Senin, 11 Januari 2010

2. " KEBETULAN " YANG MENGHAPUS RINDU Rindu seorang kakak terhadap adik

Usai berdzikir Yaa Khabiir, sejenak saya memperhatikan sekeliling mesjid. Betapa indah ornamen khas arsitek Islam berwarna hijau kebiru-biruan. Warna keemasan mendominasi dinding mesjid. Kontras dengan Ka'bah yang berwarna hitam sederhana, namun kharismanya tak terkalahkan oleh bangunan apapun yang ada didunia ini.

Saat memandang lurus ke Ka'bah..., astaghfirullah jelas terlihat sosok yang selama ini saya rindukan ternyata ada didekat saya...!
Dia duduk diatas sajadah khusyuk berdo'a, hanya berjarak beberapa shof didepan sebelah kanan.
Dia, adik bungsu yang selama 2 tahun terakhir memutuskan tali silaturahmi dengan saya, tiada khabar berita, apalagi datang bertandang ke tempat saya.
Saya pernah berimajinasi, suatu saat ada yang mengetuk pintu..., saat pintu dibuka, ternyata yang mengetuk pintu, ialah adik saya bersama istri dan anak-anaknya....

"Jangan bersedih jika dimusuhi " tertulis dalam buku Laa Tahzan karya fenomenal DR 'Aidh al Qarni, Jika anda selalu memberi maaf dan lapang dada maka anda akan memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat :
{ Maka barangsiapa mema'afkan dan berbuat baik pahalanya atas ( tanggungan ) Allah } . (QS Asy-syuuraa : 40) .

Namun tak dapat dipungkiri, saya bersedih pada hari Lebaran, bertemu adik yang bungsu di pekuburan Taman Pahlawan, di makam ayah, tegur sapa salam dari saya, disambut dingin, bahkan istrinya ngaleos pergi begitu saja tak ingin bersalaman.

Saya mengerti atas sikapnya yang berubah terhadap saya, penyebabnya adalah masalah warisan. Padahal kalau diingat masa lampau, saat dia sekolah dibangku SMP, saya sering menjemputnya seusai jam pelajaran. Dia berlari menghampiri saya dengan wajah gembira, duduk dibonceng diatas motor, berceloteh menceritakan kejadian dikelasnya, atau tinglah laku teman-temannya.
Saat dia duduk dibangku kuliah, diam-diam saya memberikan dana kelangsungan belajar kepada ibu untuknya...

Itu dulu dan sekarang sudah berubah, apalagi setelah timbul konflik masalah warisan bersama kakak-kakak. Saya saat itu selaku penengah ( kebetulan dalam 7 bersaudara, saya memiliki kakak 3 orang dan adik 3 orang, saya sendiri anak nomor 4, alias yang ditengah ), mengajak semua kakak beradik untuk bermusyawarah, berusaha seadil mungkin dalam pembagian warisan, mengikuti ketentuan Al Qur'an dan Hadist dan amanah dari ibu, yang jauh sebelum meninggal telah disampaikan kepada adik bungsu dan seorang kakak saya.

Dalam berkomunikasi dengan adik kakak, saya open management, siapapun boleh memberikan pendapat, keputusan berdasarkan musyawarah mufakat, tidak ada one decision maker...
Dibuat agenda rapat keluarga, dibuat notulen rapat. Ini sangat penting, karena saya ingin melaksanakan amanah dari ibu, yang isinya sungguh mensiratkan kasih sayangnya, terhadap anak-cucunya.

Pembagian warisan secara keseluruhan selesai sudah, walatra kabagean sadayana, adil semua mendapat bagiannya dengan nilai yang cukup besar untuk kami. Dalam penyelesaian warisan ini, sungguh membuat saya stress luar biasa, terkejut menghadapi sikap-sikap yang antagonis!
Mungkin saat ini, takkan ada tulisan saya disini, kalau saja waktu mengurus warisan saya tidak tahan terhadap hal-hal yang believe its or not yang membuat saya sakit terhuyung-huyung, tekanan darah mencapai 200.
Saat itu saved by some one, seorang non Muslim membawa saya ke akupuntur dan memberi obat tradisional China, butiran sebesar kelereng, saya telan! Selanjutnya saya dibawa kedokter untuk pengobatan selanjutnya. Saya harus menulis hal ini sebagai background yang ternyata ada kaitannya dengan pengalaman di tanah suci, dimana saya merindukan adik untuk bersilaturahmi.

Allah SWT Maha Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Saya memang sempat mengeluh dan bersedih berlama-lama setelah usai pembagian warisan ini.

" Jangan bersedih bila kebaikan anda tak dihargai orang, sebab yang anda cari adalah pahala dari Allah " tertulis dibuku Laa Tahzan.

" Wahai, orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan ( kepada Allah ) dengan sabar dan sholat " QS Al Baqarah 153.

" Hasbunallaah wa ni'mal wakiil "
{ Dan, cukuplah Rabb-mu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong } . ( QS Al Furqaan : 31 )



Aduuh nuhun Gusti, leres geuning.., ternyata benar fadillah Asma-ul Husna Yaa Khabiir mengantar saya untuk bertemu adik bungsu didalam mesjid ini.
Saya harus bersabar untuk dapat menemuinya, karena adzan maghrib sudah berkumandang, sebentar lagi sholat dimulai.
Mata saya yang terus memandanginya, mungkin tali batin yang kuat dari saya, menimbulkan gelombang rasa yang sampai kepadanya. Tepat menjelang takbiratul ikhram, dia menengok kearah saya. Kamipun beradu pandang, sorot matanya yang sangat tajam, tidak luruh menjadi teduh, terpancar amarah..., itulah yang dirasa oleh saya.
Astagfirullahal'adziim, namun saya memberikan senyuman, dia diam menatap keras kepada saya. Dia pasti tahu saya ada disini, karena sudah melihat saya, namun mengapa tiada reaksi?.

Selama sholat maghrib berjama'ah berlangsung, jujur saja saya merasa tidak khusyuk, ingin sholat segera usai. Saya merasakan imam terlalu berlama-lama membaca surah yang begitu panjang, aduh saya menangis diam-diam didalam sholat.
Ada hadist : " Akan datang satu masa atas manusia, mereka melakukan sholat namun pada hakikatnya mereka tidak sholat ". Ini terjadi pada diri saya yang gundah gulana diliput rasa rindu yang mendalam.
Sayapun berpasrah diri sedalam-dalamnya kepada Allah SWT. Hati kini menjadi lebih tentram.

Usai sholat maghrib, saya bergegas menemui adik saya dan bermaksud memeluknya. Bukankah ini suprise? benar Yaa Khabiir telah mengantar saya untuk bertemu adik yang sangat dirindu, disini didalam mesjid Haram.

Sampailah disebelah adik saya, dipanggil namanya cukup keras dan dia menoleh....
Masyaallah, ternyata dia bukan adik saya, bukan adik saya! padahal saya dari tadi yakin orang ini adik saya.
Saya terduduk merasa lesu dan menangis, Ya Allah dari tadi penglihatan saya cukup jelas orang ini adikku...

Ada usapan dilengan atas saya dan sebuah pertanyaan diucapkan : " Mengapa bapak menangis? dari tadi saya merasa tidak enak karena dipandang bapak terus menerus "
Saya tengadahkan kepala dan minta maaf telah mengganggu konsentrasinya dalam berdo'a. Tampaklah seorang bapak yang memang " wajahnya mirip " adik saya, namun postur tubuhnya lebih tinggi.
Saya katakan selama ini "berpisah" dengan adik bungsu karena suatu hal, dan mendapatkan dia disini, namun ternyata bukan adik saya.....
Beliau menyarankan agar saya terus berdo'a dan memohon kepada Allah SWT agar adik saya yang bungsu diberi kesehatan, keselamatan. Insyaallah suatu saat akan bertemu..., amien.

Kami bersalaman dan berpisah setelah saling memberikan nama dan alamat. Beliau Bapak Kusnadi dari kloter 73, alamat Sindang Taman, seberang kantor kecamatan Sumedang Utara, sebelum terminal. ( Pak Kusnadi kumaha damang? mudah-mudahan bisa membaca tulisan saya ini, emut keneh Bapak ngusapan abdi? ngabeberah abdi? wassalam ).

Itulah pertemuan di Masjidil Haram, antara saya dengan Bapak Kusnadi yang mirip wajahnya dengan adik saya..., suatu " Kebetulan yang menghapus rindu "








1 komentar:

  1. miss you much pap...you're my inspiration!
    thx for being my pap..
    thn2 pjg yg qt lewati bersama penuh kbahagiaan dan luka.tak akan hilang yang pernah terukir.tawa, air mata, akan menjadi kisah yg qt perdengarkan kpd cucu cicit papap nanti.mereka kan tau.cinta akan teus lestari meski dlukai.cinta akan menjembatani.cinta kan melapangkan jalan..percayalah suatu hari bintang akan jatuh dtelapak tangan qt.
    qt tak akan dberi mimpi tanpa kemampuan untuk mewujudkannya...

    BalasHapus