Siang itu surya berapi sinarnya, tiba-tiba redup langit kelam..., sepenggal syair dari lagu Bing ciptaan oleh Titiek Puspa, benar-benar terjadi pada hari Senin tanggal 15 Februari 2010 di kota Bandung. Saya pergi ke kantor pos pusat di dekat Alun-alun, untuk mengirimkan paket berisi sari kurma dan goreng jamur untuk Qiqok, cucuku di Samarinda.
Diloket pengiriman paket ada masalah, saya ditanya petugas yang cantik berbaju oranye apa isi paket kecil ini? Saya jawab apa adanya : “ Sari kurma dan goreng jamur cripsy “. Pertanyaan berikutnya apakah sari kurma berbentuk cairan?. Saya jawab “Ya”.
Tak disangka sebelumnya, ternyata ditolak dengan sedikit penjelasan kantor pos tidak melayani pengiriman paket benda cair! “ Euleuh kumaha atuh nya?” bagaimana nih? . Petugas menyerahkan kembali paket kecil sambil berkata silahkan menggunakan jasa swasta!
Didepan pintu utama kantor pos, saya berfikir sejenak dimana Titipan Kilat terdekat? Namun secepat kilat timbul fikiran untuk kembali ke loket pengiriman, tetapi bukan loket yang tadi melainkan ke loket yang lain!.
Petugasnya lebih cantik dari yang tadi, sama bertanya apa isi paket ini? Saya katakan ini kurma. Dia bertanya : “ Buah kurma? “ sambil terus mengetik bon bukti pengiriman . Saya diam tak menjawab karena sepertinya dia tidak membutuhkan jawaban yang pasti dari saya. Setelah dia menyodorkan bon, sayapun membayar Rp 27.000.- dan mengucapkan terima kasih. Aduuh, kelakuan saya ini salah! Tapi keun bae ah! Swasta juga kan bisa mengirimkan paket barang cair, mengapa disini tak bisa? .
Waktu sholat dhuhur hampir tiba, saya memutuskan sholat di Mesjid Agung saja dan segera pergi meuntas jalan naik ke jembatan penyebrangan yang kondisinya kotor, sampah dimana-mana tidak dibersihkan. Adzan berkumandang saat saya sedang mengambil wudhu. Alhamdulillah siang ini dapat melaksanakan sholat dhuhur di Mesjid Agung.
Usai sholat nampak dilangit mendung menghitam pertanda akan turun hujan lebat. “ Sedia jas hujan sebelum hujan! “. Saya cepat mengenakan jas yang berbentuk celana dan jacket berwarna biru. Benar saja hujan turun bak dicurahkan dari langit disertai kilatan petir berulang-ulang.
Jalan Banceuy, Naripan, belok kiri Braga belok kanan ke jalan Bungsu hujan semakin deras. Saya tetap mengendarai Mio diterpa air hujan belok ke Van de Venter teruus menuju Jalan Gudang Utara. Hujan semakin besar disertai angin kencang saat saya belok kekiri melalui jalan Gandapura kemudian ke kanan melalui jalan yang akan menuju SD Soka, tujuan saya untuk menjemput Icha.
“Braaak!” sepotong kayu patah dan mengenai helm saya, atuh puguh reuwas pisan! sangat kaget dan mengingatkan saya untuk berdzikir dalam hati..., Laa ilaaha ilallah berulang-ulang didalam hati.
Tiba di perempatan jalan Kemuning dan Soka, didepan toko kue Prima Rasa, ada mobil box berwarna putih. Mobil ini akan saya susul dari arah kiri, namun saya urungkan karena melihat air deras meluap dijalan Kemuning . Sejenak berhenti dan tiba-tiba batang pohon tanjung yang berada didepan toko pakaian anak, patah dan menimpa mobil box!.
Masyaallah kalau tadi nekat menyiap mobil itu dari kiri, dipastikan saya akan tertimpa batang pohon yang cukup besar. Kaki terasa lemas, saya harus berhenti meneduh. Segera membelokan motor ke kiri, ke areal parkir Prima Rasa, ada sedikit tempat didepan mobil yang sedang parkir. Disanalah saya berhenti.
“ Braak!!! “ separuh pohon besar Mahoni bagian atas patah dan jatuh ketempat yang baru saja saya tinggalkan diikuti teriakan orang-orang yang berteduh diteras Prima Rasa. Telat sekian detik kalau saya diam tidak beranjak dibawah pohon, saya pasti celaka! tertimpa batang pohon Mahoni!.
Ya Allah saya telah diberi keselamatan dan kesempatan hidup, lolos dari "dua kecelakaan tertimpa batang pohon" berturut-turut. Sungguh mencekam suasana hujan lebat disertai angin kencang dari arah utara.
Kami semua melihat arah angin berubah , yang tadi datang dari arah utara, kini dari arah barat!. Angin ini berputar-putar menuju ke timur, sebagian atap mesjid di lingkungan SD Soka diterbangkan angin kencang.
Pada saat ini disebuah kelas semua anak mengumandangkan adzan dipimpin seorang ibu guru agama, demikian disampaikan anak saya, Icha. Informasi ini mengingatkan kejadian yang sama puluhan tahun yang silam saat saya duduk dibangku kelas 4 Sekolah Rakyat, saya seusia Icha sekarang yang juga kelas 4 Sekolah Dasar. Hujan besar waktu itu bukanlah berdo'a apalagi adzan, melainkan menghunus keris pusaka dan diacungkan kearah langit.! Masyaallaah, suatu perbuatan musyrik dimasa lampau karena pengaruh dari sesorang yang sangat dekat dengan keluarga ibu. Semoga Allah mengampuni dosa keluarga saya yang dulu masih percaya kepada jampi-jampi.
Setengah jam kemudian hujan reda, menyisakan dahan-dahan pohon dan dedaunan berserakan dijalanan. Disebelah timur SD Soka sebuah pohon tumbang. Kondisi ini diliput seorang wartawan harian Tribune. Billboard besar di perapatan jalan A Yani dan Martadinata sampai bisa terlipat dua. Sebuah pohon besar tumbang menimpa atap sebuah rumah makan.
“ Angin itu adalah satu dari kemurahan Allah yang datangnya membawa rahmat (kebaikan) dan ada kalanya membawa bencana. Maka jika kamu melihat adanya angin (yang tidak baik) maka janganlah kamu memaki-makinya tetapi berdo’alah kepada Allah meminta angin yang baik dan berlindunglah kepada Allah dari angin yang jahat. ( HR Bukhari ).
kanya'ah papap karaos pisan..tak terhitung sudah berapa banyak pengorbanan papap untuk aku.apa yang sudah kuperbuat untuk membalas itu semua??...nihil...hanya bisa berharap smg aku termasuk pada golongan anak yang solehah shg doaku untuk kedua orang tuaku selalu di ijabah oleh Allah SWT amiiin..
BalasHapus