. Apa yang tersedia dimeja makan hasil masak istri, selalu disikat habis!. Itu soal makan, soal bercinta? moal ah ararisin teuing bari na ge malu ah kalau diceritakan.
Beres makan, langsung cuci piring kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengambil baju-baju yang sudah dicuci siap jemur. Ternyata bajunya belum dicuci!, beu beu beu kumaha yeuh bagaimana ini, biasanya istri yang mencuci dan saya bagian menjemur cucian. Ini peraturan lisan yang dibuat saat mulai tinggal di maktab.
Ikhlas, hari ini saya mencuci pakaian dan menjemur, beres kan? lalu mandi siap-siap pergi ke mesjid.Ada pesan singkat, tidak melalui SMS melainkan lisan dari Ibu Iros : Da eneng mah moal ka masjid " istri saya tidak akan pergi ke mesjid. Beu ngambekna kateterusan yeuh! marahnya berkelanjutan nih!.
Ya sudah, saya segera berangkat mengejar waktu shalat dhuhur, malah merasa lebih leluasa pergi tanpa istri, serasa bebas, he he h .., pilih tempat untuk shalat mengikuti kesukaan hati tanpa harus berdiskusi dengan istri yang kadang-kadang berbeda pendapat uing hayang didieu, manehna hayang diditu, menurut saya disini, istri malah ingin disana.
Perbedaan memang ada, tetapi saya yang sering mengalah kepadanya. Memang sebelumnya dia minta pendapat dan idzin kepada saya, namun ujung-ujungnya tetap harus mengikuti keinginannya, jika pendapatnya berbeda dengan saya.
Diawal pemberangkatan haji, istri sering bicara, agar kita harus bisa menjaga emosi, jangan marah. " Pa, seueur kacarioskeun, salaki pamajikan parasea ditanah suci " banyak cerita suami istri bertengkar karena hal-hal yang sepele saja. Bahkan menjelang mendarat di bandara King Abdul Azis, begitu pramugari mengingatkan penumpang, agar memasang safety belt, istri saya juga mengingatkan bari noel sagala, menjawil tangan dan berkata : " Kade nya pa, urang ulah pasea " Jangan ada pertengkaran diantara kita! duh...
Dari Abu Hurairah bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi : “ Berilah wasiat kepadaku ” . Sabda Nabi : “ Janganlah engkau mudah marah ”.
Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau : “Janganlah engkau mudah marah” (HR<>
2. Dia salah, tapi boleh jadi aku juga salah.
Fikirkan :
1. Akankah kita nodai Haji kita dengan pertengkaran & permusuhan?
2. Kita tak menyukai tamu yang bertengkar dirumah kita. Allahpun takkan suka tamunya bertengkar.
3. Apa untungnya kita rusak suasana dengan bertengkar?.
4. Tak ada seorangpun yang ideal dan sempurna, sebagaimana diri kita sendiri. Maafkanlah dan lupakanlah kesalahannya.
5. Barang siapa ingin dima'afkan oleh Allah, jadilah pema'af.
6. Manusia yang paling bahagia, adalah pemaaf yang tulus.
Kami berdua terperangah membaca tulisan ini, penulisnya ialah Aa Gymnastiar dari pesantren Daruut Tauhid Bandung. Kebetulan jama’ah Daruut Tauhid sebagian ada yang tinggal dihotel tempat kami menginap.
Tulisan Manajemen Konflik, ditujukan tentu kepada jama’ah Aa Gym, namun saya merasa Allah SWT yang mengaturnya, sehingga tepat waktu dan sasaran kepada saya dan istri yang sudah memasuki hari ke tiga “ perang dingin ”
Air mata menggenang dipelupuk mata istri, dia berkata perlahan : " Hapunten mamah Pa "
Saya maafkan mah, hadena papah tiasa sabar menghadapi mamah .
Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda :
“Barang siapa menahan amarahnya padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, maka kelak Allah akan memanggilnya pada hari kiamat dihadapan segala makhluk, sehingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya”
Ah, " bidadari ieu ge tos cekap, sanaos sok baeud ge "
Hadis yang lain : “Marah itu dari setan” (HR Abu Dawud)
“Sesungguhnya mengucapkan " a'udzubillahii minasysyaithaanirrjiim " dapat menghilangkan rasa amarah” (HR Tarmidzi).
Alhamdulillah, saya mendapat " KEBETULAN YANG MENGINGATKAN ' Mengapa harus bertengkar? menjadikan saya dan istri lebih introspeksi diri.
Sehari berlalu, belum ada tanda-tanda membuka jalur komunikasi. Hari kedua sejak berangkat dari maktab menjelang subuh sampai thawah mau dimulai, tetap berdiam “ 1001 bahasa “. Seperti biasa urutan berbaris paling depan Ibu Iros, lalu istri saya dibelakangnya sambil memegang lengan atas Ibu Iros. Saya yang paling belakang tentu harus memegang lengan atau bahu istri saya.
Waktu saya memegang lengannya, da dikepeskeun!. Tangan saya ditepiskan, nggak usah pegang-pegang, bisa sendiri katanya. beu itu geura!.
Hari ketiga sejak konfrontasi dimulai, saat keluar dari penginapan, selama perjalanan ke Masidil Haram, saya bersenandung kecil begini : “ Perdamaian, perdamaian…. “ lagu Nasyidah Ria yang di "re-take", dinyanyikan oleh KD Kris Dayanti nu geulis tea.
Eh ada reaksi : " Batur mah dzikir!!! " katanya. Saya bersenandung lagi, “ Perdamaian, perdamaian ".Saat thawaf , alhamdulillah istri tidak menolak dipegang saat dilindungi, kami pun mulai mengelilingi Ka’bah, " Bismillaahi wallaahu Akbar ".
Saya tidak ingat, pada putaran yang keberapa, tiba-tiba saya merasakan tangan istri saya menyentuh “ milikku” yang ada dibawah perut, mungkin tak sengaja dan tak mungkinlah kalau sengaja. Namun akibatnya saya menjadi " horny ". Aah, bagaimana mungkin sedang melaksanakan thawaf saya terangsang?, tapi kenyataannya membuat istri teu daek cicing, rada gutak gitek saeutikt, menjadi gelisah karena ada yang geli akh.., keras menggesek-gesek tubuhnya, heuheuy deuh!.
Astaghfirullaahal-'azhiim, sekuat mungkin saya menahan dan mengalihkan rangsangan , konsentrasi lagi pada do’a yang diucapkan. Entah apakah orang lain juga ada yang mengalami seperti ini, saat berdesak-desakan, kegesek-gesek menjadi horny? ( kalau ada kasih komentar di blog ini ya. red ).
Manusiawi kalau hal itu selintas muncul, bukankah telah sekian lama tidak" ber-aktifitas rutin ", karena tengah melaksanakan ibadah haji. Mungkin istri juga perasaannya sama, tadi saya menangkap kegelisahannya.
Selesai thawaf, saya membiarkan dia yang menentukan tempat untuk melaksanakan sholat sunah. Kini sorot matanya menjadi teduh.
Hari ketiga, dikamar mandi saya mendapatkan baju-baju sudah dicuci siap di jemur. Tuh kan sudah mau menjalankan tugasnya. Sayapun siap menjemurnya kelantai paling atas, namun didepan lift, lupa membawa gantungan dan jepitan baju, padahal dua benda ini sangat penting agar jemuran tidak terbang disapu angin, apalagi dilantai paling atas angin bertiup sangat kencang!.
" Pa, gantungan jeung panyapitna kakantun ", suara yang kurindu kini terdengar lagi, matanya teduh seiring senyum tersungging dibibirnya. Pintu lift terbuka, kami berdua, " si nu ngagantung jeung si panyapit " segera masuk. Didalam lift cukup berpegangan tangan, melepas rindu. Hanya sebatas itu, teu ngabohong! , beneeer?
Sambil bersandar berpegangan tangan , terbaca tulisan diatas sehelai kertas folio, yang ditempel didinding lift .
" MANAJEMEN KONFLIK "
Mengapa harus bertengkar ?
Aku benar, engkau yang salah!
Kedua belah pihak berfikir samaSaya tidak ingat, pada putaran yang keberapa, tiba-tiba saya merasakan tangan istri saya menyentuh “ milikku” yang ada dibawah perut, mungkin tak sengaja dan tak mungkinlah kalau sengaja. Namun akibatnya saya menjadi " horny ". Aah, bagaimana mungkin sedang melaksanakan thawaf saya terangsang?, tapi kenyataannya membuat istri teu daek cicing, rada gutak gitek saeutikt, menjadi gelisah karena ada yang geli akh.., keras menggesek-gesek tubuhnya, heuheuy deuh!.
Astaghfirullaahal-'azhiim, sekuat mungkin saya menahan dan mengalihkan rangsangan , konsentrasi lagi pada do’a yang diucapkan. Entah apakah orang lain juga ada yang mengalami seperti ini, saat berdesak-desakan, kegesek-gesek menjadi horny? ( kalau ada kasih komentar di blog ini ya. red ).
Manusiawi kalau hal itu selintas muncul, bukankah telah sekian lama tidak" ber-aktifitas rutin ", karena tengah melaksanakan ibadah haji. Mungkin istri juga perasaannya sama, tadi saya menangkap kegelisahannya.
Selesai thawaf, saya membiarkan dia yang menentukan tempat untuk melaksanakan sholat sunah. Kini sorot matanya menjadi teduh.
Hari ketiga, dikamar mandi saya mendapatkan baju-baju sudah dicuci siap di jemur. Tuh kan sudah mau menjalankan tugasnya. Sayapun siap menjemurnya kelantai paling atas, namun didepan lift, lupa membawa gantungan dan jepitan baju, padahal dua benda ini sangat penting agar jemuran tidak terbang disapu angin, apalagi dilantai paling atas angin bertiup sangat kencang!.
" Pa, gantungan jeung panyapitna kakantun ", suara yang kurindu kini terdengar lagi, matanya teduh seiring senyum tersungging dibibirnya. Pintu lift terbuka, kami berdua, " si nu ngagantung jeung si panyapit " segera masuk. Didalam lift cukup berpegangan tangan, melepas rindu. Hanya sebatas itu, teu ngabohong! , beneeer?
Sambil bersandar berpegangan tangan , terbaca tulisan diatas sehelai kertas folio, yang ditempel didinding lift .
" MANAJEMEN KONFLIK "
Mengapa harus bertengkar ?
Aku benar, engkau yang salah!
Solusi :
1. Aku merasa benar, tapi boleh jadi dia juga benar.2. Dia salah, tapi boleh jadi aku juga salah.
Fikirkan :
1. Akankah kita nodai Haji kita dengan pertengkaran & permusuhan?
2. Kita tak menyukai tamu yang bertengkar dirumah kita. Allahpun takkan suka tamunya bertengkar.
3. Apa untungnya kita rusak suasana dengan bertengkar?.
4. Tak ada seorangpun yang ideal dan sempurna, sebagaimana diri kita sendiri. Maafkanlah dan lupakanlah kesalahannya.
5. Barang siapa ingin dima'afkan oleh Allah, jadilah pema'af.
6. Manusia yang paling bahagia, adalah pemaaf yang tulus.
Kami berdua terperangah membaca tulisan ini, penulisnya ialah Aa Gymnastiar dari pesantren Daruut Tauhid Bandung. Kebetulan jama’ah Daruut Tauhid sebagian ada yang tinggal dihotel tempat kami menginap.
Tulisan Manajemen Konflik, ditujukan tentu kepada jama’ah Aa Gym, namun saya merasa Allah SWT yang mengaturnya, sehingga tepat waktu dan sasaran kepada saya dan istri yang sudah memasuki hari ke tiga “ perang dingin ”
Air mata menggenang dipelupuk mata istri, dia berkata perlahan : " Hapunten mamah Pa "
Saya maafkan mah, hadena papah tiasa sabar menghadapi mamah .
Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda :
“Barang siapa menahan amarahnya padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, maka kelak Allah akan memanggilnya pada hari kiamat dihadapan segala makhluk, sehingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya”
Ah, " bidadari ieu ge tos cekap, sanaos sok baeud ge "
Hadis yang lain : “Marah itu dari setan” (HR Abu Dawud)
“Sesungguhnya mengucapkan " a'udzubillahii minasysyaithaanirrjiim " dapat menghilangkan rasa amarah” (HR Tarmidzi).
Alhamdulillah, saya mendapat " KEBETULAN YANG MENGINGATKAN ' Mengapa harus bertengkar? menjadikan saya dan istri lebih introspeksi diri.
Subhanallah,,, :)
BalasHapusangga & dian
=D> prok prok prook
BalasHapus